Wednesday, August 24, 2011

Usaha Tambal Ban



Tukang tambal ban oleh sebagian orang masih dia anggap pekerjaann remeh dan dipandang sebelah mata. Duduk di pinggir jalan sambil termangu menanti kendaraan yang ban kempes untuk sekedar isi angin atau menambal. Tapi dibalik kesederhanaan seorang tukang tambal, justru jasanya sangat diperlukan oleh ratusan bahkan ribuaan pengguna jalan. Bisa dibayangkan walaupun mobil atau motor bermerk dengan harga ratusan juta tanpa angin yang tersimpan di ban yang membawanya,
maka apalah guna mobil atau motor tersebut. Satu-satunya jalan adalah dengan bantuan tukang tambal yang siap untuk memperbaikinya.

Jika dilihat dari kaca mata bisnis justru usaha tambal ban sangatlah menjanjikan dan menguntungkan. Kita lihat saja bahwa volume alat transportasi seperti motor dan mobil semakin hari semakin bertambah banyak. Apa lagi dikota-kota besar, kemacetan terjadi dimana-mana karena saking banyaknya jumlah kendaraan yang sedang mobile. Kondisi ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang bisnis yang amat bagus, mulai dari montir, cuci motor dan mobil, dan juga tambal ban.


Konsumen bisnis jasa tambal ban adalah para pengguna motor maupun mobil yang berlalu lalang di jalan. Kemungkinan terjadinya ban bocor, diluar kendali seseorang. Jadi semua orang membutuhkan jasa tambal ban.

Untuk menjadi seorang Tukang Tambal Ban harusmempunyai bekal sebagai berikut:


Perkakas

1. Kompresor / pompa tangan jika sekedar sepeda motor

2. Kompor pembakaran

3. Pembuka ban

4. Tempat air

5. Karet penambal

6. Gergaji

7. Siritus (bahan bakar)


Cara Menambal

1. Buka ban dalam dari roda


2. Isi angin dan masukan air untuk mencari posisi sebelah mana yang bocor


3. Kerik bagian yang bocor dengan gergaji kira-kira radius 2 cm dari yang bocor


4. Beri lem dan potongkan karet penambal


5. Pasang di kompor pembakaran dengan posisi karet penambal ada di bagian bawah atau berhubungan langsung dengan alas yang dipanaskan. Untuk menghindari lengketnya karet penambal dengan alas, bisa di pakai bekas kaleng minuman ringan sebagai tambahan alas atau dengan diusapi sabun colek

6. Bakar kompor pembakar

7. Deteksi panas yang ada jangan sampai terlalu panas, ini bisa barakibat akan membakar ban dalam. Cara mengetahui apabila sudah masak dengan di kasih cipratan air, bila sudah menggulung bagai bola berarti suda masak

8. Angkat ban dalam dan masukan air untuk mendinginkan

9. Pasang kembali ban dalam pada roda dan isi angin sesuai ukuran yang direkomendasikan untuk kendaraan tersebut


Dengan tahapan seperti di atas maka usaha tambal ban sudah bisa berjalan . Untuk tambal ban tubles akan dibahas pada kasempatan lain.

Peluang Usaha Bisnis Tambal Ban Dan Tubeles Motor
Share
0
email
Do you like this story?

Peluang Usaha Bisnis Tambal Ban Dan Tubeles Motor
Terdengar sepele memang, mungkin ada yang mengatakan ini adalah bisnis tambal ban ini, tapi jangan salah bisnis ini ternyata bisa menjadi peluang Anda modal awalnya pun terjangkau Anda cukup mengeluarkan modal sebesar Rp. 2.155,000,

Dengan dana tersebut Anda bisa membeli kompresor seharga 1,300,000, selang angin ukuran 10 meter ditambah dengan tensi angin Rp.125.000, palu dan aneka kunci lengkap ( Kunci T, Kunci Pas, Kinci Inggris, dan kunci roda, palang, kuas, kotak kayu, dongkrak, congkelan,ban, ember, dan alat bakar ban) seharga Rp. 650,000, lalu Anda juga harus membeli bahan yang habis di pakai Rp. 80,000, cacing tubles 2 pak masing – masing isi nya ada 5 buah, karet tambal ban 1 lembar, dan terakhir lem ruber.

Jangan remehkan potensi keuntungan dari jenis usaha ini. Dengan ongkos jasa tambal ban saat ini Rp.6000 per lubang untuk tambal biasa, dan Rp.10 ribu untuk tambal tubeles.

Proyeksi keuntungan dan balik modal
Omset per hari Rp. 80,000
omset perbulan Rp. 2,400,000

Pengeluaran perbulan :
Belanja 1 lembar tambal ban Rp.40,000
cacing tubeles ban 4 pak @ Rp. 15,000 = Rp 60,000
Bensin Rp 30,000
Minyak tanah Rp. 8500

Total Pengeluaran Rp. 138,500

Keuntungan Rp, 2,400,000 – 138,500 = Rp. 2,261,500

Balik modal dalam waktu 1 bulan.

Semoga bisa menjadi inspirasi untuk Anda.

No comments: