Thursday, January 19, 2012

Analisis Bisnis Batagor, Calon Primadona Kuliner Masa Depan

Analisis Bisnis Batagor, Calon Primadona Kuliner Masa Depan

Kini makanan tradisional sudah menjadi produk yang sangat layak dijadikan bisnis dan memberi banyak peluang yang sangat menjanjikan. Salah satu produk makanan tersebut adalah Batagor, akronim dari Bakso Tahu Goreng, yang merupakan makanan inovasi yang berasal dari Tlatah Sunda. Jenis makanan ini banyak terdapat di Bandung, Bogor, dan kawasan lain di Jawa Barat, tetapi kini Batagor sudah merambah dan disukai masyarakat lainnya. (foto: Google)

Kini makanan tradisional sudah menjadi produk yang sangat layak dijadikan bisnis dan memberi banyak peluang yang sangat menjanjikan. Salah satu produk makanan tersebut adalah Batagor, akronim dari Bakso Tahu Goreng, yang merupakan makanan inovasi yang berasal dari Tlatah Sunda. Jenis makanan ini banyak terdapat di Bandung, Bogor, dan kawasan lain di Jawa Barat, tetapi kini Batagor sudah merambah dan disukai masyarakat lainnya. (foto: Google)
Produk-produk kuliner Indonesia, sebagian besar sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Ada Bakso, Mie Ayam, Pempek, hingga ratusan jajanan dan makanan tradisional Nusantara lainnya.

Dan kini makanan tradisional sudah menjadi produk yang sangat layak dijadikan bisnis dan memberi banyak peluang yang sangat menjanjikan.

Salah satu produk makanan tersebut adalah Batagor, akronim dari Bakso Tahu Goreng, yang merupakan makanan inovasi yang berasal dari Tlatah Sunda. Jenis makanan ini banyak terdapat di Bandung, Bogor, dan kawasan lain di Jawa Barat, tetapi kini Batagor sudah merambah dan disukai masyarakat lainnya.

Salah satu yang disukai dari makanan ini adalah cara penyajiannya dan pembuatannya yang mudah serta memiliki rasa dan aroma yang enak. Di Kawasan Bandung, ada seorang pelopor bisnis Batagor yang mulai berjualan sejak tahun 1970an, namanya Isan.

Asal Mula Batagor

Bakso Tahu Goreng (Batagor) mengapa produk ini ada? Ternyata Batagor lahir dari ketidaksengajaan. Saat itu, Isan adalah penjual bakso keliling di seputaran Jalan Kopo, Bandung.

Suatu ketika, bakso yang dijajakan kurang laku. Setiap hari ia memikirkan mau diapakan bakso, tahu, yang tak terjual ini. Apakah harus dibuang, atau diolah lagi supaya tetap menghasilkan uang.

Ide sederhana untuk menggoreng sisa baso tahu tersebut muncul dan ia lakukan jika dagangannya tersisa. Pada awalnya baso tahu yang digoreng tersebut ia bagikan pada tetangga, namun ternyata para tetangganya sangat menyukainya. Malah ada tetangga yang diminta untuk dibuatkan.

Melihat antusiasme tersebut, Isan mulai mencoba menjajakan baso tahu yang telah digoreng bersama baso tahu yang biasa ia jual. Di luar perkiraannya, ternyata peminatnya banyak, bahkan berdagang bakso tahu yang digoreng lebih laku dari berjualan bakso saja.

Akhirnya Isan lebih banyak mengembangkan Bakso Tahu yang digoreng, dengan memberikan aroma dan rasa ikan lebih kuat dan lebih banyak, dengan sambal khusus, sehingga masyarakat lebih banyak menyebutnya Batagor, seperti yang kita kenal saat ini.

Sejak saat itu Isan mengalami peningkatan pelanggan. Hingga di awal tahun 80an ia menyewa sepetak lahan untuk berjualan agar tidak perlu berkeliling kampung lagi.

Baso tahu gorengnya mulai banyak dikenal. Banyak pula yang menirunya, terutama yang berjualan di seputar Bandung. Akibat demam Baso Tahu Goreng yang terjadi saat itu di Bandung, maka kala itu banyak pelanggan yang menyebutnya dengan sebutan pendek Batagor.

Mulai Dikenal

Batagor Isan saat itu sangat terkenal, dan mengisnpirasi banyak orang untuk membuat serupa. Sejak tahun 1980 itulah muncul nama-nama besar di dunia per batagoran di Bandung, seperti Batagor Riri, Batagor Abuy, Batagor Kingsley, Batagor Burangrang dll.

Batagor Isan sendiri mengalami booming namun tetap mempertahankan citarasa yang ada dan tetap dibanjiri pelanggan dari berbagai golongan karena harganya yang sangat merakyat hingga saat ini.

Isan yang sangat rendah hati, merekrut banyak kerabatnya untuk membantu menjalankan bisnisnya. Tempat yang ia pakai berpindah-pindah hingga sekarang ia menempati lokasi di Jalan Bojongloa, masih di seputaran daerah Kopo Bandung.

Sudah banyak pegawainya yang sebagian besar merupakan kerabatnya yang ia dorong untuk maju dengan membuka warung Batagor sendiri dan memperbolehkan menggunakan namanya. Karena itu warung Batagor Isan mudah dijumpai karena ada beberapa lokasi di seputaran Bandung diantaranya di daerah Cimahi, Cibaduyut dll. Sedangkan yang tetap ia kelola sendiri manajemennya adalah yang di Jalan Bojongloa dan di Jalan Cikawao.

Semua Warung Batagor Isan memiliki resep yang sama, sehingga rasa maupun harga relatif tidak berbeda, namun tidak dipungkiri beragam inovasi positif dilakukan oleh pemiliknya masing-masing guna menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.

Disaat Batagor lainnya melaju kencang, Batagor Isan memilih untuk tetap konservatif dalam berbisnis. Hal ini dikarenakan Isan yang sekarang telah menjadi haji, merupakan karakter yang sangat sederhana dan kurang antusias ikut terjun dalam dunia persaingan bisnis yang menurutnya berlebihan.

Batagor Isan tetap disambangi orang banyak dan mampu memberikan penghidupan bagi kerabatnya dirasakannya sebagai anugerah yang tidak akan habis ia syukuri keberadaannya. Sosok Haji Isan yang sekarang berusia 70 tahun masih mewarnai perkembangan bisnisnya, namun kegiatan operasional sehari-hari telah lama ia serahkan pada orang-orang kepercayaannya yang muda-muda dan enerjik seperti sosok mas Nano yang ia serahi mengelola yang di Jalan Bojongloa.

Sosok Bapak Batagor ini sekarang tinggal tetirah di kampung halamannya, jauh dari Bandung, untuk menyerahkan hidupnya melayani berbagai kegiatan sosial keagamaan. Jauh dari kesan jumawa bahwa beliau adalah pencipta kuliner yang sekarang telah menjadi salah satu ikon kuliner kota Bandung.

Isan tidak mengira sisa dagangan yang ia olah kembali ternyata lebih enak dan lebih laku dibandingkan bentuk sebelumnya, tidak juga ia berangan jauh bahwa penganan yang ia ciptakan mampu memberikan warna kuliner pada kota yang ia cintai, Bandung.

Itulah momen bersejarah yang terjadi ketika ia menciptakan Batagor. Dan Batagor Bandung sekarang ini telah merambah ke mancanegara. Beberapa toko online telah menjualnya dengan serius seperti www.batagorbandung.com. Sudah saatnya batagor menampilkan diri lebih ke depan dan elegan, ini adalah kekayaan kuliner khas Bandung yang patut dicatat dengan garis tegas, sebelum ada pihak lain yang mengakuinya.

Siomay dan Batagor

Siomay dan batagor (bakso tahu goreng) merupakan makanan yang tidak terpisahkan. Dimana ada siomay biasanya ada batagor. Kedua makanan ini memang mirip. Bedanya, siomay dibuat dengan cara dikukus, sedangkan batagor digoreng. Keduanya disajikan dengan menggunakan bumbu kacang.

Bahan yang digunakan untuk membuat siomay dan batagor hampir sama, yaitu dengan ikan tenggiri, tepung kanji, tepung tapioka, dan tepung terigu. Bumbu yang digunakan antara lain gula, garam, bawang putih, bawang goreng, dan penyedap rasa. Bahan pelengkap siomay adalah tahu, kol, pare, kentang, dan telur ayam rebus.

Takaran komposisi bahan pembuat siomay dan batagor antarpedagang berbeda-beda. Hal ini berpengaruh terhadap kelezatan. Sebelum memutuskan berjualan sebaiknya mencobakannya kepada anggota keluarga atau kerabat untuk mengetahui kualitas dan kelezatannya.

Lokasi yang berpotensi untuk menjalankan usaha ini antara lain di pinggir jalan raya, daerah perkantoran, atau di sekitar sekolah dan perumahan. Pastikan lokasi mudah dijangkau dan terjaga kebersihannya.

Perlengkapan usaha ini antara lain gerobak atau etalase, peralatan masak (kompor dan tabung gas, panci, dandang, wajan, dan sutil), dan peralatan makan (piring, gelas, garpu, dan sendok). Diperlukan juga meja dan kursi secukupnya serta beberapa perlengkapan pendukung seperti tempat sendok, garpu, serta wadah saos dan kecap.

Untuk awal, usaha siomay dan batagor dapat dijalankan sendiri oleh pemiliknya. Bila usaha ini berkembang, barulah dapat merekrut tambahan tenaga untuk melancarkan operasional usaha.

Promosi usaha ini antara lain memasang spanduk di tempat usaha serta membuat tulisan produk yang dijual di gerobak. Selanjutnya, kelezatan rasa, kualitas, dan pelayanan yang memuaskan akan menciptakan promosi dari mulut ke mulut.

Harga satu porsi siomay dan batagor relatif murah. Berkisar antara Rp 5.000,- s/d Rp 7.000,- per porsi. Satu porsi siomay seharga Rp 7.000,- biasanya sudah dilengkapi dengan setengah atau satu butir telur ayam rebus.

Resiko usaha siomay dan batagor antara lain persaingan, kenaikan harga bahan baku, dan rasa yang kurang lezat. Resiko ini dapat diminimalisir dengan berjualan di lokasi strategis yang belum banyak penjual makanan ini.

Kenaikan bahan baku bisa disiasati dengan menjalin hubungan baik dengan supplier sehingga bisa mendapatkan harga spesial. Sedangkan resiko rasa yang kurang lezat dapat diantisipasi dengan cara membuat sample produk dan mencobakannya kepada orang di sekitar atau mereka yang memiliki pengetahuan cukup dan selera yang baik mengenai makanan.

Berikut tips dan trik usaha siomay dan batagor:

1. Variasi Penyajian Siomay dan Batagor. Makanan ini dapat disajikan dengan menggunakan kuah yang dibuat dari air kaldu dan penyedap rasa (mirip kuah bakso). Penjual siomay dan batagor di Bandung, biasanya menyediakan pilihan cara penyajian ini. Siomay atau batagor yang disajikan menggunakan kuah disebut siomay atau batagor kuah, sedangkan yang menggunakan sambal kacang disebut dengan siomay atau batagor kering.

2. Memisahkan siomay dan batagor dengan bumbunya untuk pembeli yang ingin menikmatinya di rumah, sehingga siomay tetap segar dan batagor tetap renyah saat hendak dikonsumsi.

3. Menyediakan aneka pelengkap siomay seperti tahu, kentang rebus, kol rebus, telur rebus, dan pare dapat memenuhi keinginan atau selera konsumen yang berbeda-beda.

Contoh Resep Siomay dan Batagor

a. Siomay

Bahan-bahan :

450 gram daging ikan tenggiri
400 gram tepung kanji
1 sdm tepung terigu
2 butir telur
4 sdm bawang goreng
4 siung bawang putih
Garam dan penyedap rasa secukupnya

Cara membuat :

1. Masukkan semua bahan ke dalam food processor, lalu proses hingga benar-benar halus.
2. Bentuk bulat atau lonjong ukuran sedang (sesuai selera). Lakukan hingga adonan habis.
3. Kukus menggunakan dandang hingga matang, lalu angkat.
4. Letakkan beberapa siomay di piring datar, potong-potong, lalu siram dengan bumu kacang.

b. Batagor

Bahan-bahan :

100 gram daging ikan tenggiri
100 gram tepung tapioka atau tepung sagu
5 lemba kulit pangsit
5 buah tahu, potong segitiga
100 ml air es
1 batang bawang daun, iris halus

Bumbu :

1 sdt garam
2 sdt gula pasir
1 siung bawang putih, parut halus

Cara membuat :

1. Haluskan daging ikan tenggiri, air, dan bumbu menggunakan food processor atau blender. Tuangkan ke dalam wadah, tambahkan tepung tapioka, lalu aduk hingga rata.
2. Masukkan daun bawang, lalu aduk hingga rata.
3. Ambil tahu yang telah dipotong segitiga. Keluarkan sebagian bagian tengahnya, kemudian masukkan adonan.
4. Siapkan kulit pangsit. Beri adonan secukupnya di bagian tengah. Lipat hingga adonan benar-benar terbungkus.
5. Goreng batagor menggunakan minyak panas hingga matang. Lalu angkat.
6. Taruh beberapa buah batagor di piring datar, potong-potong, lalu siram dengan bumbu kacang.

c. Bumbu kacang:

300 gram kacang tanah goreng
2 buah cabai merah
5 siung bawang putih
100 gram gula merah
2 lembar daun jeruk purut, buang tulang daunnya, iris-iris
2 sdm saos tomat
2 sdm saos sambal
400 ml air matang

Cara membuat :

1. Haluskan semua bahan menggunakan blender.
2. Masak dengan api sedang hingga mendidih dan bumbu mengental.

Analisis Usaha Siomay dan Batagor

Gambaran perhitungan usaha siomay dan batagor

Analisis Usaha Siomay dan Batagor

Asumsi :

1. Masa pakai etalase 5 tahun.
2. Masa pakai peralatan masak (kompor dan tabung gas, panci, dandang, wajan, dan sutil) 3 tahun.
3. Masa pakai peralatan makan (piring, gelas, sendok, dan garpu) dan perlengkapan lain-lain (tempat tissue, tempat sendok dan garpu, serta wadah kecap dan saos) 2 tahun.
4. Masa pakai meja dan kursi 4 tahun.

a. Biaya Investasi :

Etalase Rp 3.000.000,-
Peralatan masak Rp 1.000.000,-
Peralatan makan Rp 200.000,-
Meja dan kursi Rp 500.000,-
Perlengkapan lain-lain Rp 100.000,-
Total investasi Rp 4.800.000,-

b. Biaya Operasional per Bulan

1. Biaya Tetap
Penyusutan etalase (1/60 x Rp 3.000.000,-) Rp 50.000,-
Penyusutan peralatan masak (1/36 x Rp 1.000.000,-) Rp 27.800,-
Penyusutan peralatan makan (1/24 x Rp 200.000,-) Rp 8.300,-
Penyusutan meja dan kursi (1/48 x Rp 500.000,-) Rp 10.400,-
Penyusutan perlengkapan lain-lain (1/24 x Rp 100.000,-) Rp 4.200,-
Biaya sewa lahan Rp 300.000,-
Upah 1 orang karyawan Rp 500.000,-
Total biaya tetap Rp 900.700,-

2. Biaya Variabel
Bahan baku (Rp 250.000,-/hari x 30 hari) Rp 7.500.000,-
Gas (Rp 15.000,-/3 hari x 10 hari) Rp 150.000,-
Keamanan, listrik, dan kebersihan Rp 50.000,-
Total biaya variabel Rp 7.700.000,-
Total biaya operasional Rp 8.600.000,-

c. Penerimaan per Bulan

Batagor (30 porsi x Rp 6.000,-/porsi x 30 hari) Rp 5.400.000,-
Siomay (30 porsi x Rp 6.000,-/porsi x 30 hari) Rp 5.400.000,-
Total penerimaan Rp 10.800.000,-

d. Keuntungan per Bulan

Keuntungan = Total penerimaan - total biaya operasional
= Rp 10.800.000,- - Rp 8.600.700,-
= Rp 2.199.300,-

e. Revenue Cost Ratio

R/C = Total penerimaan : total biaya operasional
= Rp 10.800.000,- : Rp 8.600.700,-
= 1,25

f. Pay Back Period

Pay back period = (Total biaya investasi : keuntungan) x 1 bulan
= (Rp 4.800.000,- : Rp 2.199.300,-) x 1 bulan
= 2,2 bulan
(fn/mh/sq) www.suaramedia.com

No comments: