Monday, April 19, 2010

PEMBERDAYAAN MADRASAH

PEMBERDAYAAN MADRASAH
Written by Arief Furchan
Saturday, 14 November 2009 20:19


PEMBERDAYAAN MADRASAH DAN
TANTANGAN GLOBALISASI i

Oleh:
Arief Furchan ii

Pendahuluan

Lembaga pendidikan Islam (pesantren, madrasah, sekolah dan perguruan tinggi Islam) mempunyai misi penting yaitu mempersiapkan generasi muda ummat Islam untuk ikut berperan bagi pembangunan ummat dan bangsa di masa depan. Pentingnya misi lembaga pendidikan Islam ini disebabkan karena hampir seratus persen siswa atau mahasiswa yang belajar di lembaga pendidikan Islam adalah anak-anak dari keluarga santriiii. Hal ini berbeda dengan keadaan di sekolah atau perguruan tinggi umum yang siswa atau mahasiswanya merupakan campuran antara anak keluarga santri dan keluarga abangan. Apabila kualitas pendidikan yang mereka peroleh di madrasah bagus, maka, insya Allah, mereka akan menjadi orang yang berkualitas dan akan memainkan peran penting sebagai pemimpin ummat, masyarakat, dan bangsa. Sebaliknya, apabila kualitas pendidikan yang mereka peroleh di madrasah tidak bagus, maka kemungkinan mereka untuk berperan dalam percaturan bangsa akan menjadi amat kecil. Salah-salah, mereka akan menjadi bagian problem masyarakat dan bukan bagian penyelesaian problem masyarakat.

Madrasah adalah perkembangan modern dari pendidikan pesantren. Menurut sejarah, jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, lembaga pendidikan Islam yang ada adalah pesantren yang memusatkan kegiatannya untuk mendidik siswanya mendalami ilmu agama. Ketika pemerintah penjajah Belanda membutuhkan tenaga terampil untuk membantu administrasi pemerintah jajahannya di Indonesia, maka diperkenalkanlah jenis pendidikan yang beroritentasi pekerjaan. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 ternyata melahirkan kebutuhan akan banyak tenaga terdidik dan terampil untuk menangani administrasi pemerintahan dan juga untuk membangun negara dan bangsa. Untuk itu, pemerintah lalu memperluas pendidikan model barat yang dikenal dengan sekolah umum itu. Untuk mengimbangi kemajuan zaman itu, di kalangan ummat Islam santri timbul keinginan untuk mempermodern lembaga pendidikan mereka dengan mendirikan madrasah.

Perbedaan utama madrasah dengan pesantren terletak pada sistem pendidikannya. Madrasah menganut sistem pendidikan formal (dengan kurikulum nasional, pemberian pelajaran dan ujian yang terjadwal, bangku dan papan tulis seperti umumnya sekolah model Barat) sementara pesantren menganut sistem non-formal (dengan kurikulum yang sangat bersifat lokal, pemberian pelajaran yang tidak seragam, sering tanpa ujian untuk mengukur keberhasilan belajar siswa, dsb.). Ciri lain yang umumnya membedakan keduanya adalah adanya mata pelajaran umum di madrasah. Penambahan mata pelajaran umum pada kurikulum madrasah ini tidak berjalan seketika, melainkan terjadi secara berangsur-angsur. Pada awalnya, kurikulum madrasah masih 100% berisi pelajaran agama, tanpa ada pelajaran umum (Jadi, seperti pesantren, hanya di madrasah ada bangku, papan tulis, ulangan, ujian, dsb.) Lulusan madrasah pada masa itu tidak dapat melanjutkan pelajarannya ke sekolah umum yang lebih tinggi, bahkan juga tidak dapat pindah ke sekolah umum yang sejenjang, karena memang kurikulumnya berbeda. Orang tua yang ingin mendidik anaknya dalam ilmu agama dan ilmu umum terpaksa harus menyekolahkan anaknya di dua tempat, di sekolah umum dan di madrasah. Pada tahun 1975, ada surat keputusan bersama tiga menteri (Menag, Mendikbud, dan Mendagri) yang menetapkan bahwa lulusan madrasah dianggap setara dengan lulusan sekolah umum dan lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum yang lebih tinggi dan siswa madrasah boleh berpindah ke sekolah umum yang sama jenjangnya. Demikian pula sebaliknya. Kompensasi dari kesetaraan itu adalah bahwa 70% dari kurikulum madrasah harus berisi mata pelajaran umum. Kini, berdasarkan kurikulum madrasah 1994, kurikulum madrasah harus memuat 100% kurikulum sekolah umum. Dalam undang-undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, madrasah dikategorikan sebagai Sekolah Umum yang Berciri Islam (SUCI).

Minat ummat Islam terhadap madrasah sebenarnya cukup tinggi. Di beberapa daerah, jumlah siswa madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah bahkan lebih banyak daripada jumlah siswa Sekolah Dasar atau SLTP. Di mata mereka, madrasah memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan sekolah umum. Madrasah, terutama yang ada di dalam pondok pesantren, memberikan bekal mental keagamaan (keimanan dan ketaqwaan) yang kuat kepada siswanya. Dengan bekal mental yang kuat ini, diharapkan, apabila mereka menjadi pemimpin di kemudian hari, mereka akan menjadi pemimpin yang jujur, amanah, dan adil.

Sayang, kualitas lembaga yang mengemban misi penting ini, menurut banyak pengamat, amat memprihatinkan. Kualitas pendidikan di madrasah yang ada di luar pondok, terutama yang yayasannya kurang kuat, sering berada di bawah standar, baik dilihat dari segi pendidikan agama maupun dari segi pendidikan umum. Di bidang pendidikan agama madrasah ini kalah dari madrasah yang ada di dalam pondok dan, di bidang pendidikan umum ia kalah dari sekolah umum yang ada di sekitarnya. Madrasah yang ada di dalam pondok masih agak lumayan, walaupun kualitas pendidikan umumnya mungkin kalah jika dibandingkan dengan standar sekolah umum tetapi di bidang pendidikan agama kebanyakan dari mereka memiliki kualitas di atas standar. Tentu saja, kekecualian-kekecualian juga ada. Madrasah yang kualitas pendidikan umumnya lebih tinggi dari sekolah umum, seperti MIN Malang I, juga ada, walau sedikit sekali.

Persoalan ini menjadi makin serius apabila dikaitkan dengan isu besar akhir-akhir ini, yakni globalisasi. Kalau banyak orang mengatakan bahwa bangsa Indonesia belum siap untuk memasuki era globalisasi, maka lulusan madrasah dikhawatirkan lebih tidak siap lagi menghadapi era globalisasi ini. Kaitan antara globalisasi dan kesiapan madrasah menghadapinya itulah yang akan menjadi pokok bahasan makalah ini. Makalah ini mula-mula akan membahas apa itu globalisasi dan apa ancaman serta peluang yang diberikannya kepada kita, para pengelola pendidikan Islam ini. Berikutnya akan dibahas apa persyaratan agar seseorang dapat menghindari ancaman dan memanfaatkan peluang yang ditimbulkan oleh globalisasi itu. Terakhir, akan dibicarakan apa yang harus dilakukan oleh madrasah atau lembaga pendidikan Islam agar lulusannya dapat tetap memainkan peran dalam masyarakat di era globalisasi.

Era Globalisasi di Indonesia

Krisis yang melanda Indonesia saat ini menyadarkan kita bahwa kita kini bukan lagi sedang menghadapi era globalisasi, melainkan sudah memasuki era tersebut. Krisis moneter yang semula melanda Thailand dua tahun lalu kemudian merembet ke negara-negara ASEAN lainnya dan akhirnya juga melanda Indonesia. Dampak dari krisis yang semula bersifat ekonomis itu ternyata melebar menjadi krisis politik dan sosial yang sampai saat ini, sesudah dua tahun, belum kunjung selesai.

Globalisasi adalah suatu proses proses mendunia akibat kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang telekomunikasi dan transportasi. Globalisasi mengakibatkan orang tidak lagi memandang dirinya sebagai hanya warga suatu negara, melainkan juga sebagai warga masyarakat dunia. Ia tidak lagi menganggap benar nilai-nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat kampung, kota, propinsi, atau bangsanya, melainkan mulai membandingkannya dengan nilai-nilai yang dia pelajari dari bangsa lain. Dalam bekerja pun, ia tidak lagi memandang wilayah negaranya sebagai tempat mencari nafkah, melainkan ia meluaskan pandangannya ke seluruh kawasan dunia sebagai lahan tempat ia mencari nafkah. Contoh rakyat Indonesia yang berwawasan global adalah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di luar negeri.

Globalisasi di bidang ekonomi telah menimbulkan desakan-desakan agar diberlakukan perdagangan bebas antar bangsa. Beberapa negara telah membentuk persekutuan di bidang ekonomi: Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), AFTA (Asean Free Trade Area), dan APEC untuk kawasan Asia Pasifik.

Peluang dan Ancaman Globalisasi

Globalisasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kepentingan bangsa dan ummat kita. Dampak positif, misalnya, makin mudahnya kita memperoleh informasi dari luar sehingga dapat membantu kita menemukan alternatif-alternatif baru dalam usaha memecahkan masalah yang kita hadapi. (Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan banyak dana seperti dulu. Demikian pula, dalam hal tenaga kerja, dana, maupun barang). Di bidang ekonomi, perdagangan bebas antar negara berarti makin terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga kerja).

Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut. Misalnya, budaya perselingkuhan yang dibawa oleh film-film Italy melalui TV, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat jaringan internet, majalah, atau CD ROM, masuknya faham-faham politik yang berbeda dari faham politik yang kita anut, dsb. Di bidang ekonomi, perdagangan bebas juga berarti terbukanya pasar dalam negeri kita bagi barang dan jasa dari negara lain. Kita terpaksa harus bersaing dengan produk dan tenaga kerja asing di negara kita sendiri. Para pendatang asing yang, karena terpaksa, harus lebih ulet dan keras bekerja biasanya lebih berhasil daripada para penduduk domestik sehingga kesenjangan sosial tak terhindarkan dan kecemburuan sosial pun mudah timbul. Kalau kita kalah bersaing, kita akan menjadi penonton di negeri sendiri. (Contoh yang sudah terjadi adalah perfilman nasional).

Menghindari globalisasi sebagai proses alami ataupun menghilangkan sama sekali dampak negatif globalisasi itu barangkali tidak mungkin. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita harus menghadapi globalisasi ini dan menerima segala dampaknya, negatif maupun positif. Oleh karena itu, tantangan yang kita hadapi sebagai kelompok elit ummat adalah: Bagaimana kita dapat memanfaatkan semaksimal mungkin dampak positif (peluang) globalisasi itu dan meminimalkan dampak negatif (ancaman) nya. Kalau pertanyaan itu diarahkan kepada kita para pengelola lembaga pendidikan Islam ini, maka pertanyaan itu akan menjadi: Bagaimana lembaga pendidikan kita dapat menyiapkan lulusan yang akan bisa survive dalam era globalisasi ini, tetap dapat memainkan peranan penting dalam kehidupan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslim Indonesia.

Kunci Keberhasilan di Era Globalisasi

Perjanjian Perdagangan Bebas Antar Negara akan menimbulkan persaingan antar bangsa dalam memperebutkan pengaruh dan ekonomi. Hukum persaingan di mana-mana adalah sama, yaitu siapa yang unggul, dialah yang akan menjadi pemenangnya. Mereka yang tidak mempunyai keunggulan, akan menjadi pecundang. Dalam bahasa dunia dewasa ini, keunggulan yang amat menentukan adalah keunggulan di bidang ekonomi dan iptek. Inilah mata uang (currency) dalam kompetisi internasional dewasa ini. Persaingan di bidang ekonomi dan iptek ini berarti persaingan di bidang kualitas sumber daya manusia. Hanya bangsa yang memiliki SDM yang unggul di bidang ekonomi dan iptek lah yang akan keluar sebagai pemenang dalam kompetisi internasional ini.

Karena pendidikan adalah “usaha sadar suatu bangsa untuk membentuk generasi mudanya agar menjadi manusia sesuai yang dia idam-idamkan”, maka tantangan yang dihadapkan oleh globalisasi kepada pendidikan nasional adalah: mampukah pendidikan nasional menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berkualitas sehingga mampu memenangkan persaingan antar bangsa (atau setidaknya survive) dalam era globalisasi itu?

Melalui repelita-repelita, pemerintah Indonesia telah berusaha untuk membangun bangsa ini dengan prioritas utama di bidang ekonomi (kesejahteraan duniawi). Ekonomi Indonesia yang dulu bertumpu pada pertanian (ekonomi agraris) secara bertahap diubah menjadi bertumpu pada industri (ekonomi industri). Perubahan ini tentu saja mengakibatkan perubahan kebutuhan tenaga kerja (kini pekerja pabrik lebih dibutuhkan daripada petani). Orientasi produk Indonesia pun kini beralih ke pasar internasional untuk mendapatkan lebih banyak devisa bagi pembangunan bangsa. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di zaman industrialisasi ini, dan untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintah berkeinginan untuk mengubah komposisi mahasiswa di Indonesia dari yang, di tahun 1993/1994, 73% berada pada bidang studi ilmu sosial, 14% pada bidang studi IPA, dan 13% pada bidang studi Teknik menjadi 30% di bidang sosial, 25% di bidang IPA, dan 45% di bidang Teknik pada akhir PJP II.

Peran Madrasah dalam Menghadapi Globalisasi

Di muka telah dikemukakan bahwa madrasah menempati peran strategis bagi pendidikan generasi muda ummat Islam karena di sanalah tempat kebanyakan anak para santri mempersiapkan diri untuk menjalankan peran penting mereka bagi masyarakat di kemudian hari. Dalam konteks mempersiapkan anak didik menghadapi perubahan zaman akibat globalisasi ini pun madrasah (lembaga pendidikan Islam) memiliki peran yang amat penting. Keberhasilan madrasah dalam menyiapkan anak didik menghadapi tantangan masa depan yang lebih kompleks akan menghasilkan lulusan yang akan menjadi pemimpin ummat, pemimpin masyarakat, dan pemimpin bangsa yang ikut menentukan arah perkembangan bangsa ini. Sebaliknya, kegagalan madrasah dalam menyiapkan anak didik menghadapi tantangan masa depan akan menghasilkan lulusan-lulusan yang frustrasi, tersisih, dan menjadi beban masyarakat. Naudzubillahi min dzalik.

Dibandingkan dengan pendidikan di sekolah umum, madrasah mempunyai misi yang mulia. Ia bukan saja memberikan pendidikan umum (seperti halnya sekolah umum) tetapi juga memberikan pendidikan agama (melalui pelajaran agama dan penciptaan suasana kegamaan di madrasah) sehiingga, kalau pendidikan ini berhasil, para lulusannya akan dapat hidup bahagia di dunia ini (biasanya diukur secara ekonomis) dan hidup bahagia di akhirat nanti (karena ketaatannya pada ajaran agama)iv. Madrasah yang hanya menekankan pendidikan agama dan mengabaikan pendidikan umum mungkin hanya akan mampu memberikan potensi untuk bahagia di akhirat saja (walaupun ini masih lebih baik daripada hanya memperoleh kebaikan di dunia tanpa memperoleh kebahagiaan di akhirat).

Dalam kaitannya dengan era globalisasi dan perdagangan bebas yang penuh dengan persaingan ini, madrasah harus juga menyiapkan anak didiknya untuk siap bersaing di bidang apa saja yang mereka masuki. Ini dimaksudkan agar lulusan madrasah tidak akan terpinggirkan oleh lulusan sekolah umum dalam memperebutkan tempat dan peran dalam gerakan pembangunan bangsa. Mengingat dalam UUSPN (Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional), madrasah dikategorikan sebagai sekolah umum, maka lulusan madrasah pun berhak melanjutkan belajarnya ke perguruan tinggi umum, baik Fakultas Ilmu Sosial maupun Fakultas Ilmu Eksaktav. Terbukanya peluang untuk memasuki perguruan tinggi umum ini harus dimanfaatkan oleh madrasah sebaik mungkin, terutama untuk Fakultas Ekonomi, Teknik, dan Eksakta, fakultas-fakultas yang selama ini dijauhi oleh lulusan madrasah. Hal ini disebabkan karena bidang-bidang ilmu itulah yang diperkirakan akan memainkan peran penting bagi pembangunan nasional pada masa-masa mendatang. Untuk itu, madrasah harus meningkatkan kualitas pelajaran ilmu eksakta seperti matematika, fisika, dan biologi. Madrasah harus mendorong para santrinya untuk mau bekerja di bidang ekonomi, teknik, dan ilmu eksakta murni agar bidang itu tidak hanya dikuasai oleh lulusan non-madrasah yang belum tentu memiliki mental keagamaan yang kuatvi.

Agar lulusan madrasah memiliki wawasan global, yang memandang bahwa seluruh muka bumi milik Allah ini adalah tempat mengabdi, maka madrasah pun harus memiliki wawasan global. Bagaimana mungkin madrasah yang tidak memiliki wawasan global dapat menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan global?vii Madrasah harus mempersiapkan anak didiknya agar dapat melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri. Untuk ini, maka penguasaan ketrampilan berbahasa asing (terutama Arab dan Inggris) menjadi amat penting. Demikian pula pengenalan budaya dan bangsa asing.


Penutup

Makalah ini telah mencoba membahas masalah tantangan globalisasi yang dihadapkan kepada lembaga pendidikan Islam, khususnya madrasah. Sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan generasi muda ummat Islam untuk masa depan, madrasah diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang akan mampu memainkan peran penting di semua sektor kehidupan bangsa, baik itu sektor agama, sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi. Madrasah diunggulkan daripada sekolah umum karena madrasah memberikan pendidikan agama (yang lebih baik daripada sekolah umum) di samping pendidikan umum (yang sama dengan sekolah umum). Persoalan yang masih dihadapi madrasah saat ini adalah masifh rendahnya standar kualitas pendidikan umum yang diberikannya di madrasah. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kurang disadarinya peran penting pendidikan umum itu bagi kelanjutan peran ummat dalam percaturan pembangunan nasional. Namun, dampak dari kekurang sadaran akan peran penting pendidikan umum, terutama di bidang teknologi dan ilmu eksakta, ini akan menyebabkan sektor-sektor ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat menentukan arah pembangunan nasional terpaksa diserahkan kepada lulusan non-madrasah. Sebelum terlambat, madrasah disarankan untuk lebih memperhatikan masalah kualitas pendidikan umum ini bagi para santrinya.



i Makalah disajikan dalam seminar sehari di pondok pesantren Zainul Hasan Genggong, 25 April 1999.
ii Pembantu Rektor I, IAIN Sunan Ampel Surabaya; dosen Program Pasca Sarjana, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
iii Istilah santri di sini diartikan sebagai kelompok masyarakat Muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Istilah ini dipertentangkan dengan isitlah abangan seperti dipopulerkan oleh Geertz dalam The Religion of Java, yaitu kelompok masyarakat Muslim yang tidak menjalankan ajaran agama.
iv Memperoleh kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat adalah doa dari setiap Muslim
v Di Unisma, misalnya, kini makin banyak lulusan madrasah yang memasuki Fakultas Teknik.
vi Kalau kita ingin agar tidak terjadi korupsi di Departemen Keuangan, misalnya, maka harus banyak lulusan madrasah yang dapat masuk ke Departemen Keuangan itu.
vii Contoh madrasah yang memiliki wawasan global adalah madrasah di Pondok Modern Gontor yang tidak mau mengikuti kurikulum madarasah nasional dan ebtanas madrasah sehingga lulusannya tidak diperbolehkan masuk ke perguruan tinggi di Indonesia (termasuk IAIN). Kebanyakan lulusannya berkeingan untuk melanjutkan studinya ke Timur Tengah yang mengakui ijazahnya.
Last Updated on Thursday, 03 December 2009 08:28
dari milis tetangga

No comments: