Menjadi Lebih baik dan terbaik walaupun buruk dimata orang | Doakan Orang Tua Anda | Sedekahkan harta anda Kepada Fakir Miskin dan Kaum yang tertindas | Hari ini Mungkin kematian menjemput kita tetapi maka dari itu kerjakanlah kebaikan walau di mata manusia tak ada harganya
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Tuesday, June 24, 2014

Genius


Leonardo da Vinci yang dikenal karena kegeniusannya dan seorang polimatik.
Genius sering juga disalahejakan dengan jenius adalah istilah untuk menyebut seseorang dengan kapasitas kecerdasan di atas rata-rata di bidang intelektual, terutama yang ditunjukkan dalam hasil kerja yang kreatif dan orisinal. Seorang yang genius selalu menunjukkan individualitas dan imajinasi yang kuat, tidak hanya cerdas, tapi juga unik dan inovatif. Kata ini juga digunakan untuk orang yang memiliki kepandaian dalam banyak bidang, seperti Goethe atau Da Vinci.[1] Sementara Einstein, genius dalam fisika, tapi tidak dalam bidang lain seperti seni dan literatur.
Seseorang dapat menyandang predikat genius apabila memiliki IQ (intellegence quotient) di atas 140. Walaupun istilah genius kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan kepemilikan bakat istimewa dalam bidang apapun, tapi istilah ini sering diterapkan dengan salah. Seharusnya secara khusus, genius merujuk kepada seseorang dengan kemampuan alami yang istimewa dalam bidang tertentu seperti seni, literatur, musik, atau matematika.

Ciri-ciri

Berdasarkan hasil penelitian Dr. Linda Silverman direktur Gifted Development Center di Canada, ciri-ciri genius adalah sebagai berikut:
  • Mempunyai kemampuan bernalar yang bagus.
  • Bisa belajar dengan cepat.
  • Memiliki perbendaharan kata yang luas.
  • Mempunyai kemampuan mengingat yang baik.
  • Bisa berkonsentrasi lama pada hal-hal yang menarik bagi dirinya.
  • Sensitif perasaannya dan mudah merasa tersinggung.
  • Cepat menunjukkan rasa peduli.
  • Perfeksionis.
  • Intensif.
  • Mempunyai kepekaan moral.
  • Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
  • Mempunyai minat yang kuat.
  • Mempunyai stamina yang bagus.
  • Lebih suka bergaul dengan yang lebih tua atau lebih dewasa.
  • Mempunyai banyak minat di beberapa hal.
  • Lucu dan menggelikan hati.
  • Suka membaca.
  • Perhatian terhadap rasa keadilan.
  • Bisa mengambil keputusan dengan matang untuk yang seusianya.
  • Suka mengamati.
  • Gemar berimajinasi.
  • Memiliki banyak akal.
  • Cenderung suka mempertanyakan otoritas.
  • Mempunyai kecakapan dalam hitung-menghitung.
  • Bagus dalam permainan jigsaw puzzles atau yang semisalnya.

Genius dan gila

Banyak tokoh genius dunia yang ternyata memiliki gangguan kejiwaan. Hal ini membuat banyak orang menduga bahwa genius dan gila berbeda tipis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa genius dan sakit mental memang benar-benar terkait dan ilmuwan menemukan alasannya.
Pemikiran bahwa ada hubungan antara genius dan kegilaan telah mempesona banyak orang sejak lama. Pemikiran itu muncul karena orang melihat banyak tokoh-tokoh genius yang ternyata memiliki gangguan kejiwaan. Contohnya Isaac Newton, Ludwig van Beethoven, Edgar Allan Poe, Vincent van Gogh, dan John Nash adalah orang-orang genius yang mengalami gangguan kejiwaan hingga skizofrenia.
Kay Redfield Jamison, seorang psikolog klinis dan profesor dari Universitas Johns Hopkins mengatakan bahwa ditemukan dari 20 atau 30 studi ilmiah yang mendukung pandangan tentang istilah bahwa orang genius itu tersiksa. Dari banyak jenis psikosis, kreativitas paling sangat terkait dengan gangguan bipolar. Sebagai contoh, sebuah penelitian menguji kecerdasan 700.000 orang Swedia usia 16 tahun dan kemudian menindaklanjuti selama 10 tahun untuk dipelajari kemungkinan mengembangkan penyakit mental. Hasilnya cukup mengejutkan dan telah diterbitkan pada tahun 2010.
"Mereka menemukan bahwa orang yang unggul saat mereka berusia 16 tahun empat kali lebih besar mengidap gangguan bipolar," ungkap Jamison.[2] Gangguan bipolar memerlukan perubahan suasana hati yang dramatis antara kebahagiaan ekstrem (mania) dan depresi berat. Orang-orang dengan gangguan bipolar cenderung menjadi kreatif ketika mereka keluar dari depresi berat. Ketika suasana hati seorang pasien bipolar membaik, kegiatan otaknya pun bergeser. Aktivitas yang mati di bagian bawah otak yang disebut lobus frontal, kemudian menyala di bagian yang lebih tinggi dari lobus. Orang dengan psikosis tidak menyaring rangsangan sebaik orang normal. Sebaliknya, pasien psikosis bisa mempertimbangkan ide yang kontradiktif secara bersamaan dan menjadi sadar dengan asosiasi bebas yang kebanyakan otak bawah sadar orang tidak mempertimbangkannya layak untuk dikirim ke permukaan kesadaran.
Tidak selamanya energi kreatif muncul selama serangan skizofrenia. Di atas segalanya, ilmuwan mengatakan bahwa kondisi gangguan jiwa, baik depresi atau skizofrenia dapat melemahkan dan bahkan mengancam nyawa. Di saat orang genius melakukan tindak kriminalitas, mereka cenderung dinilai sebagai psikopat. Tidak mengherankan jika para psikopat memiliki predikat genius. Kejahatan para genius lebih dahsyat dan mengerikan daripada kejahatan yang dilakukan orang dengan kecerdasan normal, bahkan menjadi berita yang fenomenal. Dalam kasus kriminalitas, kaum yang tergolong genius lebih sering dirujuk ke rumah sakit jiwa sebelum di penjara. Mereka tidak jarang didiagnosa normal, kemudian dibatalkan untuk dirawat di rumah sakit jiwa.

Referensi

  1. ^ Cox, Catharine, M. (1926) Early Mental Traits of Three Hundred Geniuses (Genetic Studies of Genius Series), Stanford University Press.
  2. ^ Livescience, 5 Juni 2012

Wednesday, June 18, 2014

Legenda Sang Tante Dolly


Ada beragam kisah terkait awal berdirinya Dolly.
Gang Dolly saat malam terakhir sebelum penutupan. (Foto: KOMPAS.com/Achmad Faizal)
Tidak ada yang tahu persis bagaimana kawasan lokalisasi Dolly berdiri untuk pertama kalinya. Namun, nama Dolly sudah sangat terkenal sejak lama. Bahkan sejumlah literatur menyebutkan Dolly sudah ada sejak abad 19, masa kolonial Belanda.

Dolly berada di tempat strategis di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Konon kawasan ini menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara dibandingkan Phat Pong di Bangkok-Thailand dan Geylang di Singapura. Keberadaan Dolly bahkan dinilai lebih terkenal dibandingkan Kota Surabaya.

Bukan hanya warga lokal yang datang ke Dolly, bahkan orang asing pun diketahui banyak yang penasaran dengan Dolly. Banyak wisatawan luar negeri yang menyeberang dari Bali ke Surabaya hanya untuk ke Dolly.

Ada beragam kisah terkait awal berdirinya Dolly. Antara lain yang menyebutkan bahwa nama Dolly diambil dari nama salah satu perintis usaha prostitusi—seorang perempuan keturunan Belanda bernama Dolly van de Mart. Ia membuka sebuah wisma dengan perempuan-perempuan cantik yang utamanya digunakan untuk melayani tentara Belanda ketika itu.

Karena pelayanan yang memuaskan, para tentara pun kembali ke wisma itu. Bahkan, sejumlah masyarakat pribumi juga penasaran dengan pelayanan dan keberadaan perempuan di rumah bordil tersebut. Rumah bordil itu pun menjadi ramai.

Kisah lain yang hampir serupa menyebutkan, kompleks ini awalnya merupakan pemakaman Tionghoa meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede. Kisah itu disebutkan pada buku berjudul Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly oleh Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar, yang diterbitkan oleh Grafiti (1982). Awalnya, penelitian itu merupakan skripsi Tjahjo dari FIP Unair Surabaya yang kemudian dibukukan.

Pada tahun 1960-an, makam-makam tersebut dibongkar dan sebagian besar dijadikan permukiman. Sekitar tahun 1966, muncullah para pendatang yang kemudian menetap di kawasan itu. Dan tercatat pada 1967, datang seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tante Dolly. Ia menikah dengan pelaut Belanda dan mendirikan rumah bordil pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I.

Keberadaan rumah pelacuran itu banyak membuat orang penasaran. Bahkan, sosok Tante Dolly juga membuat banyak lelaki hidung belang datang ke tempat tersebut. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mendirikan usaha di sekitar wisma milik tante Dolly.

Kawasan itu kemudian dikenal dengan sebutan Gang Dolly yang juga bersebelahan dengan kawasan prostitusi Jarak. Namun, nama Dolly-lah yang lebih santer. Puluhan wisma bermunculan mulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur, hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.

Menurut cerita, keturunan tante Dolly juga masih ada yang tinggal di Surabaya, namun tidak lagi melanjutkan bisnis tersebut.

Selain lokasi yang strategis, cara menjajakan pelacur di tempat ini juga cukup dramatis sehingga menjadikan Dolly sangat terkenal. Para pemuas nafsu itu akan dipajang di ruangan berkaca layaknya etalase. Dengan begitu, lelaki yang datang akan bebas memilih dengan siapa ia mau ditemani.

Kisah melegenda Dolly ini sebentar lagi hanya akan menjadi cerita. Sebab Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini telah bertekad akan menutup lokalisasi ini pada 18 Juni 2014.

Kawasan itu akan diubah menjadi gedung enam lantai sebagai pusat ekonomi di Surabaya. Meski begitu, penolakan terus saja terjadi hingga detik-detik dilakukan pengumuman penutupan Dolly.




From : (Puji Utami/Kompas.com)

Tuesday, May 15, 2012

AL-MUNJID, Kamus Bahasa Arab Yang Berbahaya Untuk Dipelajari

Bismillah,
Jika Anda pernah menuntut ilmu di pesantren, tradisional maupun modern, atau bahkan berguru di berbagai perguruan tinggi Islam seperti Universtias Islam Negeri (UIN) Jakarta, Anda pasti mengenal Kamus al-Munjid.
Sebuah kamus yang dianggap paling lengkap dan komperehensif, antara lain karena dihiasi dengan gambar-gambar, yang dijadikan kamus utama di berbagai kampus Islam dan pondok pesantren seluruh dunia. 
Bahkan di beberapa pondok pesantren seperti Ponpes Darunnajah Ulu Jami Jakarta, ada satu mata pelajaran khusus untuk menggunakan Kamus al-Munjid yang disebut Mata Pelajaran Fathul Munjid.Namun tahukah Anda, bahwa Kamus Arab al-Munjid yang dipakai di seluruh ponpes dan kampus Islam dunia itu ternyata disusun oleh dua orang pendeta (rahib) Katolik bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i yang dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan oleh sebuah percetakan Katolik sejak tahun 1908. Penggunaan Kamus al-Munjid yang sudah lama dan masih dipakai hingga kini bukanlah tanpa penentangan. Sebagian ulama menganggap kamus tersebut merupakan bagian dari operasi para orientalis yang memiliki agenda tersembunyi terhadap Dunia Islam.
Sekurangnya ada dua kitab yang ditulis ulama Islam yang berisi penentangan terhadap Kamus al-Munjid, yakni:
• ‘Atsrat al-Munjid fi al-adab wal ulum wa a’lam (Prof. Ibrahim al-Qhatthan, 664 halaman, terbit 1392 H), ini adalah kitab paling utama dalam mengkritisi Kamus al-Munjid.
An-Naz’ah an-Nashraniyah fi Qamus al-Munjid (DR. Ibrahim Awwad, 50 hal, terbit 1411 H)
Kamus al-Munjid sendiri memiliki beberapa kekurangan, jika tidak dikatakan sebagai kesengajaan, yakni:
• Ketika memuat entry “Al-Qur’an”, tidak pernah menyambungkannya dengan istilah “al-Kariem” dan sebagainya, namun ketika memuat entry kitab suci Kristen dan Yahudi, maka kamus ini menambahkan istilah “al-Muqaddas”,
• Ketika memuat entry “Nabi Muhammad”, tidak pernah mengikutsertakan gelar ‘Shalallahu Allaihi Wassalam”, demikian pula entry para shahabat tidak pernah ditambahkan dengan “Radiyallahu Anhu”,
• Tidak ada kalimat ‘Basmallah’ di atas setiap bab seperti halnya kitab-kitab umat Islam,
• Entry “al-Basmallah” yang sesungguhnya milik umat Islam namun dalam keterangannya tertulis “Bismil ab-wal ibn wa Ruhil Quds” yang memiliki arti sebagai “Dengan menyebut Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus”, setelah itu baru ada entry “Bismillahirahmannirahim”,
• Kamus ini juga tidak membahas akidah Islam, namun banyak membahas hal-hal yang bersifat penyimpangan-penyimpangan akidah,
• Nama- nama tokoh Islam yang utama seperti para shahabat, tabiin, dan para ulama terkemuka juga tidak dimuat, namun di lain sisi nama-nama tokoh Barat Kristen banyak dimuat,
• Kamus ini tidak pernah merujuk pada sumber-sumber Islam yang asli, tapi sebaliknya merujuk pada sumber-sumber Barat, dan ini sangat jelas terlihat dalam entry ‘ibadat’ dan penyebutan nama-nama nabi dan rasul yang menggunakan istilah kristen,
• Banyak kesalahan penulisan nama-nama tokoh dan kaitannya dengan sejarah,
Mengatakan bahwa daging babi itu sangat lezat.
Dimasukkannya gambar-gambar dan aneka lukisan yang berasal dari Barat yang sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, seperti halnya gambar Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya. Bahkan ada sebuah gambar sepasang manusia dewasa telanjang yang tengah menangis, gambar itu dikatakan sebagai gambar Adam dan Hawa,
Nabi Nuh, Luth, dan Sulaiman dikatakan bukan sebagai nabi, tapi Lukman disebut sebagai nabi. Nuh dikatakan sebagai ‘Manusia Taurat pertama’, Luth dikatakan hanya sebagai ‘keponakan Ibrahim’ dan Sulaiman dikatakan sebagai ‘Raja’ bukan nabi,
Nabi Daud disebut sebagai pembunuh banyak lelaki untuk memperisteri jandanya, padahal beliau telah memiliki isteri sebanyak 100 orang.
Masih teramat banyak catatan-catatan tentang kamus produk orientalis ini yang sampai sekarang, entah kenapa, masih saja dipergunakan di banyak lembaga pendidikan Islam. Sudah saatnya umat Islam menyadari dan berhenti memakai kamus ini. Dan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), sudah sepatutnya melarang peredaran dan penggunaan kamus ini di seluruh Indonesia. (Rz)

FATWA SYAIKH MASYHUR HASAN SALMAN TENTANG PENGGUNAAN KAMUS BAHASA ARAB “AL MUNJID”

Oleh : Syaikh Masyhur Hasan Salman
السؤال: ما رأيكم في قاموس “المنجد”؟
Pertanyaan : Bagaimana pendapat Anda tentang kamus Al-Munjid?
الجواب: للأسف أقول: إن هذا القاموس غزا؛ لا أقول المدارس والجامعات والمكتبات، بل للأسف غزا البيوت، وفي كثير من البيوت يعتمد على هذا القاموس لأنه سهل
Jawab : Sangat disayangkan, saya katakan bahwasanya kamus ini telah menyerbu … saya tidak katakan (hanya) menyerbu sekolah-sekolah, universitas-universitas dan perpustakaan-perpustakaan (saja), bahkan sangat disayangkan (kamus ini) telah menyerbu sampai ke rumah-rumah. Banyak dijumpai di rumah-rumah yang bergantung kepada kamus ini karena mudah (digunakan).
لكن هذا القاموس فيه سموم عظيمة ولا يجوز لأحد أن يقرأ فيه، إلا إن كان شبعان ريام من علوم الشريعة، يعرف من خلال ما وهبه الله إياه من علم الصحيح من السقيم، والجيد من الرديء، والأصيل من الدخيل
Namun, kamus ini mengandung racun yang sangat besar, maka seorang pun tidak diperkenankan untuk membacanya. Kecuali orang yang telah menguasai ilmu-ilmu syariah yang dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga dia bisa membedakan antara yang benar atau cacat, yang baik dan buruk, yang asli atau yang sudah terkontaminasi.
هذا القاموس وضعه النصارى ،وأول ما طبع سنة 1908، وكتبه راهب نصراني هو الأب لويس معروف اليسوعي، ووضع قسم الأعلام منه، راهب نصراني آخر، هو الأب فرَانْديد توت ، يسوعي أيضاً، وطبع أول ما طبع في المطبعة الكاثوليكية
Kamus ini dibuat oleh orang Nashrani dan dicetak pertama kali pada tahun 1908. Ditulis oleh pendeta (rahib) bernama Fr. Louis, seorang Jesuit terkenal yang membuka bagian informasi di dalamnya dan pendeta Nashrani lain bernama Fr. Frendid Tut, seorang Jesuit juga. Kamus ini dicetak pertama kali di percetakan Katolik.
هذا القاموس فيه بعض الآيات خطأ ولا يوجد فيه ((قال الله)) ويقولون أحياناً ((في القرآن)) ولا يوجد فيه صفة للقرآن بأنه مقدس أو عظيم، ويكثرون من ذكر الأسفار والتوراة والإنجيل خاصة، ولا يوجد فيه حديث نبوي واحد، ونحن نعرف لغة العرب من القرآن والحديث والشعر الجاهلي، وللآلوسي كتاب حول ما يستشهد به على كلام العرب
Dalam kamus ini terdapat :
• beberapa kesalahan ayat
• tidak terdapat lafadz “Firman Allah”, terkadang mereka berkata: “Di dalam Al-Qur’an”
• tidak mencantumkan sifat Al-Qur’an yang Suci atau Agung
• banyak dicantumkan berita dari kitab suci Taurat dan Injil secara khusus
• tidak terdapat hadits Nabi meskipun hanya satu, sementara kita mengetahui bahasa Arab bersumber dari Al-Qur’an, Hadits dan syair-syair Arab Jahiliyah. Al-Alusi memiliki sebuah kitab yang berbicara tentang pengambilan dalil dari perkataan Arab.
وهذا القاموس فيه إرجاع إلى مجلات النصارى ،ولا يوجد فيه إرجاع إلى مجلة قام عليها المسلمون أبداً
Kamus ini selamanya hanya merujuk kepada majalah-majalah Nashrani dan tidak pernah merujuk kepada majalah yang diterbitkan oleh orang Islam.
وهذا القاموس لا يوجد فيه ذكر للمصطلحات الإسلامية فمثلاً: كل أعياد النصارى كالشعانين والفصح وغيرها كلها موجودة فيه بالتفصيل، أما المصطلحات الإسلامية فغير موجودة فيه، حتى البسملة يقولون هي(بسم الأب والابن والروح القدس) فهذه البسملة الموجودة عندهم
Kamus ini tidak menyebutkan istilah-istilah Islam, misalnya seluruh perayaan Nashrani seperti Paskah dan selainnya. Semuanya tercantum dengan terperinci. Adapun istilah-istilah Islam tidak dicantumkan di dalamnya. Sampai-sampai lafadz Basmalah mereka ucapkan dengan : “Dengan nama Bapa, Putra dan Ruh Kudus”. Inilah Basmalah yang ada pada mereka.
فهذا القاموس خطير جداً لا يجوز لأحد أن يقرأه وقد وجدت رسالة نافعة طيبة للدكتور إبراهيم عوض سماها: “النزعة النصرانية في قاموس المنجد” فمر بهذا القاموس ودرسه دراسة جيدة، وذكر في هذه الرسالة النزعة النصراينة بتأصيل وتمثيل، من قرأها يعلم علم اليقين أن هذا القاموس وضع للتبشير، ووضع لتروج بضاعة النصارى وعقائدهم على المسلمين
Kamus ini sangat berbahaya, maka tidak boleh seorang pun membacanya. Saya telah mendapatkan sebuah risalah yang bermanfaat dan baik sekali karya Dr. Ibrahim ‘Awudh yang diberi judul “An-Naz’ah An-Nashraniyyah fii Qaamus Al-Munjid” “Kecondongan kepada Nashrani dalam Kamus Al-Munjid”. Beliau membahas tentang kamus ini dengan pembahasan yang baik sekali. Disebutkan juga di dalamnya kecondongan kepada Nashrani berdasarkan sumbernya dan contoh-contohnya. Maka barangsiapa yang membacanya akan mengetahui secara yakin bahwasanya kamus ini disusun dalam rangka misionaris (penyebaran agama Nashrani).
فينبغي أن يقاطع هذا القاموس وهناك بديل عنه مثل “القاموس المحيط” و”المعجم الوسيط” وغيرها ، والله أعلم
Maka hendaknya Kamus ini ditinggalkan saja karena telah ada penggantinya, seperti kamus Al-Muhith dan Al-Mu’jam Al-Wasith dan lain sebagainya.
Wallaahu A’lam ( Hanya Allahlah yang Maha Mengetahui).

Friday, May 11, 2012

KETIKA AJAL TAK INGIN BERDAMAI


Oleh Andi Guntur Permana, S.Pd
            Masih teringat cerita seorang mahasiswa yang hendak ke luar negeri. Dia bersiap-siap untuk melanjutkan studinya dan nyambi bekerja, otaknya terbilang cerdas, karena itu ia diterima di Universitas ternama di luar negeri. Persiapanpun dilakukan baik paspor dan visa singkat cerita hari yang ditunggu-tunggu telah tiba Dia harus bergegas untuk pergi ke bandara yang sedianya berangkat pukul 14.00 WIB. Pergilah dia menyelusuri jalan kota dengan taksi menuju bandara – kemacetan kota sudah terbilang lumrah di Kota Metropolitan Sekelas Jakarta Akan tetapi karena terjadinya kecelakaan oleh pengendara mobil pribadi yang menabrak tembok pembatas tol menimbulkan kecelakaan beruntun, kemacetan parahpun terjadi. Dia duduk dengan gelisah karena khawatir pesawat tersebut akan tinggal landas sebelum dia tiba. Kekhawatian yang dia bayangkanpun menjadi keyataan, ternyata kemacetanpun belum teratasi. Akhirnya dia menyesal karena dia tidak jadi terbang ke luar negeri yang ia damba-dambakan. Dia kecewa karena jika terlambat maka posisi di perusahaan ternama pun akan digantikan oleh orang lain begitu pula dengan bea siswa studinya, maklum dia dari kalangan keluarga biasa-biasa. Sedih, Marah pun terlontar pada Zat sang pencipta karena cita-citanyapun sirna. Keesokan harinya menjadi hal yang biasa buat dirinya bergumul dengan keputusasaan, kemalasanpun menjadi hobi barunya, kemudian dia membaca Koran dengan headlines bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat dengan no GE1323 yang mengakibatkan seluruh penumpang dinyatakan hilang. Itulah pesawat yang salah satu penumpangnya tertinggal dan tidak jadi menempuh impiannya.
            Kecelakaan penerbanganpun baru-baru ini terjadi di Indonesia, bertajuk Joy Flight sebuah penerbangan promosi dengan kecanggihan dan keunggulan yang dimiliknya pun seolah-olah keselamatan penumpang sangatlah  terjamin. Keperkasaan Sukhoipun sirna menabrak tebing Gunung Salak. Senyum gembira sebelum keberangkatanpun menghiasi para awak kabin dan para penumpang Takdir berkata lain, kegembiraan tersebut dibalas dengan tangisan duka dari para pihak keluarga yang mendengar pesewat tersebut mengalami kecelakaan.        Manusia memiliki kontrak hidup dengan sang Penguasa Alam, kontrak yang tidak bisa ditunda, dimajukan atau dimundurkan sedetikpun
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Kita bisa meninggalkan dunia ini dengan cara apapun. Hitungan mundur (countdown) sedang bekerja mendekati angka nol angka yang setiap tahun baru menjadi sebuah awal “pesta” perpisahan akan dunia ini – awal dimana keluarga kita mengucurkan air mata kesedihan. Sudah saatnya kita “memerangi” takdir kita dengan berbuat baik yang menghambakan dirinya kepada sang Khalik dengan ikhlas
Kita harus mengambil ibrah (pelajaran) dari kejadian ini agar kita mau lebih extra bersiap diri untuk berbuat hal-hal kebajikan (amal shalih). Sebuah mahfuzat arab al-waktu kasshaif (waktu itu seperti pedang), setiap nafas merupakan sebuah perjalanan kita menuju ajal (waktu yang telah ditetapkan kematian) apakah kita telah bersiap-siap? Ataukah masih berleha-leha saja? Apakah kita sudah melakukan amal shaleh? Ataukah Amal salah yang selalu kita kerjakan?. Ingat kematian akan mendatangi kita dengan berbagai cara yang kita tidak bayangkan, apakah di tempat tidur? Apakah ketika bersujud? Apakah ketika berbuat maksiat? Allahu alam bissawab. Sahabatku bersiaplah menuju kematian husnul khatimah dengan berbuat amal shalih!.

Wednesday, April 11, 2012

Melanjutkan sekolah Atau berhenti sekarang juga?

Selamat Siang Agan2 sekalian

Ane mau share Pidato seorang CEO Oracle Corp, Lawrence ‘Larry’ Ellison, yang menjadi Orang terkaya kedua di Dunia (setelah Bill Gates) pada tahun 2000.

Pidato ini merupakan pidato pembukaan untuk wisuda kelas 2000 Universitas Yale. dan 'dia' diseret turun dari panggung sebelum dia menyelesaikan pidatonya.

Langsung aj,, cekidot gan...

Quote:
“ Lulusan Yale University, saya minta maaf bila anda telah mengalami prolog seperti ini sebelumnya, namun saya ingin anda melakukan sesuatu untuk diri anda sendiri. Tolong, lihatlah sekeliling anda dengan baik. Lihatlah teman di sebelah kiri anda. Lihatlah teman di sebelah kanan anda. Sekarang pikirkan ini : 5 tahun dari sekarang, bahkan 30 tahun dari sekarang, kemungkinannya adalah orang di sebelah kiri anda akan menjadi pecundang. Orang di sebelah kanan anda juga akan menjadi pecundang. Dan anda di tengah? Apa yang anda harapkan? Pecundang, Pecundang, cum laude pecundang.

Nyatanya , ketika saya melihat ke hadapan saya sekarang, saya tidak melihat seribu harapan untuk masa depan yang cerah. Saya tidak melihat pemimpin masa depan dalam seribu industry. Saya melihat seribu pecundang. Anda kesal. Itu bisa dimengerti.

Bagaimanapun, bagaimana saya, Lawrence ‘Larry’ Ellison, seorang yang drop out dari kampus, memiliki keberanian untuk mengatakan omong kosong ini pada lulusan salah satu institusi paling bergengsi bangsa ini? Akan saya katakan sebabnya. Karena saya Lawrence ‘Larry’ Ellison, orang terkaya di planet ini adalah seorang drop out kuliah dan anda tidak.

Karena Bill Gates, manusia terkaya di planet – saat ini – adalah juga drop out kuliah, dan anda tidak.

Karena Paul Allen, orang ketiga terkaya di planet ini, keluar kampus, dan anda tidak.

Dan berikutnya, karena Michael Dell, No. 9 dari daftar dan bergerak cepat, adalah drop out kampus, dan sekali lagi anda tidak.

Hemm… Anda sangat kesal. Itu bisa dimengerti. Jadi biarkan saya mengelus ego anda dengan menunjukkan, dengan jujur, bahwa diploma anda tidak diperoleh dengan percuma. Kebanyakan dari anda, saya percaya, telah menghabiskan empat sampai lima tahun disini, dan dalam banyak hal apa yang anda telah pelajari dan alami akan berguna bagi anda di tahun mendatang. Anda telah membuat kebiasaan kerja yang baik. Anda telah membuat jaringan orang yang akan membantu anda di jalan. Dan anda telah membuat apa yang akan menjadi hubungan seumur hidup dengan kata ‘tetapi’. Semuanya itu tentu saja baik. Karena sebenarnya anda akan membutuhkan jaringan itu. Anda akan membutuhkan kebiasaan kerja yang kuat itu. Anda akan membutuhkan terapi.

Anda akan membutuhkan mereka karena anda tidak drop out, dan anda tidak akan pernah berada di antara orang terkaya di dunia. Oh pasti, anda bisa, mungkin mendaki jalan anda ke atas ke No. 10 atau 11, seperti Steve Ballmer. Tapi kemudian, saya tidak perlu mengatakan kepada siapa ia bekerja bukan? Dan, ia drop out dari sekolah persiapan. Agak ketinggalan berkembang.
Akhirnya saya menyadari banyak dari anda, saya harap kebanyakan dari anda bertanya-tanya? “Apakah ada yang bisa kulakukan? Apakah ada harapan untukku?” Tidak Ada! Terlambat Sudah. Anda telah menyerap terlalu banyak, pikiran anda tahu terlalu banyak. Anda tidak 19 tahun lagi. Anda memiliki topi yang terbentuk dan saya tidak merujuk pada papan mortar di kepala anda.
Hmm…. Anda sangat kesal. Itu bisa dimengerti. Jadi ini mungkin waktunya untuk membawa garis perak. Bukan untuk anda, kelas 2000. Anda sudah dihapuskan, jadi akan saya biarkan anda mencari pekerjaan yang mengibakan, yang cek gaji anda ditandatangani oleh teman sekolah anda yang drop out dua tahun lalu.

Sebaliknya, saya ingin memberi harapan bagi semua yang masih sekolah di sini sekarang. Saya katakan kepada anda, saya tidak bisa menekankan ini. Pergilah. Kemasi barang-barang dan idemu dan jangan kembali. Drop out dan mulailah.

Karena bisa saya katakan bahwa topi dan jubah akan menurunkan anda seperti petugas keamanan ini menarik saya turun dari panggung.

(Pidato Dihentikan!)

Sunday, January 01, 2012

Bakyak Pak Kyai Dan Tukang Nasi Pecel…


Oleh Muhaimin Iqbal

Seorang kyai tua tinggal beberapa ratus meter dari surau-nya yang selalu sepi. Dia selalu bangun satu jam menjelang subuh dan kemudian berjalan ke surau. Di keheningan malam desa, bakyak (alas kaki dari kayu) Pak Kyai ini menjadi pertanda awal pagi bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang jalan antara rumah Pak Kyai dengan suraunya. Begitu mendengar suara teklek – teklek –teklek , masyarakat yang punya urusan pagi itu segera bangun untuk memulai urusannya.



Ada yang berangkat ke pasar pagi-pagi di hari pasaran, ada yang mulai masak untuk membuka warungnya dlsb – namun tetap sangat sedikit yang kemudian mengikuti Pak Kyai ke surau. Hanya beberapa orang saja yang setia bermakmum di belakangnya ketika sholat subuh ditegakkan.



Mengamati perilaku masyarakat yang dilaluinya, dalam setiap kesempatan Pak Kyai ini ingin selalu mendakwahi mereka. Maka suatu pagi sepulang sholat subuh dia ingin mampir ke si mbok tukang nasi pecel dan suaminya yang tidak pernah dilihatnya ke surau.



Setelah selesai makan nasi pecel dari warung tersebut Pak Kyai mulai dengan strategi dakwahnya, dia bertanya ke si embok : “bapake teng pundi, kok mboten ketingal ?” (bapak kemana kok tidak kelihatan) ; dijawab oleh si embok : “Wonten wingking, mbantu nggodok toya” (di belakang, membantu masak air).



Lalu Pak Kyai melanjutkan dialognya dalam bahasa jawab tetapi langsung saya artikan yang kurang lebih begini : “Setiap saya berjalan ke surau, saya melihat warung ini masih tutup, dan ketika saya pulang warung ini sudah selalu buka…, apa yang membuatnya demikian ?”. Si embok menjawab : “Iya Pak Kyai, kami terbangun setiap mendengar bakyak Pak Kyai – untuk terus mulai masak dan membuka warung ini…”.



Pak Kyai yang sekaligus merangkap muadzin ini, mulai menangkap peluang untuk mendakwahinya , dia bertanya : “lho, kenapa yang di dengar kok suara bakyak saya – bukan ajakan saya untuk sholat di surau/masjid (suara adzan ) ?”. Dengan agak malu-malu si embok berusaha menjelaskan alasan suaminya tidak ke surau : “Anu Pak Kyai, suara bakyak Pak Kyai bisa membangunkan kami, terus kami dapat mulai buka warung dan langsung dapat uang untuk makan sekeluarga. Ajakan sholat (adzan) Pak Kyai mengajak kami ke surau lha terus yang mencarikan uang kami siapa ?”.



Sambil pingin meyakinkan Pak Kyai dengan argumennya, si embok balik bertanya : “Gusti Allah niku nopo estu enten nggih Pak Kyai ?, kok kulo nyuwon nopo-nopo dereng diparingi, dadosi tasih kedah kerjo ngaten niki…!” (Allah itu apa bener-bener ada sih Pak Kyai, kok saya minta apa saja belum ada yang diberi, jadi masih harus kerja seperti ini…!).



Mendapat pertanyaan yang seolah cerdas ini Pak Kyai desa ini tidak mau langsung menjawabnya, pertama karena pertanyaan ini tidak diantisipasinya – dia tidak langsung siap jawabannya saat itu, kedua dia tidak ingin berargumen dengan target dakwahnya pagi ini.



Setelah selesai makan nasi pecel Pak Kyai beranjak pergi , di tengah jalan dilihatnya ada gelandangan dengan badan dan baju yang kotor, rambut berantakan dan selalu menengadahkan tangan minta-minta pada orang yang lalu lalang dengan kalimat standarnya yang memelas “…telung dinten dereng mangan…” (tiga hari belum makan).



Pak Kyai merasa dapat ilham langsung balik ke warung nasi pecel tadi, dengan bergegas dia menyampaikan ke si embok yang tadi melayani dia : “Mbok, mbok, sampeyan lihat tukang ngemis disana itu…?”, si embok menjawabnya : “ Oh Iya pak Kyai, memang pekerjaannya setiap hari disitu ya begitu…”.



Pak Kyai melanjutkan : “Lantas mengapa embok tidak memberinya makan nasi pecel ini ?, nasi pecel disini kan banyak sekali – dia tidak perlu bekerja dengan mengemis setiap hari kalau setiap dia datang ke warung ini embok langsung beri dia makan…!”.



Si mbok kaget dengan saran Pak Kyai ini, dia menjawab : “Pak Kyai ini bagaimana sih !, nasi pecel yang ada di warung ini kan untuk dijual, kok kami malah disuruh memberikan begitu saja ke si pengemis…, mana bisa dia membayarnya ?”.



‘”Ini Dia” pikir Pak Kyai , dia langsung menyampaikan kalimat dakwahnya yang jitu ke si embok : “begitulah Allah mbok, Dia punya apa saja yang embok dan keluarga inginkan …, tetapi mana mau Dia memberikan semua keinginan ke mbok, lha wong mbok nggak mampu membayarnya kok…!”.



Merasa logika Pak Kyai mengenainya, dia mulai tertarik : “Lha terus bagaimana Pak Kyai ? bagaimana kami bisa ‘membeli’ kepada Allah apa yang kami inginkan…”. Dengan senang Pak Kyai menjawab : “Dengan mentaatiNya mbok, mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya…, ya antara lain kalau Dia memanggil untuk sholat ke surau/masjid – penuhilah panggilanNya, terutama untuk suamimu – karena itu wajib bagi laki-laki”.



Begitulah kita semua, seperti keluarga tukang pecel tadi. Kita sibuk dengan urusan kita, sehingga ketika Allah memanggil (untuk sholat, zakat, menyantuni fakir-miskin, berhijrah untuk kebaikan, berjihad dst…) kita tidak segera meresponnya, tetapi ketika kita berdoa minta kepadaNya – mau kita segera diberiNya – mana bisa begitu ?. Wa Allahu A’lam.

Tidak Ada Pekerjaan Tetap, Tetapi Tetap Bekerja…



Di masjid komplek tempat saya tinggal, jamaah shalat dhuhurnya kini hampir sama banyaknya dengan shalat fardhu lainnya. Kok bisa ?, bukankah penghuninya pada ke kantor di siang hari ? sebagiannya memang demikian, tetapi cukup banyak yang mulai bekerja di rumah. Yang pada bekerja di rumah ini sebagian memiliki pegawai beberapa orang, maka mereka inilah yang ikut meramaikan masjid di siang hari selain penghuni komplek sendiri. Awalnya orang yang melihat kami siang-siang pada sarungan ke masjid, sering bertanya ‘apakah Anda tidak bekerja ?’, maka sambil berseloroh kami punya jawaban yang khas untuk ini : ‘kami ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi kami tetap bekerja !’.



Inilah paradigma baru yang rupanya menular di komplek kami tinggal. Belasan tahun lalu ketika saya mulai masuk komplek ini, saat itu hampir semua orang bekerja di kantor sehingga masjid sepi ketika siang hari. Kini hampir berimbang antara yang bekerja di kantor dan yang di rumah. Sebagian karena usia pensiun, sebagian karena memutuskan untuk berwirausaha sebelum usia pensiun tiba, sebagian lain memang dengan bantuan teknologi kini bisa bekerja dari rumah.



Ada budaya baru yang menarik yaitu orang-orang sarungan atau pakai baju gamis ke masjid siang hari – padahal mereka orang-orang yang sibuk. Kok bisa ?, kapan mereka berganti sarung atu gamisnya ? mereka tidak perlu berganti !, karena ketika mereka bekerja di rumah, tidak lagi diperlukan pakaian formal – sarungan atau bergamis-pun jadi.



Yang ikut saya rasakan adalah bahwa ketika kita tidak lagi terkendala waktu (bekerja harus pada waktu-waktu tertentu), tidak terkendala ruang (bekerja harus berkantor), tidak terkendala formalitas (bekerja harus pakai pakaian resmi, berdasi atau bahkan ber jas) maupun kendala-kendala lainnya, maka pengaruhnya adalah pada kreativitas dan kebebasan kita untuk berpikir.



Saya misalnya, tidak kebayang dalam profesi saya yang lama ketika bekerja harus pada jam kerja pergi ke kantor di pusat kota dengan berdasi dan berjas – tetapi pada saat yang bersamaan juga mengurusi peternakan kambing di lapangan, atau berganti sarung untuk shalat dhuhur di masjid. Jangankan shalat khusu’ di masjid, shalat tepat waktu saja tidak selalu mudah bagi orang-orang kantoran.



Belenggu ruang dan waktu kerja, belenggu pakaian dan formalitas lainnya terkadang ikut membelenggu kebebasan berpikir kita dan membatasi ruang gerak kita. Istilah ‘pekerjaan tetap’ – yang dahulu menjadi kebanggaan calon mertua bila sang calon menantu sudah memilikinya, mungkin waktunya untuk direnungkan kembali sekarang.



Bila Anda memiliki ‘pekerjaan tetap’ sampai Anda pensiun, bukankah ini berarti Anda sudah memutuskan untuk diri Anda sendiri tetap sebagai pegawai sampai usia pensiun ?. Bukankah ini akan memasukkan Anda menjadi bagian dari 9 orang dari 10 orang yang tidak siap ketika pensiun tiba ?.



Yang jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk berhijrah dari kwandrant E (Employee) ke S (Self Employed), B (Business Owner) atau bahkan I (Investor), tetapi bila Anda tidak mencobanya selagi muda – toh Anda kemungkinan juga harus menghadapinya ketika usia pensiun Anda tiba !, jadi mencobanya lebih cepat insyaallah akan lebih baik.



Yang perlu di sadari adalah bila Anda sudah di kwadrant S, B atau I , pekerjaan Anda juga tidak akan lebih ringan dari pekerjaan di kwadrant E. Terutama di awal-awal usaha, bisa jadi Anda perlu bekerja siang malam dan tidak mengenal hari libur. Bahkan ketika sukses-pun menghampiri Anda, sukses ini tidak bersifat permanen – Anda tetap harus bekerja keras untuk mempertahankannya atau bahkan mencapai puncak sukses berikutnya.



Sebaliknya juga ketika Anda gagal, kegagalan ini tidak harus bersifat final yang membuat Anda berhenti mencoba. Anda harus terus mencobanya karena kegagalan-kegagalan inilah yang nantinya justru menempa kwalitas Anda.



Di kwadrant S, B ataupun I, jadinya Anda memang tidak memiliki pekerjaan tetap – tetapi Anda tetap harus bekerja ! Wa Allahu A’lam.





Catatan : E, S, B, I adalah Istilah yang di perkenalkan oleh Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Cashflow Quadrant (Warner Books, N.Y. 1998)

Thursday, October 20, 2011

Dahlan Iskan: Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?


Dahlan Iskan mengaku "Sudah telanjur jatuh cinta." Baginya PLN sudah menjadi bagian hidup.


VIVAnews - Dahlan Iskan, menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ini memang sedikit berbeda dengan yang lain. Selain penampilan yang nyentrik, dia juga selalu menulis catatan-catatan kecil.

Tak cuma di Jawa Pos, perusahaan yang pernah dia pimpin, di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun dia selalu menulis catatan harian. Tak heran bila akhirnya PLN menyediakan ruang khusus "CEO Notes."

Banyak sekali tulisan Dahlan selama di PLN. Mulai dari krisis listrik yang sering terjadi hingga perkembangan terbaru bagi PLN.

Terakhir, sebelum resmi dilantik menjadi menteri, dia menulis "Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?" Di situ Dis, salah satu panggilan Dahlan, menggambarkan bahwa dia benar-benar sudah satu hati dengan PLN.

"Terlanjur jatuh cinta," begitu Dis mengatakan. Meski telanjur jatuh cinta, dia harus pergi meninggalkan PLN yang sudah menjadi bagian hidup selama dua tahun.

Berikut kutipan CEO Notes PLN:

Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?

Malam itu saya sudah di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Siap berangkat ke Amsterdam, Belanda. Tas sudah masuk bagasi. Saya cek lagi paspor untuk melihat dokumen imigrasi. Semua beres. Saya pun siap-siap sebentar lagi boarding. Istri saya sudah di Eropa tiga hari lebih dulu. Mendampingi anak sulung saya yang menjabat Dirut Jawa Pos, yang menerima penghargaan dari persatuan koran sedunia. Jawa Pos terpilih sebagai koran terbaik dunia tahun ini.

Saya pun kirim BBM kepada direksi PLN untuk memberitahu saat boarding sudah dekat. “Kapan pulangnya, Pak Dis?,” tanya seorang direktur. “Tanggal 21 Oktober. Setelah kabinet baru diumumkan,” jawab saya.“Ooh, ini kepergian untuk nge-lesi ya,” guraunya.

Saya memang tidak kepingin jadi menteri. Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan PLN. Instansi yang dulu saya benci mati-matian ini telah membuat saya sangat bergairah dan serasa muda kembali. Bukan karena tergiur fasilitas dan gaji besar, tapi saya merasa telah menemukan model transformasi korporasi yang sangat besar yang biasanya sulit untuk berubah. Saya juga tidak habis pikir mengapa PLN bisa berubah menjadi begitu dinamis. Beberapa faktor terlintas di pikiran saya.

Pertama, mayoritas orang PLN adalah orang yang otaknya encer. Problem-problem sulit cepat mereka pecahkan. Sejak dari konsep, roadmap sampai aplikasi teknisnya. Kedua, latar belakang pendidikan orang PLN umumnya teknologi sehingga sudah terbiasa untuk berpikir logis. Ketiga, gelombang internal yang menghendaki agar PLN menjadi perusahaan yang baik/maju ternyata sangat-sangat besar. Keempat, intervensi dari luar yang biasanya merusak sangat minimal. Kelima, iklim yang diciptakan oleh Menneg BUMN Bapak Mustafa Abubakar sangat kondusif yang memungkinkan lahirnya inisiatif-inisiatif besar dari korporasi.

Lima faktor itu yang membuat saya hidup bahagia di PLN. Dengan modal lima hal itu pula komitmen apa pun untuk menyelesaikan persoalan rakyat di bidang kelistrikan bisa cepat terwujud. Itulah sebabnya saya berani membayangkan, akhir tahun 2012 adalah saat yang sangat mengesankan bagi PLN.

Pada hari itu nanti, energy mix sudah sangat baik. Berarti penghematan bisa mencapai angka triliunan. Jumlah mati lampu sudah mencapai standar internasional untuk negara sekelas Indonesia. Penggunaan meter prabayar sudah menjadi yang terbesar di dunia. Ratio elektrifikasi sudah di atas 75%. Propinsi-propinsi yang selama ini dihina dengan cap “ayam mati di lumbung” sudah terbebas dari ejekan itu. Sumsel, Riau, Kalsel, Kaltim, Kalteng yang selama ini menjadi simbol “ayam mati di lumbung energi” sudah surplus listriknya.

Pada akhir tahun 2012 itu nanti, tepat tiga tahun saya di PLN, saatnya saya mengambil keputusan untuk kepentingan diri saya sendiri: berhenti! Saya ingin kembali jadi orang bebas. Tidak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan orang bebas. Apalagi orang bebas yang sehat, punya istri, punya anak, punya cucu dan he he punya uang! Bisa ke mana pun mau pergi dan bisa mendapatkan apa pun yang dimau. Saya tahu masa jabatan saya memang lima tahun, tapi saya sudah sepakat dengan istri untuk hanya tiga tahun.

Niat seperti itu sudah sering saya kemukakan kepada sesama direksi. Terutama di bulan-bulan pertama dulu. Tapi mereka melarang saya menyampaikannya secara terbuka. Khawatir menganggu kestabilan internal PLN. Mengapa? “Takut sejak jauh-jauh hari sudah banyak yang memasang strategi mengincar kursi Dirut, ujarnya. “Bukan strategi memajukan PLN,” tambahnya. “Lebih baik, selama tiga tahun itu kita menyusun perkuatan internal agar sewaktu-waktu Pak Dis meninggalkan PLN kultur internal kita sudah baik,” katanya pula.

Saya setuju untuk menyimpan “dendam tiga tahun” itu. Organisasi sebesar PLN memang tidak boleh sering goncang. Terlalu besar muatannya. Kalau kendaraannya terguncang-guncang terus bisa mabuk penumpangnya. Kalau 50.000 orang karyawan PLN mabuk semua, muntahannya akan menenggelamkan perusahaan.

Sepeninggal saya ini pun tidak boleh ada guncangan. Saya akan mengusulkan ke Menteri BUMN yang baru untuk memilih salah satu dari direksi yang ada sekarang, yang terbukti sangat mampu memajukan PLN. Kalau di antara direksi sendiri ada yang ternyata berebut, saya akan usulkan untuk diberhentikan sekalian. Tapi tidak mungkin direksi yang ada sekarang punya sifat seperti itu.

Saya sudah menyelaminya selama hampir dua tahun. Saya merasakan tim direksi PLN ini benar-benar satu-hati, satu-rasa, dan satu-tekad. Ini sudah dibuktikan ketika PLN menerima tekanan intervensi yang luar biasa besar, direksi sangat kompak menepisnya.

Kekompakan seperti itu yang juga membuat saya semakin bergairah untuk bekerja keras mempercepat transformasi PLN. Saya menyadari waktu tidak banyak. Keinginan untuk bisa segera menjadi orang bebas tidak boleh menyisakan agenda yang menyulitkan masa depan PLN. Itulah sebabnya motto PLN yang lama yang berbunyi “listrik untuk kehidupan yang lebih baik”, kita ganti untuk sementara dengan motto yang lebih sederhana tapi nyata: Kerja! Kerja! Kerja!

Tanggal 27 Oktober 2011 nanti, bertepatan dengan Hari Listrik Nasional, motto baru itu akan digemakan ke seluruh Indonesia. Kerja! Kerja! Kerja! Sebenarnya ada satu kalimat yang saya usulkan sebelum kata kerja! kerja! kerja! itu. Lengkapnya begini: Jauhi politik! Kerja! Kerja! Kerja!

Tapi teman-teman PLN menyarankan kalimat awal itu dihapus saja agar tidak menimbulkan komplikasi politik. Tentu saya setuju. Saya tahu, berniat menjauhi politik pun bisa kena masalah politik!

Sudah lama saya ingin naik business class yang baru dari Garuda Indonesia. Kesempatan ke Eropa ini saya pergunakan dengan baik. Toh bayar dengan uang pribadi. Saya dengar business classnya Garuda sekarang tidak kalah mewah dengan penerbangan terkenal lainnya. Saya ingin merasakannya. Saya ingin membandingkannya. Kebetulan saat umroh Lebaran lalu saya sempat naik business class pesawat terbaru Emirat A380 yang ada bar-nya itu.

Sejak awal, sejak sebelum menjabat CEO PLN, saya memang mengagumi transformasi yang dilakukan Garuda. Saya dengar di Singapura pun kini Garuda sudah mendarat di terminal tiga. Lambang presitise dan keunggulan. Tidak lagi mendarat di terminal 1 yang sering menimbulkan ejekan “ini kan pesawat Indonesia, taruh saja di terminal 1 yang paling lama itu!”.

Beberapa menit lagi saya akan merasakan untuk pertama kali business class jarak jauh Garuda yang baru. Saya seperti tidak sabar menunggu boarding. Di saat seperti itulah tiba-tiba….“Ini ada tilpon untuk Pak Dahlan,” ujar keluarga saya yang akan sama-sama ke Eropa sambil menyodorkan HP-nya.Telpon pun saya terima. Saya tercenung. “Tidak boleh berangkat! Ini perintah Presiden!” bunyi telpon itu. “Wah, saya kena cekal,” kata saya dalam hati.

Mendapat perintah untuk membatalkan terbang ke Eropa, pikiran saya langsung terbang ke mana-mana.

Ke Wamena yang listriknya harus cukup dan 100% harus dari tenaga air tahun depan. Ke Buol yang baru saya putuskan segera bangun PLTGB (pembangkit listrik tenaga gas batubara) agar dalam 8 bulan sudah menghasilkan listrik.

Ke PLTU Amurang yang tidak selesai-selesai.

Ke Flores yang membuat saya bersumpah untuk menyelesaikan PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) Ulumbu sebelum Natal ini. Saya tahu teman-teman di Ulumbu bekerja amat keras agar sumpah itu tidak menimbulkan kutukan.

Pikiran saya juga terbang Lombok yang kelistrikannya selalu mengganggu pikiran saya. Sampai-sampai mendadak saya putuskan harus ada mini LNG di Lombok dalam waktu cepat. Ini saya simpulkan setelah kembali meninjau Lombok malam-malam minggu lalu. Saya tidak yakin PLTU di sana bisa menyelesaikan masalah Lombok dengan tuntas.

Pikiran saya terbang ke Bali membayangkan transmisi Bali Crossing yang akan menjadi tower tertinggi di dunia.

Ke Banten selatan dan Jabar selatan yang tegangan listriknya begitu rendah seperti takut menyetrum Nyi Roro Kidul.

Meski masih tercenung di ruang tunggu Garuda, pikiran saya juga terbang ke Lampung yang enam bulan lagi akan surplus listrik dengan selesainya PLTU baru dan geothermal Ulubellu.

Juga teringat GM Lampung Agung Suteja yang saya beri beban berat untuk menyelesaikan nasib 10.000 petambak udang di Dipasena dalam waktu tiga bulan. Padahal dia baru dapat beban berat menyelesaikan 80.000 warga yang harus secara massal pindah mendadak dari listrik koperasi ke listrik PLN.

Pikiran saya juga terbang ke Manna di selatan Bengkulu. Saya kepikir apakah saya masih boleh datang ke Manna tanggal 30 Desember, seperti yang saya janjikan untuk bersama-sama rakyat setempat syukuran terselesaikannya masalah listrik yang rumit di Manna.

Saya terpikir Rengat, Tembilahan, Selatpanjang, Siak dan Bagan Siapi-sapi yang saya programkan tahun depan harus beres.

Saya teringat Medan dan Tapanuli: alangkah hebatnya kawasan ini kalau listriknya tercukupi, tapi juga ingat alangkah beratnya persoalan di situ: proyek Pangkalan Susu yang ruwet, ijin Asahan 3 yang belum keluar, PLTP Sarulla yang bertele-tele dan bandara Silangit yang belum juga dibesarkan.

Pikiran saya terus melayang ke Jambi yang akan jadi percontohan penyelesaian problem terpelik system kelistrikan: problem peaker. Di sana lagi dibangun terminal compressed gas storage (CNG) yang kalau berhasil akan jadi model untuk seluruh Indonesia. Saya ingin sekali melihatnya mulai beroperasi beberapa bulan lagi. Masihkah saya boleh menengok bayi Jambi itu nanti?

Juga ingat Seram di Maluku yang harus segera membangun mini hidro. Lalu bagaimana nasib program 100 pulau harus berlistrik 100% tenaga matahari. Ingat Halmahera, Sumba, Timika…..

Tentu saya juga ingat Pacitan. PLTU di Pacitan belum menemukan jalan keluar. Yakni bagaimana mengatasi gelombang dahsyat yang mencapai 8 meter di situ. Ini sangat menyulitkan dalam membangun breakwater untuk melindungi pelabuhan batubara.

Dan Rabu 23 Oktober lusa saya janji ke Nias. Dan bermalam di situ. Empat bupati di kepulauan Nias sudah bertekad mendiskusikan bersama bagaimana membangun Nias dengan lebih dulu mengatasi masalah listriknya.

Yang paling membuat saya gundah adalah ini: saya melihat dan merasakan betapa bergairahnya seluruh jajaran PLN saat ini untuk bekerja keras memperbaiki diri. Saya seperti ingat satu persatu wajah teman-teman PLN di seluruh Indonesia yang pernah saya datangi.

Dengan pikiran yang gundah seperti itulah saya berdiri. Mengurus pembatalan terbang ke Eropa. Menarik kembali bagasi, membatalkan boarding, mengusahakan stempel imigrasi dan meninggalkan bandara.

Hati saya malam itu sangat galau. Saya sudah terlanjur jatuh cinta setengah mati kepada orang yang dulu saya benci: PLN. Tapi belum lagi saya bisa merayakan bulan madunya saya harus meninggalkannya.

Inikah yang disebut kasih tak sampai?

Dahlan Iskan

CEO PLN

Saturday, August 20, 2011

Berguru ke Negeri Cina: Pendidikan Ala Pesantren


Bersama pimpinan 29 PTS se jatim, saya mewakili UNIPDU berkesempatan mengunjungi Negara Cina selama seminggu untuk menyaksikan langsung dinamika pemerintah dan masyarakat di sana yang mampu bertahan bahkan menundukkan gempuran budaya Barat. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari perjalanan singkat tersebut, berikut ini di antaranya.



Guru TK di atas Dosen

Istilah full day school yang biasa menjadi nilai lebih sekolah-sekolah tertentu di sini, tidak dikenal di negeri tirai bambu itu. Karena semua proses belajar mengajar dimulai pukul 06.00 sampai 17.00. Pada jam-jam tersebut anda akan sulit menemukan anak usia sekolah berada di jalanan, sebab anak yang bolos berikut orangtuanya diancam hukuman denda sekaligus kurungan.

Di sana juga tidak ada istilah pulang pagi akibat gurunya rapat atau sedang melayat seperti di sini. Seluruh kalender akademik digariskan oleh kementrian pendidikan secara ketat dengan masa belajar dan musim liburan yang serentak sama. Dampak positif jam belajar yang cukup panjang di sekolah adalah terciptanya ketenangan orangtua beraktivitas, sehingga mereka yang rata-rata bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 itu lebih produktif kinerjanya.

Bila di negeri kita, sekolah gratis masih jadi “jualan” kampanye pilkada, di Cina daratan seluruh biaya pendidikan dan buku mulai SD sampai SMP ditanggung pemerintah, baru untuk tingkat SMA, orangtua harus menyediakan dana buat belanja buku-bukunya. Sementara di Macau (daerah otonomi khusus Cina) murid SMA-nya masih memperoleh uang buku kurang lebih 800 ribu rupiah setiap bulan.

Di pihak lain, kesejahteraan para guru dan dosen sangat terjamin. Hanya saja, dalam hal penghargaan pada pendidik, pemerintah Cina memiliki pemikiran yang sangat kontradiktif dengan pola pikir kita. Karena di negeri sosialis tersebut, semakin rendah tingkat pendidikan yang ditangani, semakin tinggi gaji pokoknya. Sebagai misal, dua pendidik masuk di tahun yang sama, yang pertama guru TK dan yang kedua Dosen Universitas, maka guru TK menerima gaji pokok 7 ribu yuan (Rp. 10 jutaan), sedang si dosen hanya menerima 3 ribu yuan.

Menurut narasumber saya, kebijakan itu diambil karena pemerintah memandang betapa pentingnya meletakkan dasar-dasar nilai etika maupun kebangsaan sedini mungkin. Dia mengumpamakan manusia seperti batang pohon katika masih muda yang dapat dibentuk dengan mudah sesuai selera, sehingga masa-masa selanjutnya hanya merupakan penegasan atau penguatan dari ujud yang sudah terbentuk itu. Pertimbangan lainnya, bahwa pada masa-masa tersebut seorang anak sedang butuh-butuhnya pendampingan yang total, maka seorang guru pada usia anak-anak dan remaja (ABG) harus memiliki kesabaran ekstra dan keteladanan khusus sehingga mampu menjadi orangtua sekaligus panutan mereka. Tanpa itu, nilai ketaatan murid pada guru yang telah membudaya, akan kehilangan makna. Kesabaran dan selalu menjaga kepatutan untuk diteladani itulah yang menjadikan gaji mereka lebih tinggi dari dosen.

Adapun untuk pendidikan lanjutan, universitas atau akademi, pemerintah memberi penduduk lokal subsidi 50 persen biaya pendidikan dari biaya seluruhnya yang dikenakan pada mahasiswa asing. Para pengajarnya dituntut untuk sesering mungkin melakukan penelitian agar gajinya meningkat sepadan atau melebihi gaji guru TK tadi. Dampaknya luar biasa. Mahasiswa hampir tidak memiliki waktu luang, karena untuk satu mata kuliah saja, seorang dosen bisa mengajak penelitian lapangan sampai lebih 2 kali. Mengingat penelitian bagai pupuk bagi ilmu pengetahuan, maka bisa dibayangkan betapa pesat kemajuan ilmu di sana.

Bagaimana dengan mahasiswa di Jombang dan Mojokerto atau di wialayah Indonesia lainnya.? Saya tidak sampai hati menilai, lebih-lebih dalam hal pergaulan dan cara berpakaian.

Meski masyarakat Cina tidak mengenal istilah “muhrim” atau “aurat”, para mahasiswa dan mahasiswi di sana sangat menjaga jarak satu sama lain. Dalam hal busana, mahasiswinya berpakaian sangat brukut (tertutup) walau udaranya tidak begitu dingin. Ada anggapan, hanya orang yang kurang berpendidikan yang senang berpakaian terbuka.

Selama di Beijing maupun Senzen saya tidak menemukan mahasiswa berlainan jenis jalan bersama bergandengan sebagaimana di kampus-kampus sini. Di perpustakaan pun mereka mengelompok dengan sendirinya seolah ada sekat antara pria dan wanita. Mereka hindari pacaran karena selain tidak sesuai budaya, juga dinilai hanya buang-buang waktu dan uang saja yang bisa menghambat studinya. Kalaupun saat ini kita melihat di televisi hal yang berbeda dari itu, ketahuilah bahwa yang ditayangkan adalah gaya hidup remaja Hongkong yang sudah terinfiltrasi budaya Barat bukan Cina “aslinya”.



Kota Santri

Dengan begitu besarnya tekad pemerintah Cina untuk menjadikan warganya sebagai sarjana yang berkualitas, maka seluruh mahasiswa harus tinggal di asrama kecuali yang tugas belajar dari instansi pemerintah atau mahasiswa luar negeri. Menariknya bahwa di asrama itu diatur sedemikian rupa sehingga satu kamar yang biasanya terdiri dari duabelas orang (enam dipan susun) berasal dari suku yang berbeda. Dengan demikian para penghuni kamar bisa berdiskusi tentang adat budaya masing-masing sehingga menumbuhkan spirit saling memahami untuk memperkuat persatuan Cina yang sedikitnya terdiri dari 56 suku bangsa.

Menurut penjelasan A Liang (dosen sastra melayu Jinan University yang menjadi narasumber saya), pengasramaan itu dimaksudkan sebagai laboratorium bagi mahasiswa untuk mengenal betapa beragamnya karakter manusia yang kelak akan dihadapi di masyarakat sehingga para sarjananya nanti lebih sigap mengelola dan memimpin mereka dengan sikap tasamuh (toleran)-nya.

Ketika mendengar penjelasan sambil keliling kampus saya merasakan atmosfir pesantren yang sangat kuat bagai di kota santri di tanah air kita ini. Selain itu, tanpa saya sadari di benak saya menerawang jauh ke masa Nabi Muhammad saw. Jangan-jangan pola pendidikan yang sistemik, terstruktur dan penghormatan para murid yang tinggi pada guru di Cinalah yang melatar-belakangi disabdakannya anjuran (hadits) Nabi: "tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina". Wallahu'alam bishshawab. (zaimuddinasad@yahoo.co.id)

sumber: here

Friday, July 15, 2011

MENJADI KREATIF & PRODUKTIF

Menjadi kreatif dan produktif pastilah merupakan impian semua eksperimenter. Untuk mencapai prestasi tersebut, pastilah diperlukan usaha keras. Pada dasarnya, yang berhak menilai prestasi seorang eksperimenter adalah masyarakat. Masyarakat cenderung melihat frekuensi keberhasilan mewujudkan ide untuk menilai produktivitas seorang eksperimenter. Sedangkan untuk menilai kreativitas eksperimenter, masyarakat cenderung melihat orisinalitas dan manfaat dari ide-ide yang berhasil diwujudkannya.

Tahap pertama yang harus dilakukan seorang penulis atau seorang eksperimenter / peneliti adalah menemukan gagasan atau ide tentang apa yang hendak ditulis atau diteliti. Sampai saat ini, saya belum pernah mendengar kabar kalau ada penulis atau peneliti yang berani mengatakan bahwa menemukan ide kreatif merupakan perkara yang mudah. Demikian juga, belum ada resep cespleng yang dapat digunakan setiap orang untuk menemukan ide cemerlang. Pengalaman masing-masing penulis atau peneliti dalam menemukan ide sangatlah beragam dan unik. Oleh karena itu, sangatlah sulit untuk membuat generalisasi yang dapat dipakai oleh semua orang pada semua kasus. Namun demikian, masih terdapat beberapa kesamaan yang setidaknya dapat dijadikan referensi untuk kita semua.

Setelah menemukan ide, tahap selanjutnya adalah mewujudkan ide tersebut. Pekerjaan paling berat dan sulit harus dilakukan pada tahap ini. Oleh karena itu kegagalan juga sering terjadi pada tahap realisasi ini.

Menyadari pentingnya dua tahapan di atas, maka saya mencoba untuk berbagi pengalaman tentang hal tersebut. Pengalaman saya ini sifatnya personal dan unik sehingga sangat mungkin tidak bisa ditiru atau dialami oleh orang lain. Walaupun demikian, pengalaman tersebut setidaknyadapat dijadikan sebagai bahan pembanding atau referensi terutama bagi para eksperimenter pemula. Untuk memperkaya khasanah kita, saya juga mengundang Anda para neter untuk menuliskan di forum ini tentang pengalaman Anda sebagai eksperimenter.

