Friday, August 06, 2010

Memahami Peran Manusia dalam Membangun Perusahaan Ideal

Oleh Danny Wangsahardja

Apa yang paling penting dalam menjalankan sebuah usaha? Apa yang paling krusial dalam peningkatan kinerja sebuah tim kerja? Apa yang paling berperan dalam memenangkan sebuah kompetisi?
Jawaban Anda mungkin beragam. Mungkin juga semua tergantung pada latar belakang dan jenis usaha yang Anda lakoni saat ini.
Namun, bagaimana kalau saya jawab dengan satu kata: orang! Yang paling penting dalam menjalankan sebuah usaha adalah orang. Yang paling krusial dalam peningkatan kinerja sebuah tim kerja adalah orang. Dan yang paling berperan dalam memenangkan sebuah kompetisi adalah cara kita menangani konsumen (orang). Nah, orang sangat penting, bukan?
Anda boleh setuju dengan saya atau tidak setuju. Bagi saya, bagaimana kita menangani, memperlakukan dan memotivasi orang yang bekerja untuk kita, orang yang berpartner dengan kita, bahkan diri kita sendiri adalah hal yang sangat penting dalam mencapai sebuah prestasi dalam usaha atau bekerja.
Intinya, sebuah perusahaan tanpa orang, bukanlah perusahaan. Sebuah usaha tanpa ada konsumen, pasti tak akan ada transaksi. Begitulah gambaran sederhananya. Sederhana? Yang memang sangat sederhana! Hanya saja kita yang selalu malas melakukan setiap hal yang sederhana itu.
Banyak dari kita yang beranggapan bahwa hidup saat ini tak bisa lagi dihadapi dengan hal-hal yang sederhana. Hidup saat ini dianggap sudah begitu rumit, sehingga harus dihadapi dengan cara yang rumit pula.
Begitu juga dengan bisnis. Di era saat ini, bisnis dianggap begitu kompleksnya sehingga sebuah sikap yang sederhana sangat tak relevan, menurut sebagian banyak orang. Bisnis saat ini, masih menurut anggapan tadi, harus dihadapi dengan cara-cara, strategi dan trik yang canggih dan kompleks. Bukan yang sederhana.
Benarkah begitu? Ini semua memang kembali ke diri kita masing-masing. Kitalah yang sangat berhak dengan cara kita dalam menghadapi atau menjalani sebuah bisnis.
Satu hal yang sangat saya pahami adalah bahwa manusia terdiri dari dua unsur; yaitu jiwa dan raga. Ya, hanya dua unsur itu saja. Sederhana bukan? Lalu dari dua unsur tadi terpecah lagi menjadi raga, pikiran, hati dan semangat. Tetap masih sederhana. Hanya empat unsur.
Lalu apa yang membuatnya menjadi kompleks atau rumit? Pengalaman hidup dan lingkungan! Namun, siapa yang paling berpengaruh dalam pengalaman hidup dan lingkungan seorang anak manusia? Ya, manusia juga, bukan? Sederhana lagi!
So, meminjam istilah Gus Dur, “Gitu aja kok repot?”
Kendati begitu, saya harus akui, memang dalam melakoni sebuah bisnis tidaklah sesederhana kalau kita membalikkan telapak tangan. Biasanya ini ditimbulkan dari pikiran, hati dan semangat. Pikiran yang picik, egois atau pesimistis bisa merusak suatu hubungan. Hati yang dengki, iri atau rendah diri juga begitu. Serta semangat yang cepat loyo atau mau enaknya saja selalu jadi awal dari konflik.
Misalnya, kita harus repot dalam menghadapi karyawan yang sulit diatur, mau enaknya sendiri dan egois. Kita juga akan kerepotan kalau memiliki karyawan yang banyak mengeluh ketimbang bekerja. Atau karyawan yang banyak omongnya ketimbang prestasinya. Begitu juga kalau bos yang selalu main perintah tanpa tujuan yang jelas, mau enaknya sendiri (tak mau susah) atau maunya yang instant-instan melulu.
Intinya, untuk meminimalisir konflik dan meningkatkan prestasi perusahaan, kita harus cermat dalam melakukan recruitment. Inilah hal sederhana yang sering diabaikan orang. Kebanyakan dari pimpinan perusahaan terlalu terfokus pada recruitment pada level tertentu saja. Misalnya, level manager ke atas. Sedangkan, level di bawahnya dianggap tak terlalu banyak berpengaruh.
Padahal, dalam sebuah perusahaan setiap level SDM memiliki peran yang penting di bidangnya masing-masing. Seorang office boy atau supir sekalipun bila tak dicermati dalam recruitment, cepat atau lambat akan menimbulkan persoalan yang cukup serius dan menguras otak dan biaya.
Akan semakin krusial lagi pada proses recruitment SDM di bidang marketing atau sales. Karena di tangan merekalah—meski bukan satu-satunya—omzet perusahaan ditentukan. Uniknya, banyak perusahaan di Indonesia merekrut tenaga-tenaga penjual dengan reputasi penjualan yang memukau.
Harapannya adalah ketika tenaga penjual itu berhasil ”dibajak” ke perusahaannya maka ia bisa meningkatkan juga omset penjualan perusahaan tersebut. Dengan kata lain, merekrut SDM yang ‘siap-jadi’. Kenyataannya tak sedikit cara ini justru membuahkan kegagalan.
Yang perlu disadari oleh kita adalah bahwa seorang tenaga penjual—sejago apa pun ia—pastinya tak bisa bekerja sendirian. Ia perlu tim kerja yang solid dan mendukungnya secara penuh dan tulus, bukan tim kerja yang merasa iri dengan gajinya yang besar (ini fakta yang sering terjadi pada karyawan yang dibajak dari perusahaan lain).
Seorang tenaga penjual juga tidak bisa mengabaikan para klien atau konsumennya. Seorang tenaga penjual di bidang otomotif kelas niaga, belum tentu berhasil di kelas VIP dengan harga mobil miliaran rupiah. Hal ini karena karakter konsumennya sangat berbeda. Kembali lagi, ini masalah menghadapi orang! Figur yang terdiri dari dua unsur; jiwa dan raga dengan turunannya (body, mind, heart and spirit).
Membangun sebuah tim tenaga penjual yang tangguh adalah lebih berharga ketimbang hanya merekrut seorang tenaga penjual terbaik. Karena di era seperti saat ini, terbaik saja tidaklah lagi cukup. Kita memerlukan orang-orang yang memiliki prestasi kerja yang luar biasa (great). Karena mereka yang memiliki kinerja great akan melahirkan sebuah strategi yang great pula.
Seperti apakah SDM yang great ini? Mereka adalah yang memiliki visi ke depan tentang kemajuan perusahaan yang sangat jelas dan solid. Dan ia menuangkannya dalam misi yang jelas pula. Lalu ia fokus dengan misi tersebut. Dari misi itu ia terjemahkan lagi menjadi nilai-nilai dalam bekerja.
Setelah itu ketika ia sudah menjadi atau memang seorang pemimpin atau termasuk dalam jajaran pimpinan, ia merupakan seorang pelopor. Artinya, kreativitasnya tinggi dan berani mencoba atau tak takut berbuat salah. Selain itu, ia juga terbuka terhadap kritik, pendapat atau saran orang lain, sekalipun itu datang dari bawahan atau kompetitornya.
Dengan kata lain, seorang yang memiliki kinerja great memang tak mudah ditemukan. Tapi, bukan berarti ia tak bisa ditemukan. Bahkan, membentuk seorang karyawan menjadi great bukan tidak mungkin. Sebuah program Business Coaching akan mengantarkan seorang pemimpin perusahaan menemukan orang-orang seperti ini. Sarat awalnya adalah ia harus mempu terlebih dahulu menjadi seperti seseorang yang ia inginkan itu melalui Coaching tersebut.
Seminar, pelatihan atau pendidikan hanya bagian kecil dari Coaching untuk membentuk seseorang menjadi great. Sayangnya, seminar, pelatihan atau pendidikan hanya terkesan atau dianggap sebagai pencetak karyawan yang ber-sertifikat semata. Tak lebih dari itu.
Ada baiknya, kita juga bercermin dari pemilihan Miss Universe yang baru berlalu beberapa minggu lampau. Terlepas dari kontroversi keikutsertaan peserta dari Tanah Air, bagi saya kriteria pemilihan Miss Universe cukup baik untuk dicontoh dalam merekrut seorang karyawan.
Kreteria umum pemilihan Miss Universe adalah 3B, Brain (otak), Behaviour (tingkah laku dan sikap), serta Beauty (kecantikan/penampilan–bukan berarti hanya cantik secara fisik). Ketiga kriteria itu jelas mereferensi pada sosok dengan kinerja great. Cukup sederhana, bukan? Hanya tiga kreteria, tak banyak! Hanya saja, kembali lagi, kita masih belum percaya pada hal-hal yang sederhana ini.
Satu hal lagi yang perlu diingat bahwa kemampuan seorang manusia tidaklah abadi. Kemampuan itu bisa hilang kalau tidak atau jarang digunakan. Sebuah kemampuan harus diasah secara periodik. Layaknya, sertifikat seorang pilot yang harus diperpanjang setiap 6 bulan sekali.
Yang paling ideal adalah kalau kemampuan kita terus diasah melalui kasus demi kasus. Dengan kata lain, jangan menghindar dari masalah. Hadapi masalah dengan kepala dingin dan pemikiran bahwa hal itu akan menambah kemampuan kita, bukan mempersulit kita. Dengan begitu, setiap pekerjaan yang kita lakukan akan optimal hasilnya.
Semua itu berawal dari kecermatan dan keseriusan kita dalam mengolah, melatih dan mengasah kemampuan manusia. Baik itu dari sisi internal (karyawan atau diri sendiri) maupun eksternal (konsumen dan supplier atau partner bisnis lainnya). Dan, ingat, baik tidak lagi cukup untuk mencapai prestasi puncak di era sekarang. Kinerja yang great sudah tak bisa ditawar lagi!

Penulis adalah penggiat di Associate Partner Dunamis Organization Services
& Action International Coach
(sinar harapan)

No comments: