Friday, July 15, 2011

Tips: Bagaimana memoles anak agar menjadi Kreatif

Orang tua mana yang tidak senang memiliki anak sehat dan cerdas. Sama halnya setiap orang tua pasti bangga jika anak mereka memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Sebab anak kreatif memiliki kemampuan mendisain apa saja menjadi sesuatu yang baru tetapi bermanfaat. Sebuah tutup botol bekas misalnya, ditangan anak-anak kreatif akan berobah menjadi mainan yang mengasyikkan (lihat gambar). Begitu pula kaleng bekas, mainan bekas, ban sepeda bekas, dsb. Keseluruhan barang bekas tersebut ditangan anak-anak kreatif dijamin tidak akan terbuang sia-sia. Karena dengan sentuhan imajinasi mereka barang- barang itu akan menjadi berguna kembali.

Banyak asumsi yang berkembang bahwa sifat kreatif merupakan sifat bawaan turunan dari keluarga yang jenius. Atau ada juga yang berpendapat bahwa anak kreatif miliknya anak yang pintar dan cerdas saja. Pendapat tersebut tidaklah seratus persen salah. Akan tetapi tidak pula mutlak kebenarannnya.

Menurut ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSTI) Jakarta, DR. Sukro Muhab , pada seminar pendidikan yang digelar pada Minggu ( 26/6) lalu di Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumatera Utara, yang bertema ORANG TUA AKTIF, ANAK KREATIF, proses kreatif bukan didominasi oleh anak cerdas semata karena setiap anak, bahkan dengan kemampuan intelektual sedang, mampu menjadi kreatif asal pola pembinaaan yang dilakukan oarang tua tepat dan terarah .

Mengacu kepada pendapat ahli diatas, timbul pertanyaan bagaimana pola yang bisa diterapkan agah anak-anak kita menjadi manusia-manusia yang kreatif ? Dalam sebuah buku yang berjudul Creativity Quoteient, yang dtulis oleh Triantoro Safaria merinci ada 5 point yang bisa diterapkan orang tua agar buah hati mereka menjadi super kreatif. Ke lima poin tersebut adalah :

Menyediakan tempat yang aman bagi anak dalam mengekspresikan kemampuan kreatifnya. Tugas orang tua hanya sebagai pemantau memastikan anak bekerja dengan bahan dan alat yang aman untuk anak seusia mereka. Jika memakai alat yang berbahaya perlu penjelasan yang masuk akal mengapa alat tersebut tidak cocok dipakai. Dengan demikian anak tidak ”marah” dan semangat untuk berkresi tetap terjaga.

Tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang proses kreatifitas anak.

Untuk memaksimalkan potensi kreativitas anak perlu disediakan alat dan sarana yang tepat. Anak yang hoby musik misalnya, orang tua harus menyediakan alat musik dan memberi waktu yang cukup bagi anak untuk memainkannya. Tanpa semua itu proses kreatifitas mereka akan layu sebelum berkembang.

3. Memotivasi anak ketika dia mulai putus asa

Terkadang si anak mengalami frustasi dalam proses kreatifnya. Jangan biarkan kondisi ini berlarut-larut agar tidak menghambat proses berkreasi. Apalagi saat anak kalah dalam suatu lomba, maka kewajiban orangtua menegaskan bahwa proses kreatif adalah lebih penting daripada kemenangan itu sendiri. Terangkan bahwa untuk bisa berhasil sudah semestinya mengalami kegagalan dulu. Biarkan dulu anak mengungkapkan frustasinya dan tunjukkan rasa empati kepadanya.

4. Mengembangkan aliran gagasan

Aliran gagasan bisa dikembangkan dengan membuat catatan ide -ide kreatifnya, menggunakan waktu tertentu untuk proses kreatif dan menentukan batas waktu, target, dan tentu saja meyakinkan kepada anak bahwa setiap anak bisa menjadi kretif.

5. Komitmen pada moral yang baik

Anak perlu diajarkan untuk menghargai kejujuran, mau mengakui kelebihan temannya , serta tidak sombong atau menganggap rendah orang lain. Prinsip dasar moral ini harus ditanamkan sejak dini karena jika tidak dengan daya kreatifitas yang tinggi kemungkinan besar anak akan menjadi sombong dan bisa jadi kemampuannya tersebut akan mengarah kepada hal-hal negatif yang merusak lingkungan.

Sekali lagi beragam cara bisa dilakukan para orang tua untuk memoles anak menjadi kreatif. Apa yang di sajikan di atas hanya satu dari sekian banyak cara tersebut. Yang terpenting adalah jangan menuding anak lambat atau tidak kreatif hanya berdasarkan angka akademik di rapor mereka. Karena kerja kreatif adalah domainnya otak kanan sedang kemampuan akademis ada di otak kiri.

Selain daripada itu kedekatan orang tua dengan anak, memiliki kredibilitas yang tinggi, membantu anak mengenal dirinya sendiri, mengembangkan potensi yang dimiliki anak, serta menolong mereka dalam merancang tujuan hidup adalah beberapa cara lain yang sangat efektif dalam membangun daya kreatifitas seorang anak.

No comments: