Friday, March 02, 2007

Mencari Calon Eksekutif di Antara Fresh Graduate

Mencari Calon Eksekutif di Antara Fresh Graduate
No. 35 - Februari 2007
Persaingan antar perusahaan di berbagai industri di era globalisasi ini layaknya persaingan di arena lari maraton. Seperti layaknya pelari yang dituntut harus memiliki stamina dan kecepatan agar bisa mencapai garis finish, perusahaan juga membutuhkan karyawan yang kreatif, enerjik, segar dan tahan banting untuk memenangi persaingan atau setidaknya mencapai target yang digariskan.
Bila seorang pelari ingin mencapai sekedar garis finish ia membutuhkan stamina dan ketahanan fisik untuk menyelesaikan lomba. Namun bila ia ingin juara ada satu faktor lagi yang harus dimiliki yaitu kecepatan. Hal yang sama juga dialamai perusahaan dimana saat ini kita berada diera yang membutuhkan kecepatan untuk memenangi persaingan. Disinilah kita akan melihat peran yang sangat signifikan dari divisi HRD dalam pencapaian perusahaan. Strategi perekrutan dan pengembangan karyawan bisa menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan atau kegagalan sebuah perusahaan.
Menghadapi hal ini tentunya setiap perusahaan memiliki strategi dan kebijakan masing-masing. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan merekrut freshgraduate. Salah satu contohnya yaitu Trans Corp yang memakai strategi untuk merekrut fresh graduate untuk mengarungi persaingan industri televisi nasional. Dan terbukti saat ini Trans TV sebagai salah satu bagian dari Trans Corp mengakui bahwa tenaga-tenaga muda tersebut menjadi faktor kesuksesan mereka menjadi stasiun televisi nomor dua terbesar di tanah air.
Perekrutan fresh graduate sebenarnya bisa juga dijadikan sebagai ajang untuk mencari calon eksekutif sebagai salah satu program succession planning perusahaan. “Untuk mencetak orang seperti itu itu dikaitkan banyak sekali dalam berbagai program seperti program officer development, dan lain-lain”, ujar Andi Mohammad Hatta, President Director PT. John Clements Consultant Indonesia saat ditemui HC beberapa waktu lalu. Ia berpendapat bahwa untuk mencari sosok yang bisa dicalonkan untuk menduduki kursi eksekutif di perusahaan pertama kali yang harus dilakukan adalah mengidentify.
Dari para fresh graduate tersebut ia mengkategorikan orang yang punya kapasitas tanpa batas sebagai orang yang nantinya akan menjadi top eksekutif. Selain itu menurut Andi, yang tak kalah penting-nya orang itu harus punya karakter leadership yang kuat. “Dia harus punya leadership agar bisa memimpin dengan benar. Karena meskipun dia bisa datangkan konsultan, tapi dia mesti punya visi kedepan bagaimana membangun perusahan itu kedepan. itu yang saya sebutkan leadership”, tegasnya. Selain itu, Andi berpendapat bahwa orang ini harus mampu memotivasi agar orang-orang yang menjadi anak buahnya bisa melihat bahwa visinya benar-benar workable.
Andi menjelaskan bahwa calon leader tersebut bisa dilihat secara tersirat. “Itu kelihatan kok. Kalau dia punya talent seorang leader confidence nya kelihatan. Secara langsung atau tidak langsung orang lain mengikuti apa yang dia katakan”. Dari situ Andi bisa melihat bahwa orang tersebut sudah punya modal sebagai calon eksekutif dan tinggal dibentuk dengan memberikan pendidikan yang tepat.
Andi yang juga menjabat sebagai komisaris bank Niaga ini memaparkan strateginya bahwa setelah ia berhasil mengidentify orang yang tepat maka selanjutnya dia memberikan program yang tepat untuk pengembangan kemampuannya. “Bila kita telah mengidentify orang tersebut, kita bisa mempercepat programnya. Kalau mestinya orang ini selesai 4-5 tahun untuk menjadi leader mungkin bisa dipotong menjadi 3 tahun. Tetapi tetap melewati satu program, nggak bisa langsung begitu”, ujarnya.
Fresh graduate sebagai eksekutif?
Untuk mencari seorang eksekutif Andi melihat bahwa perlu proses yang panjang dan tidak bisa dilakukan begitu saja. Jadi ia berpendapat jangan sekali-kali menempatkan seorang fresh graduate untuk langsung duduk di posisi tersebut. Ia menilai meskipun orang tersebut lulusan terbaik dengan status cumlaude dari universitas terbaik sekalipun tetap saja hal itu tidak menjamin dia akan sukses memimpin perusahaan. “Kalau baru tamat dari university, belum pernah punya pekerjaan sebelumnya lalu ingin jadi top eksekutif. Ingat ya bahwa yang namanya top eksekutif itu kan mesti membuat keputusan dan keputusannya itu benar-benar mengikat perusahaannya. Lalu image. Anda bayangkan kalau ada eksekutif masih hanya teori aja dikepalanya. Dia kan harus berbicara dengan eksekutif lain yang berpengalaman.”, lanjut Andi.
Andi menilai bahwa pengalaman sangat penting sebelum seseorang duduk diposisi top eksekutif. “Jadi kesimpulannya kalau baru tamat hari ini dan sebelumnya nggak punya pengalaman, berarti sebuah kesalahan sangat besar itu”, tambahnya. Oleh karena itu menurutnya terlalu cepat kalau seorang fresh graduate langsung menjadi top eksekutif. Karena harus ada training yang dilakukan, pengalaman yang dia mesti alami dan culture perusahaan yang dia mesti mengerti.
Menurut Andi pendidikan bukan jaminan dan bisa saja seseorang menjadi top eksekutif walaupun tidak melalui pendidikan tinggi asalkan dia punya bakat sebagai pemimpin. “Kadang-kadang ada yang lulus SMA kemudian masuk perusahaan dan step by step dia bisa jadi presiden direktur. Ada yang begitu. Untuk menjadi seorang leader nggak perlu dari perguruan tinggi. Tetapi cara dia membentuk karirnya sampai menjadi top eksekutif, dia pertama masuk menjadi karyawan biasa, naik jadi junior officer, naik ke kepala cabang, dan seterusnya” ujarnya.
Namun bukan berarti tidak ada fresh graduate yang menjadi top eksekutif. Di perusahaan keluarga kondisi ini mungkin saja terjadi. Namun Andi mengingatkan bahwa hal itu tidak bisa dilakukan begitu saja. “Nggak mungkin dia baru tamat university langsung dilepas. Itu diawasi terus oleh bapaknya sampai dia benar-benar dianggap oke. Kalau tidak begitu sebentar lagi jadi ambrol perusahannya. Tapi mungkin aja ada hal itu terjadi”, serunya. (adt)

http://www.portalhr.com/majalah/edisiterbaru/strategi/1id562.html

Ekor yang Terus Memanjang dan Tak Pernah Putus

Judul Buku: The Long Tail: Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas
Pengarang: Chris Anderson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007
Jumlah halaman: 287
Penulis Resensi: Nukman Luthfie
Pernahkah terbayang, sebuah produk yang semula tak laku tiba-tiba bisa meledak di pasaran dan dicari banyak orang? Jika kita masih terjebak cara berpikir dan berbisnis tradisional, sungguh sulit membayangkan hal itu. Namun, bagi mereka yang terbiasa dengan telaah ekonomi internet, hal tersebut lebih mudah diterima akal.Chris Anderson memaparkan contoh yang terjadi di toko buku online Amazon.com dalam bukunya yang saat ini menghebohkan dunia, The Long Tail. Pada 1988, seorang pendaki gunung asal Inggris bernama Joe Simpson menulis buku berjudul Touching The Void, sebuah cerita sangat menegangkan tentang situasi antara hidup dan mati di Pegunungan Andes di kawasan Peru. Walau resensi mengenai buku ini bagus, penjualannya biasa saja dan segera dilupakan orang. Satu dasawarsa kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Ketika sebuah buku lain tentang tragedi pendakian gunung karya Jon Krakauer, Into Thin Air sukses terjual, tiba-tiba buku Touching The Void mulai terjual lagi.Apa pemicu semua itu? Ketok tular online alias word of mouth lewat internet. Ketika Into Thin Air pertama kali dirilis, beberapa pembaca menulis resensinya di Amazon.com yang menunjukkan kemiripannya dengan buku Touching The Void yang kurang terkenal. Pada saat yang sama mereka memuji betapa bagusnya buku Touching The Void. Mereka yang membaca resensi bagus ini kemudian membeli buku itu via Amazon.com. Karena toko buku online itu memiliki sistem yang canggih, bisa mendeteksi kecenderungan pembelian, maka muncul rekomendasi dari Amazon.com, bahwa orang yang membeli Into Thin Air juga membeli Touching The Void. Efek berantainya pun berlanjut ke dunia nyata. Toko-toko buku mulai memajang buku Touching The Void bersebelahan dengan Into Thin Air. Lantas IFC Film meluncurkan sebuah dokudrama mengenai Touching The Void dengan resensi yang bagus. Disusul kemudian oleh upaya HarperCollins menerbitkan ulang buku dengan versi murah, yang bertahan 14 minggu dalam daftar buku laris di New York Times. Puncaknya, pada 2004 penjualan Touching The Void mengungguli penjualan Into Thin Air dua kali lipat lebih!Menurut Anderson, fenomena itu bukan kisah sukses penjual buku online. Itu adalah sebuah model ekonomi baru untuk industri media dan hiburan. Itulah fenomena Ekor Panjang, yang dipakai sebagai judul bukunya. Buku ini membuka wawasan baru agar para pelaku bisnis tidak terpukau oleh produk-produk populer yang digemari oleh banyak konsumen. Selama ini kita hampir selalu mengacu pada popularitas. Best seller, top hit dan istilah sejenisnya selalu menjadi patokan sukses. Toko buku memajang buku-buku best seller di tempat-tempat strategis. Bioskop hanya memutar film-film laris. Bioskop baru memutar film tidak populer jika penonton mencapai jumlah tertentu. Radio lebih sering mengumandangkan lagu-lagu yang sedang menjadi top hit. Sebagian besar uang beredar di Jakarta, padahal sebagian besar penduduk bertempat tinggal di luar Jakarta. Jika hal itu dipetakan ke kurva penjualan, kita terpaku pada titik kurva tertinggi. Sementara di kurva yang rendah, yang membentuk ekor panjang, diabaikan. Intinya, ingin mendapatkan uang banyak dengan melayani sebagian kecil. Inilah ekonomi dan bisnis yang kita jalankan selama ini. Kita terpaku pada hukum pareto. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun, internet membuka babak baru. Anderson yang penasaran dengan fenomena ekor panjang ini melakukan riset mendalam di perusahaan-perusahaan internet yang berhasil seperti Amazon.com, eBay, Rhapsody dan lainnya. Hasilnya makin meyakinkan pendapatnya bahwa semakin banyak yang kita sediakan, semakin besar pula hukum ekor panjang terjadi. Ketiga bisnis dotcom tadi menyediakan produk dalam jumlah hampir tak terbatas. Amazon tidak hanya menjual buku-buku laris. Buku-buku yang tidak dijual di toko buku pun ada di sana. E-bay melelang barang-barang unik yang tak ada di pasaran. Rhapsody menyediakan lagu-lagu usang dan lagu-lagu yang tak laku di pasaran. Namun, data menunjukkan bahwa ketika disediakan di internet, buku yang tak laku, lagu yang aneh dan tidak digemari publik, serta barang yang unik pun ada pembelinya. Tidak pernah tak laku, meski hanya terjual satu per kuartal. Data juga menunjukkan, jika penjualan produk-produk kurang laku itu dijumlahkan, nilainya lebih besar ketimbang nilai penjualan produk-produk populer!Mereka yang terpaku pada hukum pareto akan sadar bahwa pasar yang mereka abaikan, pasar yang ecek-ecek, bernilai kecil, ternyata sesungguhnya adalah pasar yang besar. Popularitas tiba-tiba ambruk dengan kenyataan ini. Ia tidak lagi memonopoli profitabilitas.Ekonomi baru ini bukan hanya tantangan untuk kalangan pebisnis, tapi juga Anda para praktisi HR. Strategi HR seperti apa yang harus diterapkan jika perusahaan bergerak ke arah ekonomi baru ini? Sayang, hal ini tidak jadi bahan kupasan The Long Tail. Tapi, Anda perlu membaca ini sehingga ketika CEO Anda sedang membahas hal ini Anda sudah siap.

http://www.portalhr.com/resensibuku/5id14.html

Seberuntung apakah kita?

Seberuntung Apakah kita?
Banyak orang merasa bahwa Allah SWT tidak lah sayang pada kita. Ketika keinginan kita berbeda dengan keinginan Allah - hal inilah yang sering terjadi, keinginan kita yang selalu kita dahulukan, bukanlah keinginan Allah yang harusnya menjadi prioritas utama. Kita akan panik dan cendrung menyalahkan bahwa Tuhan tidaklah adil terhadap kita, Tuhan lebih sayang terhadap si fulan. Si fulan mendapat pekerjaan yang layak, gaji yang melimpah dsbnya. Perlu kita cermati mengapa kehendak Tuhan lah yang harus menjadi prioritas utama. Allah telah memberikan kepada kita potensi dan jalan yang sama. Kita terlahir sebagai bayi yang baru lahir - yang hanya bisa menangis dan tidak bisa apa-apa, lemah. Tidak ada jatah ketika bayi si anu masa depannya pasti cerah, si anu pasti menikah dengan wanita cantik, si anu pasti memiliki harta kekayaan yang melimpah. Mungkin, cara pandang kita yang membuat hal ini tejadi. kita beruntung jika kita memiliki harta kekayaan melimpah,istri cantik, kendaraan mewah dsbnya. cara pandang inilah yang membuat kita menjadi jumud, bodoh bahkan tidakberkembang dan cendrung menyalahkan Allah. Padahal sangat mudah jawaban seberuntung apakah kita? Kita beruntung bahwa kita mengenal Allah, kita beruntung bahwa yang menjadi penilaian Allah bukanlah harta kekayaan kita tetapi amal soleh kita. Amal Soleh itu gratis tidak dipungut bayaran. Anda memungut paku di jalan supaya orang terhindar dari bahaya itu adalah amal soleh. Anda membantu menyebrangkan nenek tua supaya terhindar dari kecelekaan itu juga amal soleh. Itulah bedanya Manusia dengan Allah. Manusia ketika melakukan sesuatu menginginkan imbalan sedangkan Allah tidak. Jadi sungguh beruntung bagi siapa saja yang mengenal Allah. Mengenal Allah itu gratis. Tinggal kita, apakah mau mendapatkan surga secara gratis tanpa harus mengeluarkan pundi-pundi harta.