Friday, May 11, 2012

KETIKA AJAL TAK INGIN BERDAMAI


Oleh Andi Guntur Permana, S.Pd
            Masih teringat cerita seorang mahasiswa yang hendak ke luar negeri. Dia bersiap-siap untuk melanjutkan studinya dan nyambi bekerja, otaknya terbilang cerdas, karena itu ia diterima di Universitas ternama di luar negeri. Persiapanpun dilakukan baik paspor dan visa singkat cerita hari yang ditunggu-tunggu telah tiba Dia harus bergegas untuk pergi ke bandara yang sedianya berangkat pukul 14.00 WIB. Pergilah dia menyelusuri jalan kota dengan taksi menuju bandara – kemacetan kota sudah terbilang lumrah di Kota Metropolitan Sekelas Jakarta Akan tetapi karena terjadinya kecelakaan oleh pengendara mobil pribadi yang menabrak tembok pembatas tol menimbulkan kecelakaan beruntun, kemacetan parahpun terjadi. Dia duduk dengan gelisah karena khawatir pesawat tersebut akan tinggal landas sebelum dia tiba. Kekhawatian yang dia bayangkanpun menjadi keyataan, ternyata kemacetanpun belum teratasi. Akhirnya dia menyesal karena dia tidak jadi terbang ke luar negeri yang ia damba-dambakan. Dia kecewa karena jika terlambat maka posisi di perusahaan ternama pun akan digantikan oleh orang lain begitu pula dengan bea siswa studinya, maklum dia dari kalangan keluarga biasa-biasa. Sedih, Marah pun terlontar pada Zat sang pencipta karena cita-citanyapun sirna. Keesokan harinya menjadi hal yang biasa buat dirinya bergumul dengan keputusasaan, kemalasanpun menjadi hobi barunya, kemudian dia membaca Koran dengan headlines bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat dengan no GE1323 yang mengakibatkan seluruh penumpang dinyatakan hilang. Itulah pesawat yang salah satu penumpangnya tertinggal dan tidak jadi menempuh impiannya.
            Kecelakaan penerbanganpun baru-baru ini terjadi di Indonesia, bertajuk Joy Flight sebuah penerbangan promosi dengan kecanggihan dan keunggulan yang dimiliknya pun seolah-olah keselamatan penumpang sangatlah  terjamin. Keperkasaan Sukhoipun sirna menabrak tebing Gunung Salak. Senyum gembira sebelum keberangkatanpun menghiasi para awak kabin dan para penumpang Takdir berkata lain, kegembiraan tersebut dibalas dengan tangisan duka dari para pihak keluarga yang mendengar pesewat tersebut mengalami kecelakaan.        Manusia memiliki kontrak hidup dengan sang Penguasa Alam, kontrak yang tidak bisa ditunda, dimajukan atau dimundurkan sedetikpun
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Kita bisa meninggalkan dunia ini dengan cara apapun. Hitungan mundur (countdown) sedang bekerja mendekati angka nol angka yang setiap tahun baru menjadi sebuah awal “pesta” perpisahan akan dunia ini – awal dimana keluarga kita mengucurkan air mata kesedihan. Sudah saatnya kita “memerangi” takdir kita dengan berbuat baik yang menghambakan dirinya kepada sang Khalik dengan ikhlas
Kita harus mengambil ibrah (pelajaran) dari kejadian ini agar kita mau lebih extra bersiap diri untuk berbuat hal-hal kebajikan (amal shalih). Sebuah mahfuzat arab al-waktu kasshaif (waktu itu seperti pedang), setiap nafas merupakan sebuah perjalanan kita menuju ajal (waktu yang telah ditetapkan kematian) apakah kita telah bersiap-siap? Ataukah masih berleha-leha saja? Apakah kita sudah melakukan amal shaleh? Ataukah Amal salah yang selalu kita kerjakan?. Ingat kematian akan mendatangi kita dengan berbagai cara yang kita tidak bayangkan, apakah di tempat tidur? Apakah ketika bersujud? Apakah ketika berbuat maksiat? Allahu alam bissawab. Sahabatku bersiaplah menuju kematian husnul khatimah dengan berbuat amal shalih!.

No comments: