Monday, August 09, 2010

World Without Oil

Seperti biasa, semalam tadi aku menonton saluran televisi kesayanganku. Apalagi kalau bukan National Geographic :D Kali ini, yang aku tonton adalah serial Aftermath, dengan judul "World Without Oil". Sekilas tentang serial Aftermath, serial ini nampaknya berisi prediksi-prediksi mengenai kejadian yang akan datang berdasarkan ilmu pengetahuan dan perhitungan-perhitungan dari keadaan sekarang ini. Singkatnya cerita ini adalah 'ramalan' kejadian yang akan terjadi berdasarkan perhitungan matematis dan sains.

Dilihat dari judulnya, kita bisa tahu bahwa cerita kali ini menceritakan apa yang terjadi apabila dunia telah kehabisan cadangan minyaknya. Yang dimaksud dengan minyak disini adalah Minyak Bumi dan hasil turunannya seperti bensin, avtur, minyak tanah, aspal, dll. Mungkin akan ada yang berpikir "Ah tidak menarik, kalo minyak bumi habis, emang kenapa? kan kita masih ada energi alternatif lain". Aku juga berpikir begitu sebelumnya. Tapi ternyata, masalahnya bukan hanya energi. Sadarkah kita kalau kita ternyata sangaaaat tergantung dengan yang namanya minyak bumi? Lihat sekeliling kita. Bisakah kita menyebutkan 10 saja benda yang dibuat oleh manusia tanpa keterlibatan minyak bumi? Plastik, besi, karet sampai yang namanya lipstik kalau diruntut kecara pembuatannya, pasti ada yang namanya minyak bumi. Sekali lagi, minyak bumi disni bisa juga berarti dalam bentuk turunannya.

Cerita dimulai dengan kejadian yang sedang terjadi di pertambangan minyak. Bumi sedang digali dan dikeruk untuk mengambil minyak yang ada di dalamnya. Seting cerita berada di Amerika. Mengapa? karena Amerika adalah negara di dunia yang ketergantungannya paling besar pada minyak bumi. Dalam cerita itu, tiba-tiba alarm di pertambangan minyak berbunyi. Alarm itu memberi sinyal bahwa cadangan minyak telah habis. Semua orang terkejut, karena ternyata jumlah minyak yang terkandung tidak sesuai dengan perhitungan. Minyak di dalam bumi telah benar-benar habis. Dengan bantuan media, berita ini akhirnya tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat Amerika panik. Pemerintah mulai membatasi penggunaan dan penjualan cadangan minyak. Meskipun minyak di perut bumi sudah habis, Amerika masih mempunyai cadangan yang cukup untuk 1 tahun ke depan.

Sejak pertamakali berita minyak habis diberitakan, masalah sosial mulai terjadi. Orang-orang mulai mengantri di tempat penjualan bensin untuk mendapatkan tetesan-tetesan terakhir untuk bahan bakar kendaraan mereka. Beberapa hari setelah minyak habis, pemerintah mulai melakukan penghematan besar-besaran. Layanan sosial yang tidak begitu penting dihentikan demi penghematan cadangan minyak. Transportasi umum, listrik, industri dan lain sebagainya otomatis terganggu bahkan sampai terhenti. Masyarakat bertambah panik. Ekonomi mulai goncang. Pengiriman bahan makanan mulai dibatasi karena tidak ada bahan bakar untuk kendaraannya. Sebagai efek domino, masyarakat mulai kelaparan. Penjarahan terjadi dimana-mana. Bahkan toko yang menjual bahan makanan pun sampai dijaga oleh polisi bersenjata untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Hewan ternak banyak yang mati karena distribusi pakan yang tidak lancar. Orang mulai kembali ke masa lalu dimana perumahan mulai diubah menjadi tempat menanam untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Beberapa bulan sejak minyak habis. Jalanan seluruh Amerika benar-benar sepi. Listrik sering dimatikan karena tak ada bahan bakar. Layanan sosial seperti rumah sakit mulai kesulitan karena tak ada listrik. Penyakit dan infeksi mulai menyebar. Bahkan untuk operasi pun, karet yang digunakan untuk sarung tangan dokter mulai langka. Sarung tangan untuk operasi harus diganti, tetapi untuk membuat karet sintetis butuh minyak bumi. Akibatnya infeksi tak bisa dihindarkan. Sampah-sampah tak bisa diangkut keluar kota.Orang mulai mencari bahan bakar alternatif. Semua orang tiba-tiba menjadi ahli kimia. Mereka mencoba mencampur sisa-sisa bahan bakar untuk menciptakan bahan bakar baru. Hanya kendaraan bermesin disel yang masih bisa digunakan dengan bahan bakar modifikasi itu. Negara lain pun mengalami hal yang sama. Ekonomi Jepang dan negara maju lainnya runtuh. Negara penghasil minyak di jazirah Arab juga bangkrut. Hanya negara berkembang seperti Brazil yang sudah mulai menggunakan biofuel yang masih bisa bertahan. Pemerintah Amerika pun mulai melirik biofuel. Seluruh Amerika menanam jagung dan tebu. Untuk panen kali ini, pemerintah dihadapkan pilihan sulit: hasil panen untuk makanan atau bahan bakar. Biofuel yang dihasilkan dari hasil panen seluruh negri tidak bisa memenuhi bahkan 1 persennya dari kebutuhan energi dalam negeri.

Bulan berganti bulan, tak terasa sudah setahun dunia hidup tanpa minyak. Dalam film itu diceritakan sebuah keluarga mempunyai seorang anak yang sakit. Mereka berniat membawa anak tersebut ke rumah sakit. Sang ayah berniat membawa mobil mereka akan tetapi bahan bakar sudah habis. Untung, si ayah masih mempunyai sedikit bahan bakar dalam drum kecil. Tahun lalu ia sedikit menimbun bensin untuk berjaga-jaga. Akan tetapi, setelah bensin dimasukkan ke dalam mobil, mesin mobil tersebut tetap tidak dapat jalan. Ternyata, bensin tersebut telah rusak karena disimpan terlalu lama. Akhirnya sang ayah harus menggendong anaknya ke rumah sakit. Sayang, nyawa anak tersebut akhirnya tak dapat diselamatkan.

Akhirnya sesuatu yang paling ditakutkan masyarakat Amerika pun terjadi: Musim Dingin. Orang sudah tidak dapat lagi bermimpi mengenai musim dingin yang hangat dengan alat penghangat. Sebelum salju benar-benar membuat kota beku, orang mulai pindah ke tempat yang lebih hangat. Kota-kota ditinggalkan bersama dengan mobil yang sudah tak bisa dipakai. Akhirnya selama musim dingin banyak kota-kota di Amerika menjadi kota mati.

Bertahun-tahun telah terjadi, tetapi keseimbangan kehidupan belum pulih seperti sediakala. Namun usaha manusia mulai membuahkan hasil. Para peneliti menemukan bahwa bahan bakar minyak dapat dihasilkan juga oleh sejenis alga. Kekuatannya melebihi bahan bakar yang dihasilkan tebu dan jagung. Perlahan tapi pasti manusia mulai bangkit kembali. Kita memang bisa bangkit. Tetapi, kejadian ini telah memakan begitu banyak korban dan biaya. Satu hal positif yang dicapai dengan hilangnya minyak ini adalah udara di bumi mulai bersih kembali. Polusi berkurang karena pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor berhenti beroperasi. Manusia mulai memikirkan energi alternatif yang ramah lingkungan. Mobil-mobil diganti dengan mobil listrik yang tidak mengeluarkan asap. Tapi pengorbanan yang telah terjadi, tetaplah menyakitkan. Terutama apabila kita sampai kehilangan orang-orang terkasih. Pengorbanan tidak akan lebih besar seandainya mulai saat ini kita mulai berhemat. Ya, demi bumi kita tercinta. from milis tetangga

No comments: