Monday, August 09, 2010

BAHAN BAKAR BIO, MASA DEPAN INDONESIA

Indonesia akhirnya menjadi negara pengimpor minyak, lebih cepat dari perkiraan pemerintah, 2008. Kenyataan ironis ini semestinya sudah bisa memaksa negara yang dulunya kaya minyak menggali dan memanfaatkan berbagai potensi energi alternatif. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memang telah mengembangkan teknologi pembuatan biodiesel dan bioetanol, sekaligus menggunakannya untuk kendaraan di lingkungan lembaga riset ini, sejak setahun lalu.

Uji coba untuk mengetahui kelayakannya, jelas Kusmayanto Kadiman selaku Kepala BPPT. Biodiesel berpotensi menggantikan solar dan gasohol untuk bensin, seharusnya bisa jadi solusi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) seperti sekarang. Penggunaan energi alternatif diharapkan dapat menggantikan hampir 40 persen kebutuhan BBM yang diimpor. Sebaliknya devisa yang dihemat untuk membeli BBM bisa untuk memproduksi bahan bakar bio. Dua bahan bakar alternatif itu berasal dari sumber terbarukan seperti kelapa sawit dan jarak pagar (Jathropa curcas). Biodiesel termasuk golongan alkohol dengan nama kimia alkil ester bersifat sama dengan solar, bahkan lebih baik nilai cetanenya.

Biodiesel dapat digunakan pada mesin diesel tanpa modifikasi. Sedangkan bioetanol memiliki senyawa kimia alkohol sama dengan yang ditemukan pada bir dan anggur. Pembuatannya juga melalui fermentasi biomasa yang berkandungan karbohidrat tinggi seperti tepung singkong, tebu, atau selulosa. Penggunaan bioetanol dicampur bensin untuk kendaraan disebut gasohol. Namun, bioetanol hanya memiliki dua-pertiga energi bensin.

Penguapan bioetanol dari cair ke gas juga tidak secepat bensin. Karena itu penggunaan bioetanol murni pada kendaraan akan menimbulkan masalah. Tetapi masalah dapat diatasi dengan mengubah desain mesin dan reformulasi bahan bakar. Penggunaan bioetanol dicampur dengan bensin dengan komposisi 10:90 telah berdampak positif bagi lingkungan. Uji coba BPPT menunjukkan E10 menghasilkan emisi karbon (CO dan CO2), sulfur dioksida (SO2) lebih rendah dibanding bensin.

Keuntungan lain penggunaan biodiesel adalah penghematan sumber energi yang tidak terbarukan dan berkurangnya biaya kesehatan akibat pencemaran udara. Penggunaan sumber nabati seperti minyak kelapa dan CPO (Crude Palm Oil) sebagai bahan baku produksi biodiesel juga akan akan membuka peluang usaha bagi para petani. Riset biodiesel Riset biodiesel telah dilaksanakan di seluruh dunia khususnya di Austria, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Bahan bakunya antara lain kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.

Di Indonesia, penelitian biodiesel dirintis oleh Lemigas dan Pertamina yang mencampur biodiesel dengan solar dengan rasio 30:70 untuk kendaraan bermesin diesel komersial, 1996. Institusi riset lain kini juga mengembangkan biodiesel seperti Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, Balai Besar Mekanisasi Pertanian Deptan, ITB, dan LIPI. Menurut kebijakan umum di sektor energi cetak biru Pengelolaan Energi Nasional (PEN) pemanfaatan bioetanol dan biodiesel ditetapkan 2 persen tahun 2010 dan 5 persen 2025. Untuk mencapai target Ditjen LPE telah membentuk tim untuk mengkaji berbagai insentif yang diperlukan untuk pengembangan biodiesel dan bioetanol. Misalnya insentif dari pemerintah bagi pembangunan pabrik biofuel lewat reduksi pajak dan pengurangan bunga pinjaman. Beberapa pihak berharap insentif penggunaan biofuel lewat pembebasan pajak.

Hal ini tidak dapat ditetapkan bila bahan bakar fosil disubsidi dan komoditas tersebut masih peka secara politis, urai Kusmayanto. Di luar negeri penggunaan energi terbarukan justru yang disubsidi, sedang pengguna BBM dikenakan pajak. Bila 2 persen konsumsi minyak solar tahun 2010 diganti dengan biodiesel, ini berarti diperlukan 720.000 kiloliter biodiesel. Ini berdampak pada kebutuhan pasokan CPO dan tanaman jenis lainnya sekitar 720.000 ton yang ditanam di 205.000 hektar perkebunan. Hal ini dapat menciptakan kesempatan kerja bagi 100.000 tenaga kerja di sektor perkebunan kelapa sawit dan 5.000 di pabrik biodiesel di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Menurut Arie Rahmadi, General Affair Manager Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT, sebuah pabrik percontohan skala kecil sudah dibangun di Puspiptek Serpong dengan kapasitas 3 ton per hari, namun yang diproduksi baru 1.500 liter per hari. Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar bus di BPPT jelasnya. Perintisan penggunaan biodiesel memang menyasar kendaraan bermotor milik pemerintah. Departemen yang akan mengikuti jejak BPPT adalah ESDM. BPPT membantu membangun pabrik serupa di Riau dengan kapasitas 8 ton per hari.

Provinsi dengan perkebunan kelapa sawit yang tergolong paling luas di Indonesia ini akan memproduksi biodiesel untuk memenuhi kebutuhan pembangkit di kawasan perkebunan itu dan masyarakat sekitarnya. Pembuatan biodiesel ditargetkan akan mensubstitusi sekitar 4 persen atau 1,5 juta kiloliter dari kebutuhan solar di Indonesia. Meski relatif kecil, jumlah rupiah yang dapat dihemat mencapai Rp 7,5 triliun dengan asumsi harga solar Rp 5.000 per liter. Saat ini pembuatan biodiesel masih menggunakan CPO yang harganya relatif tinggi. Bila harga CPO dapat diturunkan maka harga biodiesel pun akan semakin kompetitif. (Yuni ikawati)

Sumber : Kompas (19/7/05

No comments: