Tuesday, October 18, 2011

Saya nggak setuju Dahlan Iskan jadi Menteri

Saya nggak setuju Dahlan Iskan jadi Menteri!

Oktober 18, 2011 | |

Mungkin anda tak percaya, bahwa di jaman serba kapitalis, serba apa apa dihitung dengan uang dan dikapitalisasi ini, ada beberapa orag yang mau bekerja dan ndak dikapitalisasi alias ndak dibayar dan ndak mau makai fasilitas yang diberi. Dan salah satunya adalah (mantan) dirut PLN ini, Dahlan Iskan.

Semalan, saat muncul diacara salah satu tv swasta di Indoensia, TV O*e, dengan tampilan yang menjadi ciri khasnya, jaket plus kemeja dan sepatu kets, sang bapak “berhati anak muda” ini tampil dan menggugah saya untuk bisa lebih keras bekerja.

Di usianya yang ke 60, yang tak tampak terlihat dari posturnya yang kecil dan dan gesit, Dahlan Iskan tangkas menjawab pertayaan pertanyaan yang mengalir dari sang pewawancara, mengenai PLN yang terkenal dengan sarang penyamunnya, mulai banyaknya trafo tua dan over kapasiti yang dimiliki PLN sehingga sering mati, kepercayaan presiden terhadap seorang kuli tinta untuk ngurus perusahaan stroom dan kebisaan memakai sepatu kets nya yang sampai saat ini tetep melekat pada seorang jurnalis sekaligus CEO jawapos group ini.

Anda akan banyak melihat kesederhanaan sosok Dahlan iskan, yang mengaku tak bisa main golf dan lebih enjoy menulis, dan benar, sampai saat ini masih aktif mengisi kolom di jawa pos dengan tulisan tulisannya yang mengalir.

Terobosan terobosan yang dibuat mantan wartawan asal magetan ini sangat banyak di PLN, seperti mencanangkan program pemasangan listrik 2.5 juta pelanggan tanpa suap, mencari utangan dan pasokan batubara kemana kemana termasuk ke pemerintah karena menilai banyak Pembangkit pembangkit listrik yang salah minum, sehingga seharusnya makanannya adalah kokas dari batubara, tetapi harus dicekoki dengan BBM yang harganya selangit, sehingga PLN terus merugi. Terobosan lain adalah membuat listrik prabayar yang diyakini akan memotong dan membuat PLN lebih efisien, karena ta perlu menggunakan petugas pencatat meter PLN, sekligus membuat pemakaian PLN lebih adil, membayar sejumlah yang mereka pakai saja, dan juga merubah slogan PLN menjadi bekerja, bekerja bekerja, pada hari jadi PLN lalu. Sepertinya beliau ditakdirkan sebagai seorang yang ahli memperbaiki, seperti halnya saat memperbaiki sebuah Koran local tua di Surabaya bernama jawa pos dan akhirnya menjadi Koran nomor satu di Indonesia.

Sayang, gebrakan gebrakan itu kini harus ditinggalkannya, seiring terpilihnya beliau menjadi menteri BUMN. Sambil terisak, beliau mengatakan bahwa beat meninghalkan PLN yang sedang giat giatnya bekerja dibawah komando dia ( walau tak mau menetima gajinya sebagai DIRUT PLN). Dia juga lebih sering menggunakan penerbangan ekonomi walaupun sudah menjadi DIRUT PLN sehinga sering ketemu orang orang yang kaget bahwa seorang DIRUT BUMN yang biasanya selalu membawa robongan protokoler, hanya seorang diri naik kelas ekonomi dan sangat sangat sederhana.

Semoga bapak satu ini bisa membuat BUMN lebih bersih dan lebih bermartabat, lebih dari sekedar sebagai ATM parpol dan kepentingan kelompok tertentu, seperti di masa lalu.

**Sebenarnya saya tak setuju dahlan iskan menjadi menteri, saya lebih setuju dia sebagai presiden negeri ini kelak

(Jadi teringat sosok Joko Wi di jawa tengah).

**Tanpa atribut partai yang mengaku paling suci pun, kita bisa berbuat banyak untuk negeri.
from here

No comments: