Sunday, June 26, 2011

SEMUA ANAK BISA CERDAS

Dengan pengertian kecerdasan sebagaimana yang disampaikan Dr. Gardner di atas, saya menyimpulkan bahwa semua anak bisa menjadi cerdas. Mengapa saya berkata demikian, berikut beberapa alasannya :
- Cerdas tidak harus rangking
Memang saat ini mayoritas masyarakat masih mengunakan kriteria rangking di sekolah untuk menentukan kecerdasan seorang anak. Namun percayalah, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Rangking di sekolah memang bisa menjadi salah satu indikasi kecerdasan dari seorang anak. Namun rangking hanya menunjukkan salah satu bentuk kecerdasan, yaitu kecerdasan logis-matematis. Sistim pendidikan di indonesia hingga saat ini lebih cenderung mengembangkan kecerdasan logis-matematis. Sementara bentuk-bentuk kecerdasan yang lain kurang dikembangkan. Saya telah memberi contoh tentang sarjana yang mengaggur di atas. Mereka memiliki kecerdasan logis-matematis yang baik. Namun sayang, kecerdasan-kecerdasan yang lain kurang dikembangkan di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Hingga pada akhirnya mereka harus menjadi pengangguran. Jika anak kita tidak rangking, jangan buru-buru mengatakan bahwa ia tidak cerdas. Ia masih memiliki banyak potensi kecerdasan yang lain. Dan tugas Anda adalah mengembangkan potensi kecerdasannya tersebut
- Banyak jenis kecerdasan
Seperti yang telah saya jelaskan di awal, berdasarkan teori Dr. Howard Gardner, ada sedikitnya delapan kecerdasan dasar pada manusia. Tidak hanya satu macam kecerdasan, sebagaimana yang dipahami kebanyakan orang. Kecerdasan bukan hanya monopoli mereka yang ber IQ tinggi.
- setiap anak memiliki potensi kecerdasan
Silahkan amati anak Anda. Anda akan menemukan banyak potensi kecerdasan semenjak ia masih bayi. Setiap bayi belajar dengan menggunakan panca inderanya. Mula-mula ia belajar dari pendengaran dan penglihatannya. Kemudian dengan indera peraba dan indera yang lainnya. Anda akan takjub menyaksikan perkembangan anak Anda tersebut. Dari bayi yang tidak bisa berbuat apa-apa, selain menangis, perlahan-lahan menjadi manusia “sempurna”.
Konsep belajar bayi menggunakan indera inilah yang sebenarnya mendasari munculnya teori kecerdasan. Setiap bayi bisa banyak belajar dengan inderanya. Dan dengan inderanya pula potensi menjadi manusia “sempurna” bisa tumbuh dengan baik. Anak yang banyak dirangsang semua inderanya sejak dini, maka semua potensi kecerdasan yang dimiliki akan berkembang optimal.
- Kecerdasan anak tidak semata faktor genetic (keturunan)
Mungkin Anda sering menyaksikan orang tua yang cerdas memiliki anak yang cerdas. Sehingga Anda mengatakan,” Pantas saja ia cerdas, lha orang tuanya juga pintar …..”
Namun mungkin Anda juga pernah menyaksikan ada orang tua yang cerdas, tapi anaknya kurang cerdas (kurang pintar).http://www.blogger.com/img/blank.gif
Mengapa bisa demikian ?
Saudara…. Kecerdasan tidak disebabkan oleh factor keturunan, namun juga factor lingkungan. Faktor lingkungan yang saya maksud adalah factor di luar factor keturunan. Faktor lingkungan bisa berupa : gizi makanan, perlakuan Anda/pola asuh, sekolah, lingkungan tetangga, dan lain-lain. Jadi, walaupun seorang anak memiliki orang tua jenius, belum tentu ia akan jenius pula. Dan sebaliknya walaupun orang tuanya kurang cerdas, si anak bisa menjadi orang cerdas jika factor lingkungan berperan dengan baik bagi pertumbuhan dan perkembangan kecerdasannya.

sumber : Here

No comments: