Friday, October 28, 2011

Potensi Gempa Patahan Lembang

Potensi Gempa Patahan Lembang


Patahan memiliki sejarah gempa besar, antara 6 hingga 7 skala richter.




Jum'at, 28 Oktober 2011, 21:08 WIB

Mutia Nugraheni






Patahan Lembang di tol Cipularang (GREAT)







VIVAnews - Isu gempa patahan Lembang-Cimandiri akhir-akhir ini kembali terdengar. Ada ahli yang menilai Patahan Lembang-Cimandiri merupakan sesar aktif namun potensi gempanya kecil.

Tetapi ada juga ahli yang menyatakan bahwa patahan atau sesar Lembang memiliki sejarah gempa besar antara 6 hingga 7 skala richter. Berdasarkan catatan historis itulah patahan Lembang berpotensi gempa yang berdampak ke wilayah Bandung Raya atau Cekungan Bandung.

Kepala Bidang Rehabilitasi Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Dani Prianto Hadi, termasuk yang meyakini bahwa Sesar Lembang-Cimandiri menyimpan potensi gempa besar.

"Menurut para pakar geologi, Patahan Lembang memang aktif. Maka tentu sebagai BPBD kita harus mengantisipasinya, artinya membuat masyarakata waspada di saat tenang, tetapi bukan menakuti," kata Dani, kepada VIVAnews, Jumat 28 Oktober 2011.

Sesar Lembang, menurutnya, adalah patahan yang ujungnya ada di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang panjangnya sekitar 22 kilometer lebih, melintas di empat kecamatan. Yaitu,kecamatan Cisarua, Parongpong, Lembang, danMaribaya. Sedangkan ekor sesar ini ada di Gunung Manglayang di Kabupaten Bandung.

"Patahan Lembang ini bertemu dengan Sesar Cimandiri yang berada di Padalarang. Panjang patahan Cimandiri membentang hingga Pelabuhan Ratu yang ujungnya di Cilacap," katanya.

Sesar Lembang ini tidak hanya di KBB, tetapi Cimahi, cekungan Bandung dan Kabupaten Bandung. Jadi, menurut Dani, sesar ini bisa berdampak ke semua cekungan Bandung dan sekitarnya.

Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 10 ribu tahun lalu sebuah sesar pernah mengalami gempa sangat besar. Maka, menurut Dani, sesar tersebut aktif.

"Dalam kurun waktu 1800 hingga 2011 ini, di sini sudah terjadi empat kali gempa. Artinya Sesar Lembang aktif," ungkapnya.

Ia menyayangkan ada opini bahwa Sesar Lembang tidak harus diwaspadai. Dalam menghadapi Sesar Lembang, perlu banyak pihak yang membantu. M dari para ahli geologi, BPBD antar kota/kabupaten, hingga masing-masing pemerintah Kabupaten/kota dan provinsi.

"Sesar Lembang tidak hanya dihadapi KBB saja. Jika terjadi sesuatu, Bandung dan Cimahi akan kena juga," ujarnya.

Sosialiasi


Dani mengklaim, sejauh ini pihaknya sudah berupaya melakukan sosialisasi kepada warga KBB terkait kewaspadaan menghadapi Sesar Lembang. Pihaknya, juga dibantu LIPI dalam proses ini termasuk upaya untuk menghadapinya. Salah satu caranya, LIPI berupaya memasukkan informasi keberadaan Sesar Lembang ke dalam sekolah-sekolah yang ada di KBB.

"Bagi warga KBB, kita berusaha melakukan pendekatan dimulai dari hal sederhana misalnya bagaimana memilih tanah untuk membangun rumah, mengatur peraboran rumah seperti cermin dan mebel, dan seterusnya," ujar Dani.

Namun, upaya sosialisasi perlu waktu dan biaya yang banyak. Terlebih kondisi warga KBB rata-rata belum paham akan keberadaan Sesar Lembang-Cimandiri. Buktinya, menurut Dani, banyak warga yang justru membangun rumah di tebing dan perbukitan.

Bahkan warga tidak sadar bahwa dia tinggal di tebing Sesar Lembang. Kondisi itu jelas menjadi kendala besar bagi BPBD KBB dalam upaya penyadaran kesiapsiagaan bencana (mitigasi).

"Sehingga jelas perlu upaya duduk bersama untuk membahas kenyataan itu di lapangan. Apalagi BPBD KBB baru dibentuk secara resmi Juni 2011," katanya.


Data LIPI

Menurut data LIPI, Jawa Barat adalah wilayah yang rawan bencana, termasuk di dalamnya  wilayah cekungan Bandung. Peneliti Paleoseismik LIPI, Eko Yulianto,  mengungkap kalau cekungan Bandung merupakan ataran tinggi di Jawa Barat yang dikelilingi pegunungan.

Cekungan ini berisi endapan danau muda yang belum terkonsolidasi dengan baik. Di dalam cekungan ini terdapat Kota Bandung, Kabupaten Bandung, kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Di sisi utara cekungan terdapat sebuah patahan sepanjang kurang lebih 22 km dari Maribaya hingga Cisarua, disebut patahan Lembang atau sesar Lembang.

Dari studi  hasil penggalian kerjasama LIPI pada beberapa titik di patahan Lembang, ditemukan jejak yang mengindikasikan pernah terjadi  gempa bumi pada 1400 dan 700 tahun yang lalu. "Juga ditemukan bukti-bukti bahwa patahan Lembang  adalah sebuah patahan aktif yang sedang bergerak sebesar 2 mm per tahun," sebut Eko.


Pendapat BPMIGAS


Sementara di tempat terpisah, geolog dari Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS), Awang Harun, mengatakan gempa besar tidak harus terjadi dalam setiap pertemuan antar sesar. Termasuk pertemuan Sesar Lembang dan Sesar Cimandiri.

"Tidak sesederhana itu. Dua sesar aktif lalu bertemu dan potensi gempanya besar. Setahu saya, Sesar Lembang dan Cimandiri belum banyak diteliti aktivitasnya. Jadi perlu dikaji bagaimana sejarahnya, pergerakannya, dan pola-pola geologinya," ujar Awang.

Ia memprediksi, paling besar Sesar Lembang akan menghasilkan gempa 6 SR, idak lebih dari itu. Prediksi tersebut berdasarkan pergerakan Sesar Lembang yang menurut LIPI, dua milimeter per tahun.

"Tetapi gempa bisa kapan saja terjadi dan tak bisa diprediski. Misalnya patahan Kobe Jepang saja yang geraknya 2 mm pertahun, ternyata gempanya mencapai 8 SR. Tetapi untuk Sesar Lembang bukan termasuk yang sangat diwaspadai, meski tidak bisa diabaikan," katanya.

Laporan : Dani Redana, Bandung

• VIVAnews

































Rating














Komentar



Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.



Kirim Komentar















































   
Nama

Email
Komentar
 
  Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
 
 
  *Jika anda member Vivanews, silahkan 

atau  







No comments: