Tuesday, February 28, 2012

PNS Hasil Menyuap

Penulis : vengky utami

Akhir-akhir ini, untuk mendapatkan pekerjaan sebagai PNS, semakin sulit, terutama di kota-kota, baik kecil maupun besar. Hal ini karena banyaknya peminat, sementara kuota yang dibutuhkan sangat sedikit.
Akhirnya, memberi kesempatan para pejabat untuk mengambil kesempatan dengan "menjual" kuota PNS tersebut kepada siapa saja yang sanggup membayar "sekian".

Masing-masing daerah mempunyai "tarif" yang berbeda, sesuai dengan tingkat golongan PNS yang "dijual". Misalnya saja untuk PNS dokter umum di daerah B*n*k*l* kota, dijual dengan harga Rp. 110.000.000,00. Padahal untuk menyelesaikan pendidikan dokter umum saja sudah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta rupiah.

Mengingat peminat yang banyak, sementara kuota sedikit, ada saja yang bersedia membayar demi mendapatkan kuota PNS tersebut. Sungguh menyedihkan. Mereka tidak berpikir bahwa yang telah dilakukan adalah tindakan haram. Lalu gaji yang diterima tentu akan haram pula. Dan seumur hidup mereka akan memakan uang haram, termasuk anak dan istri mereka.

Ada beberapa alasan mengapa perbuatan seperti itu haram. Penulis mencoba merinci alasan-alasan tersebut, meski belum semua, mungkin bisa mewakili. Berikut alasan-alasan tersebut :

1. Alasan pertama, mengapa gaji/upah dari pekerjaan yang didapatkan dengan menyuap haram adalah mendzalimi sesama? Ya, seseorang yang mendapatkan pekerjaan yang tidak seharusnya dia dapatkan dengan cara menyuap pejabat, telah mendzalimi orang lain yang seharusnya mendapatkan pekerjaan itu sesuai dengan kompetensi, pengetahuan, keahlian, dan kemampuan dirinya. Sehingga orang tersebut tetap menganggur dan tidak mempunyai penghasilan.

2. Alasan kedua adalah karena suap sama dengan melipatgandakan dosa. ALLAH SWT dan Rasulullah SAW telah mengharamkan riba dan suap-menyuap. Dengan cara menyuap untuk mendapatkan pekerjaan, maka secara tidak langsung kita telah "menabung" dosa, yang "bunga"-nya kita dapatkan setiap bulan berupa gaji/upah. Tabungan ini nanti baru akan didapatkan full di akhirat.

3. Alasan ketiga adalah karena kita mengorbankan keluarga. Bagaimana tidak, sebagai kepala rumah tangga, kita akan memberi makan anak dan istri kita dengan gaji yang kita terima. Sementara gaji yang kita dapatkan adalah haram. Lalu, tegakah kita mengorbankan anak-anak dan istri kita dengan mengajak mereka makan dari hasil uang yang haram? Bukankah ALLAH telah memerintahkan, berilah makan anak dan istrimu dengan sesuatu yang halalan thayyiban?
Apakah tidak terpikir bagaimana hasilnya anak yang diberi dengan makanan haram? Anak itu kelaknya akan menjadi ahli maksiat, kecuali ALLAH menetapkan lain dengan memberi anak tersebut hidayah-Nya.

4. Alasan keempat adalah karena akan melumrahkan suap-menyuap
susahnya mendapat pekerjaan, sementara kebutuhan ekonomi akhir-akhir ini terus meningkat. Gagalnya mendapat pekerjaan akibat ada orang yang mengambil "jatah"-nya dengan cara menyuap pejabat terkait, bisa saja membuat orang tersebut berkeinginan menyuap pula demi mendapat pekerjaan di lain kesempatan. Keadaan seperti itu, pasti akan diketahui masyarakat. Lalu masyarakat akan berbondong-bondong mencari "channel" yang bisa disuap agar bisa mendapat pekerjaan yang diinginkan. Bukankah keadaan itu disebabkan oleh orang pertama yang melakukan suap-menyuap? Kalau 1 orang pelaku suap-menyuap saja bisa menyebabkan 10 orang mengikuti tindakannya, maka bayangkan 100 tahun kemudian berapa orang yang mengikuti orang pertama tadi melakukan suap-menyuap.
Lalu, bagaimana dengan dosa orang pertama tadi? Ttentu dia akan menanggung dosa suap-menyuap ditambah dosa semua orang yang mengikuti tindakannya, tanpa mengurangi dosa orang yang bersangkutan. Orang kedua akan menanggung dosa orang ketiga dan seterusnya, orang ketiga akan menanggung dosa orang keempat dan seterusnya, tanpa mengurangi dosa orang-orang yang bersangkutan. Na'udzubillah. Ibarat MLM, maka semakin panjang daftar pengikut suap-menyuap, maka semakin besar dosa yang akan ditanggung, karena perilaku dia tadilah yang diikuti orang-orang sesudahnya.

5. Alasan kelima adalah karena dapat mengubah orientasi kerja yang awalnya ingin mengabdi menjadi orientasi uang. Ya, tentu saja. Kita akan berusaha bagaimanapun caranya harus mengembalikan "modal" kita untuk mendapat pekerjaan PNS tadi. Kita ambil contoh dokter (karena penulis adalah seorang dokter muda) yang misalnya menjadi dokter tetap di Puskesmas. Setiap tahun Puskesmas mendapat dana cukup besar dari pemerintah untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat yang diwilayahi oleh Puskesmas tersebut. Pikiran si dokter yang ingin "modal" cepat kembali tadi, bisa saja membuatnya gelap mata untuk mengkorupsikan dana yang diterima oleh Puskesmas yang ia pimpin tersebut. Si dokter tidak lagi berpikir bagaimana agar masyarakat yang diwilayahi oleh Puskesmas yang dipimpinnya dapat sehat semuanya. Siapa yang dirugikan? Tentu saja masyarakat dan negara. Apakah hal ini berdosa? Pembaca bisa menilai sendiri.

Penulis pikir, 5 hal di atas sudah dapat meluluhlantahkan kehidupan dunia. Na'udzubillah.

Marilah, mulai hari ini, jam ini, detik ini, tanamkan pada diri kita, bahwa kita tidak akan mengejar pekerjaan dengan cara menyuap.

Kata siapa PNS itu enak? Dana pensiun yang pasti-kah? Gaji tiap bulan yang pasti-kah? Dengan hanya mengandalkan gaji yang hanya 3 jutaan rupiah, tentu tidak akan membuat sesorang kaya. Wiraswastalah yang membuat orang kaya. Kalau PNS yang kaya tanpa ada penghasilan lain dari sektor swasta, pastilah dia adalah seorang koruptor.

Yakinlah pada janji ALLAH, bahwa rezeki setiap makhluk sudah diatur dan diberi jatah masing-masing. Bila kita tidak lulus PNS di kota A, mungkin ALLAH hendak meluluskan kita sebagai PNS di kota B. Bila kita tidak lulus PNS, mungkin ALLAH berencana lain agar kita sukses sebagai wiraswasta.

Wallahu a'lam.

Mohon maaf bila tulisan ini banyak salah, karena penulis hanyalah seorang manusia yang banyak salah dan khilaf.

No comments: