Menjadi Lebih baik dan terbaik walaupun buruk dimata orang | Doakan Orang Tua Anda | Sedekahkan harta anda Kepada Fakir Miskin dan Kaum yang tertindas | Hari ini Mungkin kematian menjemput kita tetapi maka dari itu kerjakanlah kebaikan walau di mata manusia tak ada harganya
Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Tuesday, February 20, 2018

AYAT-AYAT RUQYAH SYARIYYAH

AYAT-AYAT RUQYAH SYARIYYAH

 




 



Tuesday, February 28, 2012

PNS Hasil Menyuap

Penulis : vengky utami

Akhir-akhir ini, untuk mendapatkan pekerjaan sebagai PNS, semakin sulit, terutama di kota-kota, baik kecil maupun besar. Hal ini karena banyaknya peminat, sementara kuota yang dibutuhkan sangat sedikit.
Akhirnya, memberi kesempatan para pejabat untuk mengambil kesempatan dengan "menjual" kuota PNS tersebut kepada siapa saja yang sanggup membayar "sekian".

Masing-masing daerah mempunyai "tarif" yang berbeda, sesuai dengan tingkat golongan PNS yang "dijual". Misalnya saja untuk PNS dokter umum di daerah B*n*k*l* kota, dijual dengan harga Rp. 110.000.000,00. Padahal untuk menyelesaikan pendidikan dokter umum saja sudah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta rupiah.

Mengingat peminat yang banyak, sementara kuota sedikit, ada saja yang bersedia membayar demi mendapatkan kuota PNS tersebut. Sungguh menyedihkan. Mereka tidak berpikir bahwa yang telah dilakukan adalah tindakan haram. Lalu gaji yang diterima tentu akan haram pula. Dan seumur hidup mereka akan memakan uang haram, termasuk anak dan istri mereka.

Ada beberapa alasan mengapa perbuatan seperti itu haram. Penulis mencoba merinci alasan-alasan tersebut, meski belum semua, mungkin bisa mewakili. Berikut alasan-alasan tersebut :

1. Alasan pertama, mengapa gaji/upah dari pekerjaan yang didapatkan dengan menyuap haram adalah mendzalimi sesama? Ya, seseorang yang mendapatkan pekerjaan yang tidak seharusnya dia dapatkan dengan cara menyuap pejabat, telah mendzalimi orang lain yang seharusnya mendapatkan pekerjaan itu sesuai dengan kompetensi, pengetahuan, keahlian, dan kemampuan dirinya. Sehingga orang tersebut tetap menganggur dan tidak mempunyai penghasilan.

2. Alasan kedua adalah karena suap sama dengan melipatgandakan dosa. ALLAH SWT dan Rasulullah SAW telah mengharamkan riba dan suap-menyuap. Dengan cara menyuap untuk mendapatkan pekerjaan, maka secara tidak langsung kita telah "menabung" dosa, yang "bunga"-nya kita dapatkan setiap bulan berupa gaji/upah. Tabungan ini nanti baru akan didapatkan full di akhirat.

3. Alasan ketiga adalah karena kita mengorbankan keluarga. Bagaimana tidak, sebagai kepala rumah tangga, kita akan memberi makan anak dan istri kita dengan gaji yang kita terima. Sementara gaji yang kita dapatkan adalah haram. Lalu, tegakah kita mengorbankan anak-anak dan istri kita dengan mengajak mereka makan dari hasil uang yang haram? Bukankah ALLAH telah memerintahkan, berilah makan anak dan istrimu dengan sesuatu yang halalan thayyiban?
Apakah tidak terpikir bagaimana hasilnya anak yang diberi dengan makanan haram? Anak itu kelaknya akan menjadi ahli maksiat, kecuali ALLAH menetapkan lain dengan memberi anak tersebut hidayah-Nya.

4. Alasan keempat adalah karena akan melumrahkan suap-menyuap
susahnya mendapat pekerjaan, sementara kebutuhan ekonomi akhir-akhir ini terus meningkat. Gagalnya mendapat pekerjaan akibat ada orang yang mengambil "jatah"-nya dengan cara menyuap pejabat terkait, bisa saja membuat orang tersebut berkeinginan menyuap pula demi mendapat pekerjaan di lain kesempatan. Keadaan seperti itu, pasti akan diketahui masyarakat. Lalu masyarakat akan berbondong-bondong mencari "channel" yang bisa disuap agar bisa mendapat pekerjaan yang diinginkan. Bukankah keadaan itu disebabkan oleh orang pertama yang melakukan suap-menyuap? Kalau 1 orang pelaku suap-menyuap saja bisa menyebabkan 10 orang mengikuti tindakannya, maka bayangkan 100 tahun kemudian berapa orang yang mengikuti orang pertama tadi melakukan suap-menyuap.
Lalu, bagaimana dengan dosa orang pertama tadi? Ttentu dia akan menanggung dosa suap-menyuap ditambah dosa semua orang yang mengikuti tindakannya, tanpa mengurangi dosa orang yang bersangkutan. Orang kedua akan menanggung dosa orang ketiga dan seterusnya, orang ketiga akan menanggung dosa orang keempat dan seterusnya, tanpa mengurangi dosa orang-orang yang bersangkutan. Na'udzubillah. Ibarat MLM, maka semakin panjang daftar pengikut suap-menyuap, maka semakin besar dosa yang akan ditanggung, karena perilaku dia tadilah yang diikuti orang-orang sesudahnya.

5. Alasan kelima adalah karena dapat mengubah orientasi kerja yang awalnya ingin mengabdi menjadi orientasi uang. Ya, tentu saja. Kita akan berusaha bagaimanapun caranya harus mengembalikan "modal" kita untuk mendapat pekerjaan PNS tadi. Kita ambil contoh dokter (karena penulis adalah seorang dokter muda) yang misalnya menjadi dokter tetap di Puskesmas. Setiap tahun Puskesmas mendapat dana cukup besar dari pemerintah untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat yang diwilayahi oleh Puskesmas tersebut. Pikiran si dokter yang ingin "modal" cepat kembali tadi, bisa saja membuatnya gelap mata untuk mengkorupsikan dana yang diterima oleh Puskesmas yang ia pimpin tersebut. Si dokter tidak lagi berpikir bagaimana agar masyarakat yang diwilayahi oleh Puskesmas yang dipimpinnya dapat sehat semuanya. Siapa yang dirugikan? Tentu saja masyarakat dan negara. Apakah hal ini berdosa? Pembaca bisa menilai sendiri.

Penulis pikir, 5 hal di atas sudah dapat meluluhlantahkan kehidupan dunia. Na'udzubillah.

Marilah, mulai hari ini, jam ini, detik ini, tanamkan pada diri kita, bahwa kita tidak akan mengejar pekerjaan dengan cara menyuap.

Kata siapa PNS itu enak? Dana pensiun yang pasti-kah? Gaji tiap bulan yang pasti-kah? Dengan hanya mengandalkan gaji yang hanya 3 jutaan rupiah, tentu tidak akan membuat sesorang kaya. Wiraswastalah yang membuat orang kaya. Kalau PNS yang kaya tanpa ada penghasilan lain dari sektor swasta, pastilah dia adalah seorang koruptor.

Yakinlah pada janji ALLAH, bahwa rezeki setiap makhluk sudah diatur dan diberi jatah masing-masing. Bila kita tidak lulus PNS di kota A, mungkin ALLAH hendak meluluskan kita sebagai PNS di kota B. Bila kita tidak lulus PNS, mungkin ALLAH berencana lain agar kita sukses sebagai wiraswasta.

Wallahu a'lam.

Mohon maaf bila tulisan ini banyak salah, karena penulis hanyalah seorang manusia yang banyak salah dan khilaf.

Sunday, February 26, 2012

Did You Know: Kisah Sahabat Nabi: Abu Dzar Al-Ghifari, Tokoh Gerakan Hidup Sederhana

REPUBLIKA.CO.ID, Ia datang ke Makkah sambil terhuyung-huyung, namun sinar matanya bersinar bahagia. Memang, sulitnya perjalanan dan teriknya matahari yang menyengat tubuhnya cukup menyakitkan. Namun tujuan yang hendak dicapainya telah meringankan penderitaan dan meniupkan semangat kegembiraan.

Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah hendak melakukan thawaf mengelilingi berhala-berhala di sekitar Ka'bah, atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan.

Padahal seandainya orang-orang Makkah tahu bahwa kedatangannya itu untuk menjumpai Nabi Muhammad SAW dan mendengarkan keterangan beliau, pastilah mereka akan membunuhnya.

Ia terus melangkah sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang mengatakan tentang Rasulullah, ia pun mendekat dan menyimak dengan hati-hati. Sehingga dari cerita yang tersebar di sana-sini, diperolehnya petunjuk yang dapat mengarahkannya ke kediaman Nabi Muhammad dan mempertemukannya dengan beliau.

Pada suatu pagi, lelaki itu, Abu Dzar Al-Ghifari, pergi ke tempat tersebut. Didapatinya Rasulullah sedang duduk seorang diri. Ia mendekat kemudian menyapa, "Selamat pagi, wahai kawan sebangsa."

"Wa alaikum salam, wahai sahabat," jawab Rasulullah.

"Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!"

"Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi Al-Qur'an yang mulia," kata Rasulullah, kemudian membacakan wahyu Allah SWT.

Tak berselang lama, Abu Dzar berseru, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bahwa bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan utusan-Nya."

"Anda dari mana, kawan sebangsa?" tanya Rasulullah.

"Dari Ghifar," jawabnya.

Bibir Rasulullah menyunggingkan senyum dan wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub. Abu Dzar juga tersenyum, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik kekaguman Rasulullah setelah mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu adalah seorang laki-laki dari Ghifar.

Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tidak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi contoh perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam.

Rasulullah pun bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada yang disukainya..."

Benar, Allah menunjuki siapa saja yang Dia kehendaki. Abu Dzar adalah salah seorang yang dikehendaki-Nya memperoleh petunjuk, orang yang dipilih-Nya akan mendapat kebaikan. Ia termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Urutannya di kalangan Muslimin adalah yang kelima atau keenam. Jadi ia telah memeluk agama itu di masa-masa awal, hingga keislamannya termasuk dalam barisan terdepan.

Lelaki yang bernama Jundub bin Junadah ini termasuk seorang radikal dan revolusioner. Telah menjadi watak dan tabiatnya menentang kebatilan di mana pun ia berada. Dan kini kebatilan itu nampak di hadapannya, berhala-berhala yang disembah oleh para pemujanya—orang-orang yang merendahkan kepala dan akal mereka.

Baru saja masuk Islam, ia sudah mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya saya kerjakan menurut anda?"

"Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!" jawab Rasulullah.

"Demi Tuhan yang menguasai jiwaku," kata Abu Dzar, "Saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam di depan Ka'bah."

Ia pun menuju menuju Haram dan menyerukan syahadat dengan suara lantang. Akibatnya, ia dipukuli dan disiksa oleh orang-orang musyrik yang tengah berkumpul di sana. Rasulullah kembali menyuruhnya pulang dan menemui keluarganya. Ia pun pulang ke Bani Ghifar dan mengajak sanak kerabatnya memeluk agama baru ini.

Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah dan menetap di sana, pada suatu hari, barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota. Kalau bukan karena takbir yang mereka teriakkan dengan suara bergemuruh, tentulah yang melihat akan menyangka mereka adalah pasukan tentara musyrik yang akan menyerang kota.

Begitu rombongan besar itu mendekat, lalu masuk ke dalam kota dan masuk ke Masjid Rasulullah, ternyata mereka tiada lain adalah kabilah Bani Ghifar. Semuanya telah masuk Islam tanpa kecuali; laki-laki, perempuan, orang tua, remaja dan anak-anak.

Rasulullah semakin takjub dan kagum. Beliau bersabda, "Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar. Benar batinnya, benar juga lahirnya. Benar akidahnya, benar juga ucapannya."

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan kepadanya. "Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk diri mereka?"

Ia menjawab, "Demi Allah yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!"

"Maukah kau kutunjukkan jalan yang lebih baik dari itu? Bersabarlah hingga kau menemuiku!"

Abu Dzar akan selalu ingat wasiat guru dan Rasul ini. Ia tidak akan menggunakan ketajaman pedang terhadap para pembesar yang mengambil kekayaan dari harta rakyat sebagaimana ancamannya dulu. Namun ia juga tidak akan bungkam atau berdiam diri mengetahui kesesatan mereka.

Ketika kepemimpinan Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin telah berlalu, dan godaan harta mulai menjangkiti para pembesar dan penguasa Islam, Abu Dzar turun tangan. Ia pergi ke pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta, dengan lisannya yang tajam dan benar untuk merubah sikap dan mental mereka satu per satu.

Dalam beberapa hari saja tak ubahnya ia telah menjadi panji-panji yang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja, bahkan sampai di negeri jauh yang penduduknya pun belum pernah melihatnya. Nama Abu Dzar bagaikan terbang ke sana, dan tak satu pun daerah yang dilaluinya, bahkan walaupun baru namanya yang sampai ke sana, sudah menimbulkan rasa takut dan ngeri pihak penguasa dan golongan berharta yang berlaku curang.

Penggerak hidup sederhana ini selalu mengulang-ulang pesannya, dan bahkan diulang-ulang juga oleh para pengikutnya, seolah lagu perjuangan. "Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat!"

Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari segala kehidupan dunia. Ia menjadi maha guru dalam seni menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan.

Abu Dzar mengakhiri hidupnya di tempat sunyi bernama Rabadzah, pinggiran Madinah. Ketika menghadapi sakaratul maut, istrinya menangis di sisinya. Ia bertanya, "Apa yang kau tangiskan, padahal maut itu pasti datang?"

Istrinya menjawab, "Karena engkau akan meninggal, padahal kita tidak mempunyai kain kafan untukmu!"

"Janganlah menangis," kata Abu Dzar, "Pada suatu hari, ketika aku berada di majelis Rasulullah bersama beberapa sahabat, aku mendengar beliau bersabda, 'Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, dan disaksikan oleh serombongan orang beriman.'

Semua yang ada di majelis itu sudah meninggal di kampung, di hadapan kaum Muslimin. Tak ada lagi yang masih hidup selain aku. Inilah aku sekarang, menghadapi sakaratul maut di padang pasir. Maka perhatikanlah jalan itu, siapa tahu kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang. Demi Allah, aku tidak bohong, dan tidak juga dibohongi!"

Ruhnya pun kembali ke hadirat Ilahi... Dan benarlah, ada rombongan kaum Muslimin yang lewat yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas'ud. Sebelum sampai ke tujuan, Ibnu Mas'ud melihat sosok tubuh terbujur kaku, sedang di sisinya terdapat seorang wanita tua dan seorang anak kecil, kedua-duanya menangis.

Ketika pandangan Ibnu Mas'ud jatuh ke mayat tersebut, tampaklah Abu Dzar Al-Ghifari. Air matanya mengucur deras. Di hadapan jenazah itu, Ibnu Mas'ud berkata, "Benarlah ucapan Rasulullah, anda berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan kembali seorang diri!"

Tuesday, January 10, 2012

Barbarosa, Para Pendekar Islam Korban Propaganda Barat








Anda yang gemar membaca komik Asterix dan anda yang pernah menonton film ‘Pirates of The Carribean’, tentu ingat karakter jahat ‘Barbarossa’ bukan? Sejak zaman pertengahan, aneka macam karya fiksi Eropa dan Amerika biasa menggunakan nama Barbarossa untuk menamai karakter seorang penjahat (biasanya seorang bajak laut jahat). Kebiasaan para penulis fiksi Eropa dan Amerika yang selalu menyudutkan ini sudah saatnya kita selesaikan sampai disini. Berikut team situslakalaka menguraikannya untuk pembaca.

The Barbarosa Brothers
Pada abad ke-15 masehi, di Laut Mediterania ada dua bajak laut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia ‘per-bajak-laut-an’ dan merupakan tokoh bahari yang sangat ditakuti orang-orang Eropa pada zamannya.

Kebiasaannya ialah membajak barang-barang berharga yang diangkut oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropa yang melintasi Laut Mediterania. Awak kapal yang dibajak biasanya diberi dua pilihan; mati karena melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.

Siapakah sebenarnya Barbarossa yang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa selama berabad-abad itu? Mengapa hingga zaman sekarang nama itu terus menghantui benak dan pikiran mereka?

Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin –gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah). Jadi Barbarrossa berarti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropa kepada kakak-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki. Kedua kakak beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki.
Awal Gerakan Barbarosa
Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara brutal oleh kapal militer Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bungsu Aruj dan Khairuddin tewas terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat terpukul dengan kematian adik bungsu mereka.

Sejak saat itu, mereka melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer milik kerajaan-kerajaan Kristen. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti militer Kristen. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenal sebagai The Barbarossa Brothers Pirates karena keduanya berjanggut merah.

Kaum Eropa menyebut Barbarossa sebagai bajak laut, meskipun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol bajak laut. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau berisi kaligrafi doa Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu’miniin, ya Muhammad, empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David) karena awak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri atas orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Spanyol, serta beberapa orang Yahudi.

Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri atas pasukan gabungan Aragon DAN Spanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, jutaan orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.

PERJUANGAN JIHAD BARBAROSA
Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misi Jihad Islam. Bahu-membahu bersama sekelompok milisi bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Spanyol ke Afrika utara (Maroko, Tunisia dan Aljazair). Kemudian mereka membangun basis pertahanan laut di Aljazair untuk menghadang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestina.

Khalifah Islam saat itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita heroik Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Karena prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Angkatan Laut) Khilafah Islamiyyah untuk membenahi Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.

ADU DOMBA PIHAK SPANYOL
Pada tahun 1518 Spanyol berhasil menghasut Amir kota Tlemcen (Tilmisan) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Aljazair kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu karena ia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya ia kurang berkonsentrasi dan pasukannya kocar-kacir.

Aruj sempat lolos, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Karena hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan ia gugur dalam pertempuran tersebut.

Dengan gugurnya Aruj, kepemimpinan Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Khairuddin. Spanyol mengira bahwa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan percaya dirinya, Spanyol mengirim 20.000 tentaranya ke Aljazair. Pertempuran hebat pun terjadi, namun Khairuddin berhasil menghajar pasukan laut tersebut.

Sejarah dan Kehebatan Pasukan Janissary
Guna meminimalisir ancaman dari negeri sekitar Aljazair, selain ancaman utama Spanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kekuasaan Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Aljazair dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugasi memimpin pasukan pasukan elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.

Dalam masa kepemimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berhasil melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Spanyol yang diburu bagai hewan oleh Ferdinand II dan Pasukan Salibnya.

Pertengahan dekade 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin langsung Khalifah Sulaiman I berhasil memenangkan semua pertempuran darat. Pada saat bersamaan, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berhasil mengontrol lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Kondisi ini membuat Pasukan Salib Kristen Eropa menjadi pusing tujuh keliling.

Akhir Gemilang Barbarosa Sebelum Tutup Usia
Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Italia-Spanyol menyerang Preveza yang saat itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan menjebak Pasukan Andrea Doria di tengah untuk kemudian membombardir armada Andrea Doria habis-habisan.

Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tak mengejarnya karena ia tak ingin berperang di laut lepas, mengingat kapal-kapal armada laut Spanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.

Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Spanyol-Genoa kembali menyerang Aljazair dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim berlayar, untuk menghindari pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Aljazair di bawah komando Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Aljazair. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tak mengira bahwa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-balau.

Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghantam Laut Mediterania. Andrea Doria dan Charles V berhasil selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.

Tahun 1565, dalam usia senja, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Di dekat kuburannya didirikan masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih terawat untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin alias Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropa hingga zaman sekarang.

Pertanyaanya, mungkinkah sejarah barbarossa brother yang amat sangat ditakuti oleh orang Eropa hingga sekarang itu akan kembali terulang, siapkah pembaca situslakalaka untuk menjadi the next generation of Barbarossa ???

Friday, December 09, 2011

Lalat, Sehina Itukah Dia, atau Dia Lebih Mulia Dari Itu? Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17062/lalat-sehina-itukah-dia-atau-dia-lebih-mulia-


dakwatuna.com - Tidak ada entitas kehidupan yang tercipta sia-sia. Sadar akan hal ini, penulis berupaya menyuguhkan tulisan singkat tentang hakikat penciptaan lalat. Makhluk lemah ini sering kali dituding oleh sebagian dari mereka sebagai serangga pembawa sial, kuman penyakit, dan hewan yang cukup mengganggu. Akan tetapi, pernahkah mereka memikirkan hakikat penciptaannya?

Hampir semua jenis serangga, termasuk lalat, tidak terlihat di musim dingin, mereka nantinya muncul beterbangan di awal musim semi, tetapi sebagian dari mereka, seperti lalat hijau telah menampakkan diri di penghujung musim dingin. Tentunya, fenomena seperti ini membangkitkan selera tanya pemerhati yang berkata: “rahasia apa lagi di balik fenomena ini? Apakah di sana ada pesan-pesan kehidupan untuk manusia?”

Siklus kehidupan seperti ini menunjukkan kesempurnaan penciptaan Allah SWT. Mereka seperti bala tentara Allah yang menyeru dan berkata: “wahai manusia, khalifah Allah, jangan pernah melihat aku pada batas penciptaan semata, tetapi temukan nilai-nilai ketuhanan dan kehidupan di balik penciptaanku! Aku melukiskan seribu satu makna bagi insan-insan Rabbânî. Olehnya itu, jangan pernah mengusirku dengan begitu kasar, hanya karena aku hinggap di batang hidungmu. Aku tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu, jika Anda mengetahui hakikat-hakikat penciptaan yang aku biaskan. Boleh jadi, dengan bertenggernya aku di batang hidungmu sedetik, itu dapat menyadarkanmu dari kelalaian tentang hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan. Coba lihat dan pikirkan itu!”

Di musim panas sampah dan bangkai binatang cepat mengalami pembusukan oleh pengaruh bakteri. Olehnya itu, untuk menekan bahaya bakteri tersebut, Allah menciptakan lalat di luar perhitungan matematis sebagai pembasmi gratis terhadap kuman-kuman penyakit.

Syekh Mutawallî as-Sya’râwî dengan singkat mengatakan:

“Sebagian manusia bertanya: “apa hikmah penciptaan lalat di kosmos ini?” mereka tidak tahu bahwa lalat senantiasa memberikan layanan jasa yang sangat urgen, dia memakan kotoran dan kuman penyakit yang melengket di tubuhnya, dan seandainya manusia memproteksi diri dengan kebersihan, pasti lalat tidak mengerumuni mereka.

Jadi, setiap entitas kehidupan memerankan fungsi mereka dengan teratur. Sesungguhnya keteraturan yang apik itu datang dari Sang Pencipta yang Maha Mengetahui lagi Bijak. Dan selagi Dia yang Bijak yang menciptakan, maka tidak layak bagi mereka membantah dan berkata: “kenapa lagi dia tercipta?” Karena setiap makhluk punya tugas tersendiri di alam ini.”[1]

Sebelumnya, Bediuzzaman Said Nursi mendeskripsikan fungsi penciptaan makhluk ini dengan panjang lebar, beliau berkata:

“Sesungguhnya lalat sangat memerhatikan kebersihan, dia senantiasa membersihkan muka, mata dan sayapnya, seperti orang yang sedang berwudhu. Olehnya itu, tanpa ragu, jenis makhluk ini punya tugas penting dan mulia, tetapi kaca mata hikmah dan ilmu manusia tidak mampu menangkap semua fungsi yang sedang dilaksanakan.

Di antara hewan yang diciptakan Allah binatang buas, pemakan daging (karnivor). Mereka seperti petugas kebersihan yang menjalankan tugas dengan begitu sempurna. Dengan melahap bangkai binatang darat dan laut, mereka telah menjaga kebersihan laut dan udara dari polusi.

Di lain sisi, di sana ada burung-burung pemangsa yang siap mencengkeram bangkai binatang laut dan darat sebelum membusuk. Dengan desain indera perasa yang Allah ciptakan terhadapnya, mereka mampu menangkap sinyal bangkai dari jarak tempuh sekitar 6 jam perjalanan. Seandainya petugas kebersihan ini tidak ada, dunia sungguh menyedihkan dan wajah laut murung tidak berseri.

Tidak jauh dari itu, lalat punya fungsi serupa. Serangga ini telah diformat khusus untuk membasmi kuman penyakit yang tidak terlihat oleh kasat mata. Dia bukan pembawa kuman, melainkan dia penghancur pelbagai basil yang berbahaya dengan memakan dan mendaur ulang materi beracun ini menjadi materi lain, sehingga dengan sendirinya penyakit-penyakit pun tidak tersebar dalam skala besar dan menakutkan.

Bukti nyata bahwa mereka makhluk petugas kebersihan, pembasmi bahan-bahan kimia yang mengancam, dan keberadaannya penuh dengan hikmah, adalah jumlahnya yang tidak terhitung di musim panas. Bukankah materi yang bermanfaat itu diperbanyak kopiannya?”[2]

Yang menarik lagi dari hewan ini, justifikasi hukum dari hadits bahwa spesies ini, meskipun datang dari kotoran, tetapi ia diperlengkapi dengan anti-bakteri. Ini telah ditegaskan sabda Nabi Saw berikut ini:

(إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثم لْيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِى الآخَرِ دَاءً).

“Jika lalat jatuh di tempat minum (gelas) salah seorang dari kalian, maka celupkan semua tubuhnya. Sesungguhnya di salah satu sayapnya ada obat, dan di sayap lain ada penyakit.”[3]

Jika Anda bertanya dan berkata: “Apakah mungkin lalat punya anti-bakteri, sementara, dia hidup di kotoran? Tolong buktikan dengan dalil-dalil ilmiah?”

Kebenaran medis Nabi Saw tersebut, yang diingkari oleh sebagian orientalis, telah dibuktikan oleh kedokteran kuno dan modern.

Imam Ibn Qutaiba berkata:

“Ahli medis kuno menganggap bahwa lalat yang diaduk dengan serbuk antimon [4] dapat menjadi ramuan celak yang ampuh mempertajam penglihatan dan mempertebal pertumbuhan bulu-bulu mata.”[5]

Olehnya itu, bagi Imam Ibn Qayyîm sendiri, hadits ini tidak patut diingkari oleh mereka, karena bukan hanya lalat saja seperti ini, tetapi ular, lebah dan yang lain punya mekanisme serupa. Beliau menjelaskan:

“Sebagian dari mereka merasa aneh terhadap penyakit dan obat yang ditemukan dalam satu makhluk. Itu bukanlah keanehan, sesungguhnya mulut lebah membawa madu dan pantatnya menyimpan sengat, bisa ular dapat dilumpuhkan dengan ramuan Tiryak (pengobatan kuno yang komposisinya terdiri dari bisa dan serbuk daging ular yang dicampur dan diaduk rata), dan mereka menyarankan kepada korban yang mukanya digigit anjing untuk ditutupi. Karena jika lalat hinggap, penyakitnya dapat bertambah parah.”[6]

Dunia medis modern pun telah menemukan hal yang tidak jauh beda dari penemuan di atas. Ini dapat dilihat di laporan medis mereka berikut ini:

Karena tabiat lalat yang tercipta di lingkungan kotor, maka sebagian kotoran tersebut melengket di tubuhnya, dan sebagian lain dimakan, yang kemudian menjadi materi beracun yang lebih dikenal dengan anti-bakteri (bakterionag). Zat beracun tidak dapat bertahan hidup, atau punya pengaruh terhadap kekebalan tubuh selama anti-bakteri ini ada di tubuh lalat. Olehnya itu, jika seekor lalat yang membawa kuman penyakit jatuh di makanan dan minuman, maka pemusnah kuman yang paling ampuh anti-bakteri yang tersimpan di rongga dalam lalat itu sendiri yang dekat di salah satu sayapnya. Tentunya, dengan mencelupkan semua tubuh lalat cukup untuk membunuh kuman-kuman yang melengket di tubuhnya. Hal ini telah dibuktikan medis barat.[7]

Pendek kata, medis kenabian telah terbukti kebenarannya oleh medis kuno dan modern. Tidak ada celah bagi mereka yang ingin menuding teks-teks Islam sebagai teks agama yang tidak riil dan relevan dengan dunia nyata. Ini mengindikasikan kebesaran dan keagungan Sang Maha Penguasa, yang ciptaan- ciptaan-Nya dapat menjadi guru tersendiri bagi mereka yang ingin menangkap bisikan-bisikan hakikat penciptaan dan kehidupan.

Keurgensian makhluk ini tidak berhenti di sini saja, tetapi ia diabadikan sebagai bahan baku celaan Al-Qur’an terhadap orang-orang musyrik. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ ﴿٧٣﴾

“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj [22]: 73)

Hemat penulis, lalat makhluk yang paling lemah, tetapi ia mengetahui kelemahannya. Di lain sisi, penyembah berhala, makhluk lemah, tidak menyadari kelemahannya, bahkan ia memberikan justifikasi ketuhanan kepada berhala-berhala yang tidak punya kekuatan sedikit pun. Olehnya itu, kelemahan yang disadari dan diposisikan pada tempatnya lebih baik dari sejuta kesombongan dan keangkuhan yang menyengsarakan.

Sesungguhnya apa yang mereka anggap kuat, hakikatnya lemah di hadapan Allah, penyembah dan sembahan tidak dapat mengembalikan sesuatu yang telah dirampas lalat dari mereka. [8] Apa lagi jika mereka diminta menciptakan makhluk ajaib ini. Sungguh, itu cemooh yang mencoreng muka mereka di hadapan seluruh entitas kehidupan, celaan yang meninggalkan pilu dan malu. [9]

Demikianlah telaah imaniah singkat tentang justifikasi negatif terhadap lalat yang jauh dari nilai-nilai keimanan, hewan yang menyimpan seribu satu keajaiban penciptaan.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman menyimpulkan apa yang dipaparkan di atas:

“Telaah rahasia-rahasia penciptaan lalat dengan penuh keimanan! ia lemah tapi tidak sombong, dengan kelemahan dia menjadi kuat, makhluk yang melukiskan keagungan penciptaan yang tidak terhingga, petugas kebersihan harian umat manusia yang tidak disadari. Mereka tidak pernah meminta gaji, yang mereka inginkan hanyalah kesadaran manusia untuk menjadikan mereka objek telaah imaniah yang menyuguhkan aneka ragam makna kehidupan dan ketuhanan. Dia tidak kotor meski dari tempat kotor, tidak membawa kuman kecuali obatnya telah siap, dan dia senantiasa menyeru Anda untuk menjaga kebersihan. Subhanallah wa Alhamdulillah!”



Catatan Kaki:

[1] Tafsir as-Sya’râwî, vol. 2, hlm. 699

[2] Lihat: Ustadz Bediuzzaman Said Nursi, Masâil Daqîqah fi al-Ushûl wa al-Aqîdah, diterjemahkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Sözler Publication, cet. 2, 2003 M, hlm. 7-9

[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra., dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari di Shahihnya, kitab at-Tib, bab Isâ waqaa adz-Zubâb fi Inâi Ahadikum, hadits, no: 5782, hlm. 1594

[4] antimon: logam berwarna putih perak yang mudah dihancurkan menjadi serbuk dan dicampur dengan logam-logam lain; batu serawak. [Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, cet. 3, 1990 M, hlm. 43]

[5] Imam Abî Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah, Ta’wîl Mukhtalafil Hadîts, ditahkik oleh Muhammad Muhyiddin al-Ashfar, al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. 2, 1419 H/1999 M, hlm. 335-336

[6] Imam Ibn Qayyîm al-Jauzî, al-Musykil min Hadîts as-Shahîhain, ditakhkik oleh DR. Ali Husain al-Bawwâb, Dar al-Wathan, cet. 1, 1418 H/1997 M, hadits, no: 2076/2581, vol. 3, hlm. 547

[7] Lihat: Musykilât al-Ahâdîts an-Nabawiyyah wa Bayânuhâ, vol. 1, hlm. 54

[8] yang dirampas dari mereka adalah sesajen yang dipersembahkan khusus untuk berhala-berhala. Kebanyakan mufassir menafsirkannya sebagai wangi-wangian dan madu yang dioleskan di bagian kepala patung-patung tersebut. Di lain sisi, Syekh as-Sya’râwî menafsirkannya dengan makanan dan darah hewan (korban) yang disembelih di dekat berhala-berhala mereka. [lihat: Abû Hayyan at-
Tauhîdî, al-Bahru al-Muhîth, vol. 6, hlm. 360, dan Tafsir as-Sya'râwî, vol. 16, hlm. 9933-9934]

[9] Lihat: Syekh Abîs as-Suûd al-Imâdî, Tafsir Abî as-Suûd, vol. 4, hlm. 397-398, dan Syekh Muhammad Thâhîr bin Ãsyûr, at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 17, hlm. 340

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17062/lalat-sehina-itukah-dia-atau-dia-lebih-mulia-dari-itu/#ixzz1g2YXnCjx

Sunday, November 27, 2011

[MIRIS GAN] Sebuah surat dari pejuang Hamas ( Gaza ) untuk negri Indonesia











Posted by
gogoklik





“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.



Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.
Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.



Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!
Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.
Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.

Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.



Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!

Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.

Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di Indonesia,

Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.


Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.

Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.

Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.
Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini.

Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur.

Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.

Sunday, November 06, 2011

Istiqamah seorang bintang

Oleh Fathuddin Ja'far, MA



Ketika ayat-ayat Alquran sudah melekat kuat dalam hati seseorang, tidak seorang pun yang dapat mengubah keyakinan tersebut. Walaupun hal itu harus mengorbankan karir, ketenaran, dan sebagainya.


Untuk menjadi bintang top dunia, khususnya di bidang olah raga, seseorang yang sudah mendapat hidayah Allah swt. tidak harus melepas jati diri sebagai Muslim taat. Bila iman sudah menancap ke dalam lubuk hati seorang Muslim, uang, harta, ketenaran dan berbagai tawaran dunia yang menggiurkan tidaklah sebanding nilainya dengan jati diri sebagai Muslim taat.


Paling tidak, inilah yang dirasakan oleh beberapa bintang top Muslim di dunia olah raga :




1. Sari Al-Shoq, pemain team basket wanita Swis kenamaan berumur 19 tahun yang berasal dari Irak ini, lebih memilih hengkang dari dunia basket yang sangat ia cintai ketimbang melepas kerudungnya. Salut mbak Sari!



2. Marwan Al-Shemakh. Penyerang team sepak bola Bordure Perancis asal Maroko ini terkenal dengan akhlaknya yang mulia. Dia menolak terbang ke Palestina di mana Yahudi mendirikan Negara Israel di sana untuk berlaga dengan team sepak bola Mukaby Heifa dalam putaran piala Eropa. Ia lebih memilih istirahat ketimbang bermain satu lapangan dengan musuh Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin. Ini adalah sikap mulia yang perlu dicontoh oleh para pemimpin dan tokoh umat Islam hari ini. Baro’ (berlepas diri) dari musuh-mush Allah itu bagian dari akidah Islam pak... Mungkin begitu yang tersirat dalam hatinya..



3. Amir Khan memenangkan pertarungan melawan rasis. Hatinya sangat terluka saat mendengar teriakan berbau rasisme yang dilontarkan para penonton saat dia bertanding di atas ring karena ia berkulit coklat dan beragama Islam. Sebagai seorang petinju Muslim, teriakan jahiliyah itu tidak lantas ia balas dengan jahiliyah pula. Namun ia buktikan dengan professionalisme di atas ring. Iapun berhasil mengalahkan dan mengkanfaskan lawannya seorang Yahudi ultra rasialis asal Amerika, Dmitry Salita. Terhinalah seorang Yahudi di hadapan ribuan pendukungnya sendiri. Lalu, Amir Khanpun berhak menyandang gelar juara tinju dunia 2009.



4. Para pemain Muslim di club Cartel Bebel menolak bertanding dengan team Paris Foot Gay yang semua pemainnya adalah para gay. Mereka siap dideportasi dari Prancis. Bahkan mereka menulis surat protes sambil menjelaskan bahwa akidah dan keyakinan mereka lebih penting dari pertandingan sepak bola. Mampukah para pemain Muslim di negeri ini bersikap seperti itu?



5. Lain lagi dengan Kanuti. Sebagaimana kebiasaanya, ia tetap berpuasa kendati sedang bertanding sekalipun. Padahal fatwa boleh berbuka di bulan puasa bagi Muslim yang profesi mereka olahraga dan digantikan pada bulan yang lain saat mereka istirahat. Namun, Fredrik Omar Kanuti ini tetap saja berpuasa di bulan Ramadhan tahun lalu. Saat di tanya kenapa, dengan enteng ia menjawabanya : Puasa memberi saya kekuatan lahir dan batin. Sebagai seorang penyerang di salah satu grup sepak bola Spanyol ternama, tentulah ia berlimpah uang karena bayaran yang sangat mahal. Namun, jati diri sebagai Muslim tidak pernah ia tinggalkan, seperti berpuasa Ramadhan, berdoa’a sebelum bermain dan ucapan syukur setelah mencetak goal, berzikir sedang bermain, shalat di awal waktu di manapun ia berada dan sebagainya.



Selamat berjuang wahai pahlawan Islam. Semoga kalian menjadi teladan para pemimpin dunia Islam dan generasi mudanya....

Wednesday, September 14, 2011

Al-Ma'tsurat

أَعُوذُبِالُّلهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ (3) مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ (7)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai Hari Pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ (3) والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) )البقرة (1-5
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif laam mim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.


اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (البقرة : 255)
لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (البقرة : 256)
اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (البقرة : 257)

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (255)
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (256)
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (257).


لِّلَّهِ ما فِي السَّمَاواتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِن تُبْدُواْ مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللّهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاء وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاء وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286) )البقرة (284-286 :

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.". Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."






*بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

*بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki."

*بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ (6)

Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

*أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ (أَمْسَيْنَا وَأَمْسَ) الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ لاَشَرِيْكَ لَهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ وَ إِلِيْهِ النُّشُوْرُ (المَصِيْرُ)
Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagiNya, tiada Tuhan melainkan Dia dan kepadaNya tempat kembali.

*أَصْبَحْنَا (أَمْسَيْنَا) عَلَى فِطْرَةِ الإِْسْلاَمِ وَكَلِمَةِ الإِْخْلاَصِ وَعَلَى دِيِنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللِّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Kami berpagi hari di atas fitrah islam, di atas kata keikhlasan, di atas agama Nabi kami Muhammad saw, dan di atas millah bapak kami Ibrahim yang hanif. Dia bukan termasuk golongan orang-orang yang musyrik.


*اَللَّهُمَّ إِنِّىْ أَصْبَحْتُ (أَمْسَيْتُ) مِنْكَ فِىْ نِعْمَةٍ َعَافِيَة وَسِتْرٍ فَأَتِمَّ عَلَىَّ نِعْمَتَكَ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِى الدُّنْيَا َالآخِرَةِ
Ya Allah, sesungguhnya aku berpagi hari dariMu dalam kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan. Maka sempurnakanlah untukku kenikmatan, kesehatan, dan perlindunganMu itu, di dunia dan akhirat.


*اَللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ (أَمْسَ) بِىْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍمِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
Ya Allah, segala kenikmatan yang berpagi hari (terjadi) bersamaku atau bersama salah seorang dari makhlukMu, adalah dariMu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagiMu segala puji dan syukur.

*يَارَبِّى لَكَ الْحَمْدُ َمَا َنْبَغِىْ ِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
Ya Rabbi, bagiMu segala puji sebagaimana seyogyanya bagi kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasaanMu.

*رَضِيْتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِْسْلاَمِ دِيْنًا وَبِحَمَّدٍ نَبِيًا وَ رَسُوْلاً
Aku rela dengan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi dan Rasul.

*سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Mahasuci Allah dan dengan memujiNya sejumlah makhlukNya, sekerelaan diriNya, seberat ‘Arasy-Nya dan sebanyak tinta bagi kata-kata-Nya.

*بِسْمِ اللَّهِ الَّذِىلاَ يَضُرُّمَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى اْلأَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak akan membahayakan sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit. Dan Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.


*اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَ َسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui.


*أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Aku berlindung dengan kalimatullah yang sempurna, dari kejahatan (makhluk) yang Dia ciptakan.

*اَللَّهُمَّ إِنِّىْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِوَالْكَسَلِ وأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِالرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan orang.

*اَللَّهُمَّ عَافِنِىْ فِىْ بَدَنِىْ اَللَّهُمَّ عَافِنِىْ فِى سَمْعِى اَللَّهُمَّ عَافِنِىْ فِى بَصَرِىْ
Ya Allah, sehatkan badanku, Ya Allah sehatkan pendengaranku, Ya Allah, sehatkan penglihatanku.


*اَللَّهُمَّ إِنِّىْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اَللَّهُمَّ إِنِّىْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ عَذَابِ الْقَبْرِ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.


*اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِىْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِىْ فَاغْفِرْلِىْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّأَنْتَ
Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji-Mu, semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat-Mu (yang Engkau anugerahkan) kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau.

*أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِىْ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّوْمُ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ
Aku mohon ampun kepada Allah, yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maha Hidup kekal dan senantiasa mengurus (makhluk-Nya) dan kepada-Nya aku bertaubat.

Membaca shalawat kepada nabi Muhammad saw dan nabi Ibrahim as, seperti bacaan saat duduk tasyahud akhir, sebanyak 3 kali.

*سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Mahabesar.


*اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِىِّ ا ْلأُمِّىِّ وَعَلَى الِهِ وِصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا عَدَدَ مَا أَحَادَ بِهِ عِلْمُكَ وَخَطَّ بِهِ قَلَمُكَ وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ وَ عَلِىٍّ وَ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَ عَنِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Ya Allah berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, hamba-Mu, nabi-Mu, dan Rasul-Mu, Nabi yang ummi. Juga kepada keluarga dan para shabatnya serta berilah keselamatan sebanyak yang terjangkau oleh ilmu-Mu; yang tergores oleh pena-Mu; dan yang terangkum oleh kitab-Mu. Ridhailah ya Allah, para pemimpin kami: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, semua sahabat, semua tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari pembalasan. Mahasuci Rabbmu; Rabb kemuliaan, dari apa-apa yang mereka sifatkan. Keselamatan semoga tercurah kepada para utusan dan segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam.

اَللَّهُمَّ إِنَّانَسْأَلُكَ لِسَانًا رَطِبًا بِذِكْرِكَ وَقَلْبًا مَفْعُمًا بِشُكْرِكَ وَبَدَنًا هَيِّنًا لَيِّنًا بِطَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَنَسْأَلُكَ قَلْبًاخَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَفِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ وَهَبْ لَنَا حَقِيْقَةَ الإِْيْمَانِ بِكَ حَتَّى لاَ نَخَافَ وَلاَ نَرْجُوْ غَيْرَكَ وَلاَ نَعْبُدَ شَيْئًا سِوَاكَ وَاجْعَلْ يَدَكَ مَبْسُوْطَةً عَلَيْنَا وَعَلَى أَهْلِيْنَا وَأَوْ لاَ دِنَا وَمَنْ مَعَنَا بِرَحْمَتِكَ وَلاَ تَكِّلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلاَ أَقَلَّ مِنْ ذَالِكَ يَا نِعْمَ الْمُجِيْبُ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى اَلهِ وَصَحْبِهِ وَعَلَى اَلهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعَيْنَ.
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26) تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ (27) (آل عمران:7-26)
أَللَّهُمَّ إِنَّ هذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغَفِرْلِى.
Katakanlah, “Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa saja yang Engkau kehendaki tanpa hisab.

Kemudian berusaha menghaidrkan wajah-wajah para akh (saudara) dalam benaknya dan merasakan adanya hubungan batin antara dia dengan mereka (meski tidak dikenalnya), kemudian membaca doa sebagai berikut :


أَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ قَدِاجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكْ وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نَصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَاَدِمْ وُدَّهَا وَاهْدِهَا سُبُلَهَا وَامْلأَهَا بِنُوْرِكَ الَّذِىْ لاَيَخْبُوْا وَ اشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الإِْيْمَانِ بِكَ وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَأَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِىْ سَبِيْلِكَ إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ اَللَّهُمَّ آمِيْنُ صَلِّى اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam dakwah-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.

Friday, September 09, 2011

SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT

Sifat 20 Allah swt

1. Wujud : Artinya Ada

Yaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Ta’ala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Maka wujud ( Ada ) – disisi Imam Fakhru Razi dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi bukan ia a’in maujud dan bukan lain daripada a’in maujud , maka atas qaul ini adalah wujud itu Haliyyah ( yang menepati antara ada dengan tiada) . Tetapi pada pendapat Imam Abu Hassan Al-Ashaari wujud itu ‘ain Al-maujud , karena wujud itu zat maujud karena tidak disebutkan wujud melainkan kepada zat. Kepercayaan bahwa wujudnya Allah SWT. bukan saja di sisi agama Islam tetapi semua kepercayaan di dalam dunia ini mengaku menyatakan Tuhan itu ada. Firman Allah SWT. yang bermaksud :

” Dan jika kamu tanya orang-orang kafir itu siapa yang menjadikan langit dan bumi nescaya berkata mereka itu Allah yang menjadikan……………” ( Surah Luqman : Ayat 25 )


2. Qidam : Artinya Sedia

Pada hakikatnya menafikan ada permulaan wujud Allah SWT karena Allah SWT. menjadikan tiap-tiap suatu yang ada, yang demikian tidak dapat tidak keadaannya lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu itu. Jika sekiranya Allah Ta’ala tidak lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu, maka hukumnya adalah mustahil dan batil. Maka apabila disebut Allah SWT. bersifat Qidam maka jadilah ia qadim. Di dalam Ilmu Tauhid ada satu perkataan yang sama maknanya dengan Qadim Yaitu Azali. Setengah ulama menyatakan bahwa kedua-dua perkataan ini sama maknanya Yaitu sesuatu yang tiada permulaan baginya. Maka qadim itu khas dan azali itu am. Dan bagi tiap-tiap qadim itu azali tetapi tidak boleh sebaliknya, Yaitu tiap-tiap azali tidak boleh disebut qadim. Adalah qadim dengan nisbah kepada nama terbahagi kepada empat bagian :

· Qadim Sifati ( Tiada permulaan sifat Allah Ta’ala )

· Qadim Zati ( Tiada permulaan zat Allah Ta’ala )

· Qadim Idhafi ( Terdahulu sesuatu atas sesuatu seperti terdahulu bapa nisbah kepada anak )

· Qadim Zamani ( Lalu masa atas sesuatu sekurang-kurangnya satu tahun )

Maka Qadim Haqiqi ( Qadim Sifati dan Qadim Zati ) tidak harus dikatakan lain daripada Allah Ta’ala.

3. Baqa’ : Artinya Kekal

Sentiasa ada, kekal ada dan tiada akhirnya Allah SWT . Pada hakikatnya ialah menafikan ada kesudahan bagi wujud Allah Ta’ala. Adapun yang lain daripada Allah Ta’ala , ada yang kekal dan tidak binasa Selama-lamanya tetapi bukan dinamakan kekal yang hakiki ( yang sebenar ) Bahkan kekal yang aradhi ( yang mendatang jua seperti Arasy, Luh Mahfuz, Qalam, Kursi, Roh, Syurga, Neraka, jisim atau jasad para Nabi dan Rasul ). Perkara –perkara tersebut kekal secara mendatang tatkala ia bertakluq dengan Sifat dan Qudrat dan Iradat Allah Ta’ala pada mengekalkannya. Segala jisim semuanya binasa melainkan ‘ajbu Az-zanabi ( tulang kecil seperti biji sawi letaknya di tungking manusia, itulah benih anak Adam ketika bangkit daripada kubur kelak ). Jasad semua nabi-nabi dan jasad orang-orang syahid berjihad Fi Sabilillah yang mana ianya adalah kekal aradhi jua. Disini nyatalah perkara yang diiktibarkan permulaan dan kesudahan itu terbahagi kepada 3 bagian :

· Tiada permulaan dan tiada kesudahan Yaitu zat dan sifat Alllah SWT.

· Ada permulaan tetapi tiada kesudahan Yaitu seperti Arash, Luh Mahfuz , syurga dan lain-lain lagi.

· Ada permulaan dan ada kesudahan Yaitu segala makhluk yang lain daripada perkara yang diatas tadi ( Kedua ).

4. Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.

Pada zat , sifat atau perbuatannya sama ada yang baru , yang telahada atau yang belum ada. Pada hakikat nya adalah menafikan Allah Ta’ala menyerupai dengan yang baharu pada zatnya , sifatnya atau perbuatannya. Sesungguhnya zat Allah Ta’ala bukannya berjirim dan bukan aradh Dan tiada sesekali zatnya berdarah , berdaging , bertulang dan juga bukan jenis leburan , tumbuh-tumbuhan , tiada berpihak ,tiada bertempat dan tiada dalam masa. Dan sesungguhnya sifat Allah Ta’ala itu tiada bersamaan dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala itu qadim lagi azali dan melengkapi ta’aluqnya. Sifat Sama’ ( Maha Mendengar ) bagi Allah Ta’ala berta’aluq ia pada segala maujudat tetapi bagi mendengar pada makhluk hanya pada suara saja. Sesungguhnya di dalam Al-Quraan dan Al-Hadith yang menyebut muka dan tangan Allah SWT. , maka perkataan itu hendaklah kita iktiqadkan thabit ( tetap ) secara yang layak dengan Allah Ta’ala Yang Maha Suci daripada berjisim dan Maha Suci Allah Ta’ala bersifat dengan segala sifat yang baharu.

5. Qiyamuhu Ta’ala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya .

Tidak berkehendak kepada tempat berdiri ( pada zat ) dan tidak berkehendak kepada yang menjadikannya Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan Allah SWT. berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya. Allah SWT itu terkaya dan tidak berhajat kepada sesuatu sama adapada perbuatannya atau hukumannya. Allah SWT menjadikan tiap-tiap sesuatu dan mengadakan undang-undang semuanya untuk faedah dan maslahah yang kembali kepada sekalian makhluk . Allah SWT menjadikan sesuatu ( segala makhluk ) adalah karena kelebihan dan belas kasihannya bukan berhajat kepada faedah. Allah SWT. Maha Terkaya daripada mengambil apa-apa manafaat di atas kataatan hamba-hambanya dan tidak sesekali menjadi mudharat kepada Allah Ta’ala atas sebab kemaksiatan dan kemungkaran hamba-hambanya. Apa yang diperintahkan atau ditegah pada hamba-hambanya adalah perkara yang kembali faedah dan manafaatnya kepada hamba-hambaNya jua. Firman Allah SWT. yang bermaksud :

” Barangsiapa berbuat amal yang soleh ( baik ) maka pahalanya itu pada dirinya jua dan barangsiapa berbuat jahat maka balasannya (siksaannya ) itu tertanggung ke atas dirinya jua “. ( Surah Fussilat : Ayat 46 ). Syeikh Suhaimi r.a.h berkata adalah segala yang maujudat itu dengan nisbah berkehendak kepada tempat dan kepada yang menjadikannya, terbahagi kepada empat bagian :

· Terkaya daripada tempat berdiri dan daripada yang menjadikannya Yaitu zat Allah SWT.

· Berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya Yaitu segala aradh ( segala sifat yang baharu ).

· Terkaya daripada zat tempat berdiri tetapi berkehendak kepada yang menjadikannya Yaitu segala jirim. ( Segala zat yang baharu ) .

· Terkaya daripada yang menjadikannya dan berdiri ia pada zat Yaitu sifat Allah Ta’ala.

6. Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Ta’ala pada zat, pada sifat & pada perbuatan.

Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan berbilang pada zat, pada sifat dan pada perbuatan sama ada bilangan yang muttasil (yang berhubung ) atau bilangan yang munfasil ( yang bercerai ).

Makna Esa Allah SWT pada zat itu Yaitu menafikan Kam Muttasil pada Zat ( menafikan bilangan yang berhubung dengan zat ) seperti tiada zat Allah Ta’ala tersusun daripada darah , daging , tulang ,urat dan lain-lain. Dan menafikan Kam Munfasil pada zat ( menafikan bilangan yang bercerai pada zat Allah Ta’ala )seperti tiada zat yang lain menyamai zat Allah Ta’ala.

Makna Esa Allah SWT pada sifat Yaitu menafikan Kam muttasil pada Sifat ( menafikan bilangan yang berhubung pada sifatnya ) Yaitu tidak sekali-kali bagi Allah Ta’ala pada satu-satu jenis sifatnya dua qudrat dan menafikan Kam Munfasil pada sifat ( menafikan bilangan –bilangan yang bercerai pada sifat ) Yaitu tidak ada sifat yang lain menyamai sebagaimana sifat Allah SWT. yang Maha Sempurna.

Makna Esa Allah SWT pada perbuatan Yaitu menafikan Kam Muttasil pada perbuatan ( menafikan bilangan yang bercerai–cerai pada perbuatan ) Yaitu tidak ada perbuatan yang lain menyamai seperti perbuatan Allah bahkan segala apa yang berlaku di dalam alam semuanya perbuatan Allah SWT sama ada perbuatan itu baik rupanya dan hakikatnya seperti iman dan taat atau jahat rupanya tiada pada hakikat-nya seperti kufur dan maksiat sama ada perbuatan dirinya atau perbuatan yang lainnya ,semuanya perbuatan Allah SWT dan tidak sekali-kali hamba mempunyai perbuatan pada hakikatnya hanya pada usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas. Maka wajiblah bagi Allah Ta’ala bersifat Wahdaniyyah dan ternafi bagi Kam yang lima itu Yaitu :

1. Kam Muttasil pada zat.

2. Kam Munfasil pada zat.

3. Kam Muttasil pada sifat.

4. Kam Munfasil pada sifat.

5. Kam Munfasil pada perbuatan.

Maka tiada zat yang lain , sifat yang lain dan perbuatan yang lain menyamai dengan zat , sifat dan perbuatan Allah SWT . Dan tertolak segala kepercayaan-kepercayaan yang membawa kepada menyekutukan Allah Ta’ala dan perkara-perkara yang menjejaskan serta merusakkan iman.

7. Al – Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT.

Memberi bekas pada mengadakan meniadakan tiap-tiap sesuatu. Pada hakikatnya ialah satu sifat yang qadim lagi azali yang thabit ( tetap ) berdiri pada zat Allah SWT. yang mengadakan tiap-tiap yang ada dan meniadakan tiap-tiap yang tiada bersetuju dengan iradah. Adalah bagi manusia itu usaha dan ikhtiar tidak boleh memberi bekas pada mengadakan atau meniadakan , hanya usaha dan ikhtiar pada jalan menjayakan sesuatu . Kepercayaan dan iktiqad manusia di dalam perkara ini berbagai-bagaiFikiran dan fahaman seterusnya membawa berbagai-bagai kepercayaan dan iktiqad.

a. Iktiqad Qadariah :

Perkataan qadariah Yaitu nisbah kepada qudrat . Maksudnya orang yang beriktiqad akan segala perbuatan yang dilakukan manusia itu sama ada baik atau jahat semuanya terbit atau berpunca daripada usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri dan sedikitpun tiada bersangkut-paut dengan kuasa Allah SWT.

b. Iktiqad Jabariah :

Perkataan Jabariah itu nisbah kepada Jabar ( Tergagah ) dan maksudnya orang yang beriktiqad manusia dan makhluk bergantung kepada qadak dan qadar Allah semata-mata ( tiada usaha dan ikhtiar atau boleh memilih samasekali ).

c. Iktiqad Ahli Sunnah Wal – Jamaah :

Perkataan Ahli Sunnah Wal Jamaahialah orang yang mengikut perjalanan Nabi dan perjalanan orang-orang Islam Yaitu beriktiqad bahwa hamba itu tidak digagahi semata-mata dan tidak memberi bekas segala perbuatan yang disengajanya, tetapi ada perbuatan yang di sengaja pada zahir itu yang dikatakan usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas sebenarnya sengaja hamba itu daripada Allah Ta;ala jua. Maka pada segala makhluk ada usaha dan ikhtiar pada zahir dan tergagah pada batin dan ikhtiar serta usaha hamba adalah tempat pergantungan taklif ( hukum ) ke atasnya dengan suruhan dan tegahan ( ada pahala dan dosa ).

8. Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Ta’ala.

Maksudnya menentukan segala mumkin ttg adanya atau tiadanya. Sebenarnya adalah sifat yang qadim lagi azali thabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala yang menentukan segala perkara yang harus atau setengah yang harus atas mumkin . Maka Allah Ta’ala yang selayaknya menghendaki tiap-tiap sesuatu apa yang diperbuatnya. Umat Islam beriktiqad akan segala hal yang telah berlaku dan yang akan berlaku adalah dengan mendapat ketentuan daripada Allah Ta’ala tentang rezeki , umur , baik , jahat , kaya , miskin dan sebagainya serta wajib pula beriktiqad manusia ada mempunyai nasib ( bagian ) di dalam dunia ini sebagaimana firman Allah SWT. yang bermaksud : ” Janganlah kamu lupakan nasib ( bagian ) kamudi dalam dunia ” . (Surah Al – Qasash : Ayat 77). Kesimpulannya ialah umat Islam mestilah bersungguh-sungguh untuk kemajuan di dunia dan akhirat di mana menjunjung titah perintah Allah Ta’aladan menjauhi akan segala larangan dan tegahannyadan bermohon dan berserah kepada Allah SWT.

9. ‘Ilmu : Artinya : Mengetahui Allah Ta’ala .

Maksudnya nyata dan terang meliputi tiap-tiap sesuatu sama ada yangMaujud (ada) atau yang Ma’adum ( tiada ). Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada ( thabit ) qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Mengetahui akan segala sesuatu sama ada perkara. Itu tersembunyi atau rahasia dan juga yang terang dan nyata. Maka ’ilmu Allah Ta’ala Maha Luas meliputi tiap-tiap sesuatu diAlam yang fana’ ini.


10. Hayat . Artinya : Hidup Allah Ta’ala.

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala . Segala sifat yang ada berdiri pada zat daripada sifat Idrak ( pendapat ) Yaitu : sifat qudrat, iradat , Ilmu , Sama’ Bashar dan Kalam.

11. Sama’ : Artinya : Mendengar Allah Ta’ala.

Hakikatnya ialah sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada Zat Allah Ta’ala. Yaitu dengan terang dan nyata pada tiap-tiap yang maujud sama ada yang maujud itu qadim seperti ia mendengar kalamnya atau yang ada itu harus sama ada atau telah ada atau yang akan diadakan. Tiada terhijab (terdinding ) seperti dengan sebab jauh , bising , bersuara , tidak bersuara dan sebagainya. Allah Ta’ala Maha Mendengar akan segala yang terang dan yang tersembunyi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud :

” Dan ingatlah Allah sentiasa Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.

( Surah An-Nisa’a – Ayat 148 )

12. Bashar : Artinya : Melihat Allah Ta’ala .

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala wajib bersifat Maha Melihat sama ada yang dapat dilihat oleh manusia atau tidak, jauh atau dekat , terang atau gelap , zahir atau tersembunyi dan sebagainya. Firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” Dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan “. ( Surah Ali Imran – Ayat 163 )

13 .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada , yang qadim lagi azali , berdiri pada zat Allah Ta’ala. Menunjukkan apa yang diketahui oleh ilmu daripada yang wajib, maka ia menunjukkan atas yang wajib sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” Aku Allah , tiada tuhan melainkan Aku ………”. ( Surah Taha – Ayat 14 ) Dan daripada yang mustahil sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” ……..( kata orang Nasrani ) bahwasanya Allah Ta’ala yang ketiga daripada tiga……….”. (Surah Al-Mai’dah – Ayat 73). Dan daripada yang harus sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu”. (Surah Ash. Shaffaat – Ayat 96). Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada berbilang. Tetapi ia berbagai-bagai jika dipandang dari perkara yang dikatakan Yaitu :

1. Menunjuk kepada ‘amar ( perintah ) seperti tuntutan mendirikan solat dan lain-lain kefardhuan.

2. Menunjuk kepada nahyu ( tegahan ) seperti tegahan mencuri dan lain-lain larangan.

3. Menunjuk kepada khabar ( berita ) seperti kisah-kisah Firaundan lain-lain.

4. Menunjuk kepada wa’ad ( janji baik ) seperti orang yang taat dan beramal soleh akan dapat balasan syurga dan lain-lain.

5. Menunjuk kepada wa’ud ( janji balasan siksa ) seperti orang yang mendurhaka kepada ibu & bapak akan dibalas dengan azab siksa yang amat berat.

14. Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.

Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Qudrat.

15.Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.

Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala , tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Iradat.

16.Kaunuhu ‘Aliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.

Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat ‚Ilmu.

17.Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.

Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Hayat.

18.Kaunuhu Sami’an : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.

Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, Yaitu lain daripada sifat Sama’.

19.Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).

Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Bashar.

20.Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata.

Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Kalam.

.

.

SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH S.W.T

Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :

1. ‘Adam beerti “tiada”

2. Huduth beerti “baharu”

3. Fana’ beerti “binasa”

4. Mumathalatuhu Lilhawadith beerti “menyerupai makhluk”

5. Qiyamuhu Bighayrih beerti “berdiri dengan yang lain”

6. Ta’addud beerti “berbilang-bilang”

7. ‘Ajz beerti “lemah”

8. Karahah beerti “terpaksa”

9. Jahl beerti “jahil/bodoh”

10. Mawt beerti “mati”

11. Samam beerti “tuli”

12. ‘Umy beerti “buta”

13. Bukm beerti “bisu”

14. Kaunuhu ‘Ajizan beerti “keadaannya yang lemah”

15. Kaunuhu Karihan beerti “keadaannya yang terpaksa”

16. Kaunuhu Jahilan beerti “keadaannya yang jahil/bodoh”

17. Kaunuhu Mayyitan beerti “keadaannya yang mati”

18. Kaunuhu Asam beerti “keadaannya yang tuli”

19. Kaunuhu A’ma beerti “keadaannya yang buta”

20. Kaunuhu Abkam beerti “keadaannya yang bisu”
.

.

SIFAT HARUS BAGI ALLAH S.W.T

Adalah sifat yang harus pada hak Allah Ta’ala hanya satu saja Yaitu Harus bagi Allah mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atau di sebut sebagai “mumkin” (Fi’lu kulli Mumkinin Autarkuhu). Mumkin ialah sesuatu yang harus ada dan tiada. Harus disini artinya boleh-boleh saja. Artinya boleh-boleh saja Allah SWT menciptakan sesuatu, yakni tidak ada paksaan dari sesuatu, karena Allah bersifat Qudrat dan Irodah. Dan boleh-boleh saja bagi Allah SWT meniadakan sesuatu.

.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://abihaurarosyidi.multiply.com/

Humanity|Respect|Try To Not Cry