Saturday, November 13, 2010

Mencari Makna Haji

Irvan Nasrun.

Diforward dari Republika.

Mencari Makna Haji di Masa Krisis
Rohani Budi P
Anggota Tim Asistensi
RUU Usul Inisiatif
tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji
Bisa dibayangkan, seandainya krisis ekonomi tidak menimpa bangsa Indonesia,
maka dapat dipastikan kuota haji tahun 1999 akan terlampaui. Dalam keadaan
yang serba mahal seperti ini saja, jumlah jamaah haji Indonesia mencapai
71.000 lebih. Melihat perkembangan kuantitas jamaah haji Indonesia yang
terus meningkat, pertanyaan yang selayaknya dijadikan renungan bagi kita
adalah, ''apakah sudah meningkat pula tingkat kualitas, kesadaran, dan
kesetiakawanan kaum Muslimin Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan dan
memerangi kebodohan?'' Di samping itu, tentunya masih banyak pertanyaan
lagi yang dapat kita jadikan bahan renungan dalam situasi krisis semacam ini.
Kritik sosial haji
Salah satu bentuk peribadatan yang berpusat pada sikap penyerahan diri
secara total kepada Allah adalah haji. Dengan berhaji, manusia harus
meninggalkan keluarga, handai taulan, tanah air, dan seluruh hartanya untuk
menuju satu tujuan: Allah. Pasrah total kepada-Nya diupayakan mencapai
seperti kepasrahan Ibrahim as kepada Allah SWT.
Haji secara bahasa berarti menyengaja, maksudnya adalah menyengaja untuk
mendekatkan diri ke hadirat Allah. Ia merupakan proses spiritual seorang
Muslim menuju kehidupan otentik; yakni to be sensitive to the reality atau
kepekaan terhadap seluruh eksistensi diri. Kehidupan otentik adalah suatu
kehidupan suci (the sacred life) yang sadar dan insaf terhadap segala
partikular manusia. Ia merupakan kesejatian fitrah insani yang memiliki
keseimbangan antara ''aku'' dan ''mereka'' serta kesepadanan porsi
spiritualitas dan materialitas.
Haji merupakan latihan bagi manusia untuk meredam kesombongan,
kediktatoran, gila hormat, dan keinginan menindas terhadap sesamanya
(tafsiran perbuatan Namrud). Sebab dalam haji, manusia harus mencopot
pakaian kebesarannya: Pakaian sehari-hari yang menciptakan ''keakuan''
berdasarkan ras, suku, warna kulit, eselon kepangkatan, dan lain-lainnya
yang harus ditanggalkan dan diganti dengan pakaian ihram yang sederhana,
yang tidak membedakan kaya-miskin, ningrat-jelata, penguasa-rakyat, dan
status-status sosial lainnya. Egoisme ''keakuan'' lebur dalam ''kekitaan'',
kebersamaan, kesamaan sebagai manusia yang hadir, berada dan menuju hanya
kepada-Nya.
Sebagaimana Sabda Nabi, Al-hajju 'Arafah'', maksudnya adalah inti dan
puncak haji adalah melaksanakan wukuf di Arafah. Arafah berarti mengenal,
mengetahui, dan menyadari. Sedangkan makna wukuf adalah berdiam diri.
Dengan demikian, makna wukuf di Arafah adalah berdiam diri untuk meditasi
dan menengadah guna merenungkan eksistensi diri di hadapan Allah SWT dan di
hadapan makhluk alam semesta kemudian melakukan transformasi ruhaniah
secara besar-besaran.
Dengan wukuf di Arafah tersebut, orang-orang yang melaksanakan haji
diharapkan menjadi arif dan sadar akan eksistensi dirinya, dari mana ia
berasal dan ke mana ia akan pergi, sadar akan tugas dan tanggung jawabnya,
serta memanifestasikan dan mengaplikasikan kesadaran tersebut dalam bentuk
tindakan konkret dalam kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakatnya.
Haji juga melatih manusia melepaskan diri dari selera konsumtif, cinta
harta, nafsu birahi, amarah, dan berkata keji atau perkataan kotor. Dalam
berhaji, manusia dilarang mengenakan perhiasan atau parfum. Bahkan
sebaliknya (sangat) dianjurkan untuk rela berkorban apa saja yang menjadi
miliknya -- termasuk yang paling dicintainya, sebagaimana Nabi Ibrahim as
yang rela mengorbankan Ismail, putra yang amat dicintainya (lihat QS 37:
99-113). Said Hawwa dalam buku Al-Islam menyatakan bahwa dengan ibadah
haji, seseorang dapat belajar tentang banyak hal, terutama tentang
persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), persamaan manusia (al-musawah), dan
persatuan umat. Dengan haji pula, seseorang dapat belajar tentang
perjuangan kesabaran, kesediaan untuk berkorban tanpa pamrih, toleransi,
dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, seorang yang melakukan perjalanan ibadah haji tidak akan
terperangkap dalam gerakan ritualitas fisik dengan segala kelengkapan
syarat dan rukunnya saja, atau sekadar berfungsi sebagai jembatan bagi
hubungan vertikal antara makhluk dan Khalik. Lebih dari itu, haji juga
memiliki horison sosial yang secara implikatif dapat merefleksikan peran
kekhalifahan manusia dalam perbuatan nyata di kehidupan sehari-harinya.
Haji harus disadari sebagai peristiwa hati. Di dalam terdapat berbagai
amalan yang dapat dijadikan introspeksi diri sendiri dalam menengok
keimanan seseorang kepada Allah, dalam melihat keadilan, perdamaian,
persamaan dengan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Kita perlu mengenang
kembali peristiwa-peristiwa di masa lampau dan belajar darinya. Di tengah
amalan haji, mestinya kita juga ingat bahwa masih jutaan rakyat Indonesia
yang masih dirundung kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Jangankan
untuk melaksanakan haji, hanya untuk sekadar makan sekeluarga saja, mereka
sudah tidak mampu.
Pendeknya, haji merupakan proses ''kematian'', yaitu mematikan pribadi
palsu menuju kesejatian dan keaslian hidup. Sehingga sepulang perjalanan
haji, seseorang bagaikan bayi yang baru keluar dari rahim sang ibu. Ketika
itu manusia baru saja keluar dari perenungan, mawas diri, dan penempaan
diri lahir dan batin, sehingga ia memulai kehidupan baru dari titik nol
dari segala dosa. Diibaratkan sebuah ulat yang ingin menjadi kupu-kupu,
maka ia harus berproses dulu dengan dimulai pembersihan diri melalui
pertapaan menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu yang indah.
Mabrur
Proses haji merupakan rangkaian simbol-simbol dari semangat demokratisasi,
kesamaan harkat manusia, dan kerelaan berkorban yang indah serta
mengesankan. Aktualisasi dari simbol-simbol itu dalam wujud sikap dan
tingkah laku sehari-hari merupakan isyarat dari kemabruran haji seseorang.
Dalam Alquran S 82:13 dan S 83:22, kata abraara atau mabrur diartikan
dengan banyak berbakti. Dari makna itu dipahami bahwa mabrur itu bukan
sakhsiyah (pribadi, individual), tetapi ia adalah bentuk pengabdian secara
umum: Berbakti kepada Tuhan dan berbakti kepada sesama makhluk.
Walaupun ibadah haji secara sakhsiyah (pribadi) yang bertujuan membentuk
atau menyempurnakan kesalehan individual, akan tetapi kesalehan perorangan
itu pada hakikatnya hanyalah sasaran antara. Artinya kesalehan individu
yang didapat dari spiritualitas perjalanan haji dimanifestasikan dalam
bentuk tanggung jawab yang lebih besar dalam menyelesaikan berbagai
problema masyarakat, seperti kebodohan, kemiskinan, rawan pangan, dan
keterbelakangan. Dengan demikian, kesalehan individual yang dibentuk oleh
ibadah haji tidak akan melahirkan manusia yang menutup mata (masa bodoh)
dari kondisi masyarakat.
Sebenarnya perasaan kita cukup peka dalam mendeteksi hati kita, apakah kita
mendapatkan haji mabrur atau tidak. Rasa lega mendapat kemudahan dalam
beribadah, dan ilmu pengetahuan yang bertambah, semua itu kita dapatkan
ketika kita menyandang haji mabrur. Haji mabrur menjadi praktik sehari-hari
yang nyata dirasakan dan menjadi rahmat bagi masyarakat. Haji mabrur adalah
suatu sikap yang setiap saat mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan
membenahi tata cara beribadah menjadi lebih baik dan lebih benar. Dalam
perilaku sehari-harinya, haji mabrur memperlihatkan sikap dan kehidupan
yang Islami, artinya baik, benar, berguna, dan luhur.
Pendeknya makna haji bukan terletak pada dimensi duniawi semata yang berupa
ritualitas di Mekah, namun yang lebih penting dari itu adalah makna
ukhrawi-nya yang terletak pada keheningan perenungan dan peningkatan iman
yang berimplikasi pada peningkatan amal saleh kepada sesama hamba Allah.
Ritus-ritus lahiriah dari haji jelas memiliki efek pembebasan; yaitu dari
pembebasan yang bersifat interior (di dalam kesadaran) kepada pembebasan
pada tingkat eksterior (kehidupan masyarakat).
Apabila sepulang dari perjalanan ibadah haji para hujjaj (orang yang
melaksanakan haji) sama sekali tidak mencerminkan perilaku islami, maka
tidaklah salah apabila perjalanan haji orang-orang tersebut tidak lebih
dari sekadar menjadi turis di Tanah Suci. Wallau a'alamu.

No comments: