Menjadi Lebih baik dan terbaik walaupun buruk dimata orang | Doakan Orang Tua Anda | Sedekahkan harta anda Kepada Fakir Miskin dan Kaum yang tertindas | Hari ini Mungkin kematian menjemput kita tetapi maka dari itu kerjakanlah kebaikan walau di mata manusia tak ada harganya

Sunday, May 06, 2012

Konspirasi di Balik Makanan, Minuman dan Obat-obatan


Kali ini saya akan membahas secara singkat bagaimana konspirasi di balik makanan, minuman dan obat–obatan. Tidak terlalu jauh hubungannya dengan perang pemikiran melalui makanan, tujuannya menjauhkan ummat Islam dari aqidahnya. Tidak hanya itu, mereka juga membuat program bisa mengendalikan jumlah populasi manusia di seluruh dunia atau dikenal dengan sebutan depopulation program, yang sampai saat ini mencapai 6 miliar lebih manusia yang hidup. Program ini dikenal dengan Codex Alimentarius, didirikan oleh PBB, dari organisasi FAO (Badan Pangan Dunia) dan WHO (Badan Kesehatan Dunia).
Sebagian orang menganggap bahwa Codex Alimentarius adalah hal yang baik, padahal tidak sama sekali. Program ini sudah dirancang sejak tahun 1963, namun baru dapat dikerjakan pada awal abad 21. Kerja Codex adalah dengan membuat standar pangan dunia, antaranya:
  1. Mengendalikan nutrisi dalam makanan, artinya mereka dengan bebas mengendalikan asupan gizi ke dalam makanan. Yang seharusnya layak kita dapatkan, tapi hanya sedikit asupan gizi yang masuk dalam tubuh kita.
  2. Mengatur penggunaan bahan kimiawi dalam makanan, bahan–bahan kimiawi dapat menyebabkan kanker, gangguan pada hati, gangguan ginjal bahkan stroke.
  3. Mengatur pestisida yang digunakan untuk pertanian dan perternakan, artinya pestisida dibuat untuk membunuh hama dalam waktu yang singkat. Penggunaan pestisida yang berlebihan akan mengurangi kandungan vitamin atau gizi pada buah–buahan dan sayuran.
  4. Membuat standar prosedur baru dalam sistem keamanan dan kebersihan makanan, dalam membuat ini para produsen membuat produk yang berbahaya tapi diberi label tidak berbahaya bagi tubuh manusia.
  5. Mengatur bio-teknologi pangan (dalam hal ini rekayasa genetika sumber pangan), merekayasa sumber pangan dengan penggabungan genetik pada tumbuhan dan hewan.
Bagaimana cara mengendalikannya? Berikut penjelasan singkatnya.
Makanan
Semakin lama, semakin senang dengan makanan siap saji (junk food), di Amerika Serikat sedang mengampanyekan untuk menjauhi, tapi di Indonesia menjadi makanan bergengsi. Apalagi yang statusnya “boikot”, selain keuntungannya digunakan untuk menyumbang peluru yang membunuh saudara–saudara kita di Palestina, ternyata juga bisa merusak kesehatan tubuh. Siapa yang tidak tahu dengan produk humburger dari produk yang “diboikot” (yang mengandung unsur angka 13)?? Daging pada hamburger tersebut, ternyata sudah disemprot dengan zat cair yang biasa untuk pembersih kaca, agar daging tetap awet setelah dicetak. Jika kita menaruh hamburger di atas meja dengan terbuka, tanpa ada penutupnya maka lalat tidak mau menghampiri. Hari berikutnya masih bisa dimakan.
Saya pernah melihat sebuah film dokumenter, ada seorang laki–laki di AS yang “bereksperimen” dengan memakan produk “boikot” tersebut selama satu bulan penuh. Sarapan, makan siang dan makan malam, tapi laki–laki itu tetap konsultasi perkembangan kesehatan pada tiga dokter ahli. Hasilnya selama satu bulan tersebut, berat badannya naik drastis. Mungkin sekitar 10 sampai 20 kilogram, tapi tidak sehat. Pada pertengahan bulan, laki–laki tersebut mulai mengalami keluhan, seperti sesak napas dan sempat “dilarikan” ke dokter. Jadi, masih mau makan produk “boikot” itu??
Belum lagi dari PBB melalui dua organisasi tersebut (FAO dan WHO) mengendalikan pertanian bahan pangan di seluruh dunia agar negara–negara miskin jadi tambah miskin, setelah itu bisa jadi penduduknya mati satu per satu. Mungkin karena itu adanya pestisida, agar buah dan sayuran tetap segar. Ada lagi zat dalam pasta gigi, namanya flouride. Zat ini berbahaya, merapuhkan gigi bukan untuk menguatkan gigi, membuat tulang keropos dan gangguan otak. Hewan, apabila diberi flouride, akan mati seketika. Tidak salah, kalau Rasulullah saw menganjurkan untuk memakai siwak, supaya mulut tidak bau, menghilangkan plak pada gigi. Saat ini, sudah banyak pasta gigi tanpa flouride dan mengandung kayu siwak.
Minuman
Minuman, sama juga seperti makanan. Soft drink, lebih disukai daripada minuman yang sudah dijamin sehat seperti susu. Seperti biasa, produk yang berstatus “boikot” jenis minuman cola. Jerry D Gray (penulis buku Rasulullah Is My Doctor) pada suatu kajian di Masjid Al Lathif, Pasaraya Grande Blok M pernah membicarakan mengenai cola ini, ternyata memang membuat perut menjadi “bersih”. Minuman ini bisa untuk membersihkan porslein pada kamar mandi yang berkerak, bayangkan kalau masuk ke lambung? “Bersih” pasti.
Saya juga pernah membaca artikel yang tertempel pada mading mushalla dekat rumah, di Kanada pernah menyelenggarakan lomba minuman jenis cola dari produk “boikot” tersebut. Pemenangnya menghabiskan tujuh atau delapan botol ukuran besar dan orang yang menang langsung tewas di tempat. Kalau mau bereksperimen lagi dengan produk ini, coba beli permen yang mengandung mint kemudian masukkan dua butir ke dalam botol cola. Tunggu reaksinya, dan ternyata air colanya menyembur seperti gunung meletus atau menyembur seperti air mancur. Nah, kalau ada yang mau coba meminum minuman tersebut, kemudian makan permen yang mengandung mint, silakan saja.
Ada lagi zat yang biasa buat campuran minuman atau malanan, yaitu aspartame (pemanis buatan). Zat ini menyebabkan radang otak, dalam waktu cepat atau lambat. Sedangkan minuman yang berkarbonasi, karbonasi itu ternyata dapat menyedot energi dari tubuh. Kalau membeli minuman kemasan, harus kritis. Semuaya diperiksa, kehalalannya, komposisi minuman dan tidak lupa tanggal kadaluarsanya. Halal tapi tidak menyehatkan, lebih baik tinggalkan.
Obat–obatan
Obat–obatan yang beredar tidak luput dari konspirasi untuk mengendalikan populasi manusia di seluruh dunia. Obat–obatan yang beredar sebenarnya bukan menjadi sembuh, tapi malah menjadikan orang bertambah sakit. Kalau kita membeli obat warung biasa, kita baca afek sampingnya seabrek. Obat dokter juga begitu, jika orang meminum obat dari dokter efeknya hanya mengurangi bukan menyembuhkan. Ayah saya sampai sekarang masih mengonsumsi obat dari dokter, padahal komplikasinya (diabetes, paru–paru karena dulu memang perokok berat, tekanan darah tinggi) sudah tidak dirasakan lagi.
Memang obat yang paling ampuh adalah habbatusauda, madu dan sari kurma. Menurut pengalaman Jarry D Gray, penderita HIV/AIDS bisa sembuh dengan minum habbatusauda, madu dan makan makanan yang sehat dalam waktu tiga bulan. Bohong sekali kalau penyakit HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan. Madu mempunyai kandungan obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit ringan sampai penyakit kronis. Sama seperti halnya habbatusauda, bisa menyembuhkan berbagai penyakit kecuali kematian.
Perlu diketahui, bahwa penyakit–penyakit yang baru–baru ini terdengar adalah buatan, artinya memang sengaja dibuat untuk mengendalikan jumlah populasi manusia di seluruh dunia, contohnya seperti HIV/AIDS, antraks, imunisasi, H1N1 dan H5N1. HIV/AIDS yang pertama kali menyebar di Afrika, mulanya seorang bayi disuntik dengan virus tersebut setelah itu, virusnya menyebar kemana–mana. Imunisasi bukan menambah kekebalan tubuh pada bayi dan balita, malah akan melemahkan sistem imun. Untuk yang punya bayi dan balita, lebih baik diberi ASI eksklusif daripada imunisasi. Kira–kira penyakit apa lagi yang akan muncul setelah gempar dengan H1N1 dan H5N1??
Kemudian ada juga program keluarga berencana (KB). Di Afrika, sekolah–sekolah sekarang ini sudah mulai kekurangan siswanya karena program KB. Di Cina, tidak boleh punya anak lebih dari dua. Kalau lebih dari dua, sisanya milik negara. Rasulullah saw akan bangga dengan ummatnya yang banyak, tapi juga harus diperhatikan kualitas keilmuan dari orang tuanya. Mampukah mendidik dengan banyak anak agar menjadi anak yang shalih dan shalihah??
Oleh: Eka Yuliani Nurhayati, Tangerang.

No comments:

Humanity|Respect|Try To Not Cry