KRITERIA KREATIF

Kreatif tidak sama dengan waton bedo ( asal berbeda ). Menurut pendapat saya, suatu ide dapat dikatakan kreatif jika ide tersebut BARU ( singkatan dari Bermanfaat, Asli, Realistis, dan Unggul ) :

1. Bermanfaat
Ide bernilai tinggi hanya jika berpotensi memberi manfaat bagi banyak orang atau masyarakat luas dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Ide yang demikian, berpeluang besar untuk memberi keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun penemunya.

2. Asli
Ide bernilai tinggi jika benar-benar asli ( orisinil ) bukan tiruan, curian atau jiplakan dari ide orang lain. Selain itu juga bukan merupakan duplikasi tanpa sengaja dari ide orang lain yang sudah lebih dulu diwujudkan dan atau dipublikasikan

3. Realistis
Ide sederhana yang relatif mudah diwujudkan sering kali jauh lebih berharga daripada ide muluk-muluk yang hanya merupakan otopia belaka.

4. Unggul
Ide baru juga bernilai tinggi hanya jika mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan teknik yang sudah ada atau cara yang sudah biasa digunakan sebelumnya. Sebagai contoh : lebih murah, lebih praktis, lebih ringan, lebih hemat, lebih enak, lebih aman, dan segala kebaikan yang lainnya.

MENUMBUHKAN KREATIVITAS

Ide kreatif tidak jatuh begitu saja dari langit ketika orang lagi bengong seperti mendapat wangsit. Prinsipnya, barang siapa tidak menanam maka dia tidak akan memetik hasilnya. Bibit-bibit ide kreatif perlu ditanam, dipupuk, dan disirami dalam diri kita selama bertahun-tahun bahkan selama hidup. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk hal tersebut antara lain :

1. Banyak membaca
Pada prinsipnya, mencari ide bukanlah mencari sesuatu yang berada di luar diri kita. Mencari ide adalah mencari sesuatu yang sudah ada dalam pikiran kita. Dengan banyak membaca, kita mengisi pikiran dengan bahan-bahan berupa potongan-potongan informasi yang dapat dianalogikan seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzel. Bila rangkaian potongan-potongan puzzel informasi tersebut telah lengkap atau setidaknya hampir lengkap, maka akan tampak sebuah gambar/bentuk yang memiliki makna cukup jelas yang dapat berupa ide kreatif. Adapun potongan-potongan puzzel yang belum ada, harus dilengkapi pada saat mewujudkan ide tersebut. Bacaan tidak harus berupa buku, tetapi bisa majalah, koran, atau artikel-artikel dan jurnal-jurnal penelitian di internet. Yang penting, isinya bermutu dan sesuai dengan kebutuhan dan minat kita. Semakin banyak informasi bermutu yang kita peroleh, berarti semakin banyak potongan puzzel yang kita kumpulkan. Hal itu berarti peluang untuk mendapatkan ide kreatif semakin besar. Selain itu juga sangat membantu upaya menghindari duplikasi ( secara tidak sengaja ) ide dari orang lain yang sudah diwujudkan dan atau dipublikasikan lebih dahulu.

2. Sering mengamati
Mengamati tidak sama dengan melihat. Mengamati adalah melihat dengan mata dan otak. Kebanyakan orang, kalau melihat sesuatu benda atau kejadian yang menarik akan berhenti pada melihat dan mengagumi saja. Seorang peneliti tidak hanya sampai di situ saja, tetapi kemudian berfikir bagaimana bisa, mengapa demikian, dan seterusnya. Latihan mengamati ini perlu dilakukan sebagai kebiasaan hidup dan bukan hanya dilakukan ketika hendak meneliti saja.

3. Sering berdiskusi
Berdiskusi dengan orang lain yang mempunyai minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang sama dengan kita sangat diperlukan untuk memperdalam dan memperluas wawasan. Namun demikian, diperlukan juga diskusi dengan orang dengan minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang lain agar kita memiliki pemahaman yang lebih komprehensif pada aspek-aspek yang melingkupi bidang yang kita minati. Format diskusi tidak perlu formal seperti seminar atau diskusi panel. Obrolan santai sambil minum kopi justru sering lebih efektif. Manfaat serupa juga dapat diperoleh dengan mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam forum-forum diskusi di internet.

4. Mendengar keluhan, kritik dan saran
Kalau kita bisa mendengar dan menyaring keluhan, kritik, dan saran dari orang lain, tidak jarang terdapat cikal bakal ide cemerlang yang tanpa sengaja mereka sampaikan kepada kita.

5. Mengagumi dan menikmati alam
Sesekali menikmati keindahan alam seperti gunung, sungai, danau, hutan atau laut sering memberikan banyak inspirasi.

6. Berfikir tidak mengikuti mainstream
Perlu belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda dengan yang dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun tidak asal berbeda, tapi memiliki kelebihan dibandingkan dengan cara biasa. Menulis atau menikmati humor atau cerita lucu juga dapat membantu. Saya meyakini hal tersebut karena humor akan lucu kalau ada pembengkokan logika umum ( mainstream ) secara tiba-tiba dan tidak terduga.

7. Berdoa dan mohon petunjuk dari Sang Pencipta
Segala usaha manusia tidak akan ada hasilnya jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

MENANGKAP IDE KREATIF

Seorang teman kuliah di Yogya berinisial HG yang beragama Budha dan berasal dari Kalbar pernah bercerita kepada saya tentang ilham. Kejadiannya kira-kira begini :

HG : “Jika ada seberkas cahaya yang melintas di langit di tengah lautan pada malam yang sunyi, seperti itulah ilham”.
Paijo : “Melintasnya apakah berkali-kali dan lama atau bagaimana ?”
HG : “Tidak, melintasnya sekali saja dan hanya sekejab mata”
Paijo : “Kalau seperti itu, bagaimana kita dapat menangkapnya ?”
HG : “Ya kita harus datang ke laut dan berjaga sepanjang malam karena kita tidak tahu cahaya tersebut melintas di langit sebelah mana dan waktunya kapan”
Paijo : “Cahaya tersebut melintas setiap malam atau hanya malam-malam tertentu saja ?“
HG : “Yang jelas tidak setiap malam, dan tidak bisa diketahui malam yang mana”

Kemudian saya menceritakan kepadanya tentang kejadian yang saya alami ketika mendapatkan ide bagus. Setelah itu HG berkomentar bahwa apa yang saya alami tersebut merupakan pengalaman langka yang dialami hanya oleh segelintir orang yang sangat beruntung saja. Menurutnya, saya merupakan salah seorang yang dikaruniai kepekaan dan kemampuan untuk menangkap ilham tersebut. Sejak hari itu sampai sekarang, cerita kiasan tersebut ternyata telah banyak menyadarkan dan mengubah diri saya. Betapa tidak, kiasan tersebut menggambarkan betapa sukarnya menangkap ide, tapi saya telah terbukti dapat melakukannya berulang kali tanpa sengaja. Sampai hari itu, saya sendiri juga tidak mengerti bagaimana saya melakukannya. Sepertinya, semua terjadi begitu saja secara kebetulan. Sejak saat itu, saya berrtekad untuk tidak akan menyianyiakan karunia tersebut yang telah diberikan Tuhan kepada saya.

Sebagai seorang eksperimenter yang selalu penasaran, saya mencoba mencari referensi-referensi ilmiah atas apa yang saya alami tersebut dan saya berhasil mendapatkannya. Ternyata, hasil penelitian membuktikan bahwa otak tidak pernah berhenti bekerja selama pemiliknya masih hidup walaupun sedang tidur ataupun pingsan. Setelah pemiliknya mati sekalipun ( mati klinis = nafas dan jantung berhenti ), otak tidak langsung ikut mati. Jadi dapat disimpulkan bahwa otak akan terus menerus mencerna informasi-informasi yang diterimanya tanpa kita sadari. Akibatnya, kita tidak bisa mengetahui dengan tepat, kapan suatu rangkaian informasi telah selesai diproses dan menghasilkan sebuah ide baru. Namun demikian, masih ada kemungkinan untuk mengenali semacam sinyal atau tanda ketika ide baru tersebut akan muncul. Pengalaman saya, menjelang ide baru muncul biasanya ditandai dengan rasa gelisah dan keteganan ( stress ) yang meningkat tanpa sebab yang jelas. Kegelisahan atau ketegangan akan hilang dengan sendirinya ketika ide sudah muncul.

Yang sering menjadi masalah adalah waktu dan tempat munculnya ide yang tidak pernah dapat diduga-duga persis seperti dalam kiasannya. Waktunya bisa pagi, siang, sore, maupun malam. Boro-boro mau tau jamnya, bulan atau tahunnya saja tidak bisa diramalkan. Kadangkala selama bertahun-tahun tidak ada ide melintas, kadangkala dalam sebulan ada beberapa ide yang melintas. Sedangkan tempatnya bisa di dapur, kamar tidur, kamar mandi, kantor, pasar, bahkan di perjalanan. Singkatnya, kita tidak bisa memilih waktu dan tempatnya. Selain itu, durasinya sangat singkat dan tidak sepenuhnya dalam kontrol kesadaran kita ( mirip mimpi atau lamunan singkat ) sehingga cepat sekali hilang dari pikiran ( lupa total ) kalau terlambat sedikit saja untuk menyadari dan menangkap ide pokoknya. Perkiraan saya, kejadiaannya berlangsung sangat cepat dalam waktu kurang dari sepersepuluh detik. Hal tersebut seringkali membuat saya gagal menangkap ide yang muncul dan harus rela kehilangan ide tersebut mungkin untuk selamanya. Paling tidak, sampai saat ini saya belum pernah mengalami kemunculan ulang untuk ide yang pernah gagal ditangkap sebelumnya. Namun demikian, ada kemungkinan ide yang sama pernah muncul kembali dalam bentuk dan pengalaman yang berbeda dengan sebelumnya tanpa saya sadari. Segera setelah terjadi kegagalan seperti itu, saya sadar sepenuhnya bahwa barusan ada ide bagus yang melintas tapi tidak dapat mengingat sama sekali ide apa atau bahkan tentang apa. Benar-benar lupa total tentang apa yang barusan melintas di pikiran, ingat sepotongpun tidak. Karena penasaran, saya pernah beberapa kali mencoba memaksakan diri untuk mengingat-ingat yang melintas tersebut seharian selama beberapa hari, hasilnya juga nihil. Untuk menghindari kegagalan dalam menangkap ide berikutnya, biasanya saya berusaha untuk lebih waspada pada saat ada tanda-tanda akan munculnya ide. Pada saat ide tersebut muncul, biasanya berwujud seperti suara atau bayangan benda yang berkelebat sekilas di pikiran ketika sedang berfikir atau ketika sedang melakukan aktifitas sehari-hari. Untuk menangkapnya, saya lalu segera menghentikan segala aktifitas dan kemudian berfikir keras sejenak tentang apa yang barusan melintas di pikiran sampai ide tersebut tertangkap secara utuh. Untuk menghindari kelupaan, biasanya saya langsung membuat catatan atau sketsa di buku penuangan ide. Jika sedang tidak berada di rumah, saya biasanya menggunakan kertas seadanya. Jika kebetulan tidak ada sesuatupun untuk mencatat, saya visualisasikan di pikiran saya dalam waktu cukup lama dan berulang-ulang sampai saya yakin dapat mengingatnya sampai ada kesempatan untuk mencatat atau membuat sketsanya. Setelah ada waktu luang, barulah catatan atau sketsa yang saya buat tersebut dibuka kembali untuk difikirkan dan diuraikan secara lebih mendetail menjadi suatu desain. Tidak jarang terjadi bahwa ide yang sudah dicatat atau dibuat sketsanya, saya biarkan mengendap dan baru kemudian ditindaklanjuti dan diwujudkan bertahun-tahun kemudian karena ada kesenjangan yang lebar antara ide yang ada dengan kemampuan teknis yang saya kuasai. Meskipun demikian, ide tersebut tidaklah sia-sia karena jika tidak sempat saya wujudkan, masih dapat diwariskan kepada generasi penerus saya untuk diwujudkan. Jika suatu ketika ada orang lain yang lebih dahulu berhasil mewujudkan ide yang kebetulan sama dengan ide saya, maka saya memberi tanda pada catatan atau sketsa ide tersebut untuk menghindari duplikasi.

Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata, saya akan ceritakan beberapa kejadian yang saya alami dalam menangkap ide yang saya masih bisa mengingat detail kejadiannya :

1. Kincir tongkat jungkat-jungkit ( sekitar tahun 1976 )
Idenya muncul pada siang hari ketika saya menjaga padi di sawah sambil bermain-main dengan sebuah tongkat penggembala itik yang terbuat dari bambu. Yang melintas berupa bayangan berbentuk bambu runcing, jungkat-jungkit dan pancuran. Ide tersebut sudah terwujud dan sampai sekarang sudah mengalami 2 kali penyempurnaan.

2. Booster mesin ( sekitar tahun 1983 )
Idenya muncul ketika saya naik bis dari Muntilan ke Magelang, persisnya di depan Rumah Makan Cindelaras sebelum jembatan kali Belan. Yang melintas berupa bayangan sebuah pompa yang menghubungkan karburator dengan mesin mobil. Beberapa bulan kemudian, saya baru menyadari bahwa sudah ada orang lain yang lebih dahulu menemukan yang disebut dengan tubin booster ( turbo ). Bedanya, ide saya menggunakan piston dan bukan turbin. Selain itu, variabel yang mengatur kerja booster bukan tekanan gas buang melainkan beban torsi dan RPM pada poros mesin. Ide tersebut saya petieskan karena merupakan duplikasi dari ide orang lain yang sudah lebih dahulu diwujudkan dan dipatentkan.

3. Jemuran Pintar ( sekitar tahun 1984 )
Idenya muncul malam hari ketika duduk di teras. Yang melintas berupa bayangan rel gorden yang digantungi hanger dan baju. Ide tersebut baru ditindaklanjuti dan terwujud 21 tahun kemudian dan berhasil menjadi finalis peringkat 1 lomba LED 2005 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh jurusan Teknik Elektro dan Informatika ITB.

4. Kolektor sinarmatahari sistim cluster dengan autotracking ( sekitar tahun 1995 )
Idenya muncul malam hari ketika sedang membuat gambar lingkaran menggunakan jangka. Yang melintas berupa bayangan antena parabola yang ditempelkan pada pegangan jangka. Ide tersebut rencananya akan saya buat prototypenya sekitar 2-3 tahun yang akan datang.

5. Program komputer ( sekitar tahun 2000 )
Masalah pemrograman yang sudah buntu selama lebih dari 1 minggu padahal dikejar deadline. Ide solusinya muncul ketika di perjalanan pulang dari tempat kerja. Yang melintas berupa bayangan tulisan / rumus dan suara mengeja tulisan tersebut. Teman sekantor yang saya bonceng sempat bingung ketika saya tiba-tiba menghentikan motor di pinggir jalan dekat lapangan golf. Mulai hari kerja berikutnya, pemrograman lancar berkat menggunakan ide tersebut.

6. Mesin Paijo generasi ke-2 ( Jumat, 28 Juli 2006 )
Merupakan penyempurnaan dari percobaan pertama yang belum berhasil dan tidak ada perkembangan selama lebih dari 5 tahun. Idenya muncul pada pagi hari ( sekitar jam 06.15 ) ketika sedang mandi. Yang melintas berupa bayangan prototype mesin pertama, pompa hidram dan ekor kucing silih berganti. Ide tersebut sedang dalam tahap pembuatan prototype ( sudah selesai sekitar 75 % ). Cerita lengkap kejadiannya ada di halaman MESIN STX-2.

7. Sepeda bermesin ( Okt 2006 )
Idenya aneh karena mesinnya tidak memutar roda atau baling-baling, bahkan tanpa rotor sama sekali. Idenya muncul malam hari ketika sedang cerita dengan anak saya tentang sepeda. Yang melintas berupa bayangan meriam bambu yang dipanggul seperti memanggul bazoka. Yang unik, desain mesin sepeda yang dimaksud ternyata tidak berhubungan dengan bentuk maupun cara kerja meriam bambu, melainkan modifikasi dari Mesin Paijo generasi ke-2 tersebut di atas. Prototype akan dibuat segera sesudah proyek Mesin Paijo selesai.

MERALISASIKAN IDE

Setelah ide kreatif berhasil ditangkap, pekerjaan belum selesai. Pekerjaan besar justru baru dimulai setelah adanya ide kreatif tersebut. Thomas A. Edison mengatakan :”Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”. Ibarat orang berjalan, mempunyai ide kreatif barulah merupakan langkah pertama dan masih ada 99 langkah selanjutnya yang harus dijalani jika mau sukses. Namun demikian, ide kreatif sangatlah penting karena tidak mungkin ada langkah ke-2 sampai langkah ke-100 jika tidak ada langkah pertama.

Untuk mewujudkan sebuah ide kreatif, perlu usaha keras pantang menyerah. Terutama untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya banyak. Adapun kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk melancarkan pekerjaan berat tersebut antara lain :

1. Membentuk team kerja
Untuk ide yang sederhana, dapat dikerjakan sendiri tanpa banyak hambatan. Sedangkan untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya besar, lebih bijaksana kalau dikerjakan oleh team. Prinsipnya musti win-win solution. Pembagian tugas selayaknya disertai dengan pembagian hasil yang adil. Jika perlu, gunakan konsultan ahli untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berada di luar kemampuan team. Pengetahuan dan ketrampilan dari masing-masing anggota team hendaknya beraneka macam sehingga saling melengkapi satu sama lain.

2. Membuat rencana kerja
Rencana kerja yang detail dan jelas akan membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu dan sumber daya yang ada. Peran flowchart dan time table sangat membantu untuk menentukan alur tercepat jika ada beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan secara simultan.

3. Mencari dana
Tanpa dana yang cukup, pekerjaan tidak mungkin dapat dilakukan. Dana dapat bersumber dari kantong sendiri atau dari donatur ( sponsor ). Untuk meyakinkan donatur atau sponsor, musti ada dulu team kerja yang solid dan rencana kerja yang baik. Tanpa itu, tidak mungkin ada donatur atu sponsor yang bersedia mengucurkan dananya. Jika dana bersumber dari donatur atau sponsor, perlu diperhatikan perjanjian bagi hasil dan resiko yang adil dan transparan kecuali dana hibah. Hal itu untuk menghindari sengketa di kemudian hari.

4. Kerja keras
Supaya sukses, kita perlu kerja keras dengan mengerahkan segenap kemampuan secara 100 %. Jika tidak, maka kegagalan sudah menghadang di depan mata. Bagian ini sangat berat karena belum ada seorangpun yang berpengalaman membuat alat atau benda yang sedang kita kerjakan. Justru kitalah orang pertama yang akan memiliki pengalaman tersebut.

5. Menjaga semangat kerja
Menjaga agar tetap semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan sangatlah penting. Sebelum dan selama bekerja, perlu ditanamkan keyakinan bahwa ide tersebut mungkin untuk diwujudkan. Harapan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jika proyek berhasil bukanlah hal yang tabu dan terbukti cukup kuat mempertahankan semangat kerja. Namun yang paling kuat adalah jika kita bisa menikmati pekerjaan tersebut tanpa memikirkan untung ruginya. Pesta kecil untuk merayakan keberhasilan ujicoba komponen atau bagian alat juga dapat membantu memelihara semangat kerja.

6. Evaluasi dan pengujian
Setelah melewati tahap-tahap tertentu yang sudah direncanakan, musti dilakukan evalusi proses dan hasil kerja untuk peningkatan mutu proses pada tahap berikutnya. Pengujian komponen alat juga harus dilakukan secara bertahap begitu komponen tersebut selesai. Dengan cara ini, kegagalan yang tidak perlu dan konyol dapat dicegah.

7. Mengasah gergaji
Ini adalah kiasan untuk sentiasa mempertajam pengetahuan dan ketrampilan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan ketrampilan teknis yang kita kuasai dibandingkan dengan tingkat kecanggihan dan kompleksitas ide kreatif yang akan diwujudkan. Untuk melakukannya perlu usaha keras selama bertahun tahun terutama jika kesenjangannya cukup jauh. Pembentukan team kerja dan penggunaan konsultan dapat membantu mengatasi kesenjangan yang takterjembatani namun perlu tambahan biaya.
Mengasah gergaji tersebut bukan baru dilakukan setelah ada ide, melainkan dilakukan terus-menerus untuk sebanyak mungkin bidang kerja yang sering melingkupi masalah-masalah yang kita minati untuk diteliti. Sebagai contoh, untuk eksperimenter teknologi tepat guna seperti saya, sebaiknya mempelajari mekanika, termofisika, termodinamika, elektronika, listrik dasar, logika, kimia dasar, ekonomi, komputer, gambar teknik, dsb. Jika tidak bisa menguasai sampai mendetail, setidaknya dasar-dasarnya. Adapun ketrampilan yang perlu dikuasai adalah semua skill yang berhubungan dengan pekerjaan kayu, logam, dan bangunan. Jika tidak bisa sampai mahir, setidaknya terampil.

Demikian pengalaman yang dapat saya bagikan kepada para neter dan semoga bermanfaat.

Humanity|Respect|Try To Not Cry